Tak Cuma Penanganan, Pemkot Jogja Bentuk Akademi Khusus Cegah Stunting Baru
WARTAJOGJA.ID— Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD) Persiapan Penyelenggaraan Outcome-Based Learning (OBL) Akademi Pencegahan Stunting di Ruang Yudhistira, Balai Kota Yogyakarta, Selasa (29/9/2026).
Langkah strategis ini digulirkan untuk menggeser fokus penanganan stunting dari koreksi kasus lama menuju tindakan preventif intervensi pranikah dan prakonsepsi.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan pentingnya mengubah paradigma penanganan stunting secara biologis dan manajerial. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan koreksi pada anak yang sudah terlanjur mengalami stunting berada pada tingkat yang cukup rendah.
"Mengatasi stunting yang sudah terjadi itu keberhasilannya rendah, hanya sekitar 20 persen. Kalau kita ketemu anak umur tiga atau empat tahun stunting, mengejar koreksinya itu sulit. Tetapi kalau kita bisa mencegah lahirnya stunting baru, keberhasilannya bisa mencapai 80 persen," ujar Hasto Wardoyo saat memberikan sambutan.
Lebih lanjut, Hasto menjelaskan bahwa kunci keberhasilan pencegahan berada pada fase pranikah dan intervensi pasangan muda. Dari sekitar 1.600 pasangan yang menikah setiap tahunnya di Kota Yogyakarta, sebanyak 80 persen di antaranya mengalami kehamilan pada tahun pertama. Angka tersebut menyumbang sekitar 1.200 dari total 2.000 kehamilan tahunan di wilayah tersebut.
"Oleh karena itu, intervensi seperti pemeriksaan kesehatan, pemenuhan gizi, hingga penanganan anemia pada calon pengantin menjadi sangat krusial sebelum masuk masa hamil. Konsep mencegah ini harus kita treatment di segmen yang tepat melalui konvergensi seluruh stakeholder," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Plt Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Pusat, Yuni Hastutiningsih, menekankan perlunya sinergi lintas sektor berbasis data aktual. Berdasarkan data pendataan keluarga, terdapat lebih dari 8,1 juta keluarga berisiko stunting di Indonesia yang dipicu oleh keterbatasan sanitasi, air bersih, hingga usia pernikahan yang terlalu muda.
"Evaluasi kita menunjukkan bahwa intervensi selama ini masih terlalu berorientasi pada panganan yang sudah stunting, bukan pencegahan. Melalui OBL Akademi Pencegahan Stunting ini, kita harapkan setiap pembelajaran menghasilkan aksi perubahan layanan yang dapat diverifikasi dan dirasakan langsung oleh keluarga sasaran," tegas Yuni Hastutiningsih secara daring.
Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Yogyakarta, Sarwanto, menyampaikan optimisme atas pelaksanaan program terpadu ini di tingkat aparatur sipil negara. Struktur kurikulum OBL dirancang efisien mencakup 366 jam pelajaran (JP) bagi pejabat pengawas dan aparatur lintas dinas.
"Kami yakin Kota Yogyakarta yang tidak terlalu luas dengan jangkauan yang terukur bisa menjalankan ini dengan baik jika kita serius. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi ASN, tetapi ditargetkan langsung untuk mencapai zero kasus baru stunting di Kota Yogyakarta," tutur Sarwanto.
Post a Comment