News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

PDAM Mati Total Sebulan, Gandung Pardiman Turun Tangan Salurkan 20 Tangki Air Bersih ke Panggang

PDAM Mati Total Sebulan, Gandung Pardiman Turun Tangan Salurkan 20 Tangki Air Bersih ke Panggang


​WARTAJOGJA.ID — Kemarau panjang yang terus melanda Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memicu krisis air bersih yang kian memprihatinkan bagi warga Kapanewon Panggang. Meski sebagian pemukiman sudah terhubung jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), pasokan air mendadak terhenti hingga hampir satu bulan penuh, yang akhirnya memicu respons cepat dari Anggota Komisi VII DPR RI Gandung Pardiman bersama Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DIY Syarif Guska Laksana dengan menerjunkan bantuan 20 tangki air bersih pada Rabu (30/9/2026).

​Penyaluran puluhan tangki air bersih tersebut difokuskan untuk menyuplai kebutuhan mendesak warga di lima wilayah Kapanewon Panggang. Langkah darurat ini ditempuh mengingat Panggang menjadi salah satu kawasan dengan tingkat kekeringan paling parah, di mana pasokan air pipa tak lagi dapat diandalkan oleh masyarakat setempat.

​Syarif Guska Laksana menegaskan bahwa aksi sosial di Panggang ini merupakan kelanjutan dari gerakan tanggap kekeringan yang sebelumnya telah menyasar beberapa titik di Kabupaten Bantul. Menurut Syarif, keberadaan jaringan pipa pipa PDAM saat ini belum bisa menjamin ketersediaan air harian warga secara optimal akibat merosotnya debit sumber air di musim kemarau.

​"Kemarin penyaluran sudah dilakukan di beberapa tempat di Bantul, dan hari ini kami lanjutkan. Lokasi Panggang ini dipilih karena merupakan salah satu daerah yang terdampak kekeringan paling parah. Meskipun sudah ada jaringan air dari PDAM, namun pada musim kemarau ini jarang mengalir," tutur Syarif di sela-sela penyaluran bantuan.

​Pernyataan senada disampaikan Relawan GPC Handayani, Haryanto, yang mengodekan bahwa krisis ini dipicu oleh penurunan debit air baku secara drastis, sehingga pipa distribusi ke pemukiman warga lumpuh total.

​"Debit air PDAM saat ini sangat menurun akibat kemarau panjang, sehingga suplai tidak maksimal. Bahkan ada yang baru mengalir sekali dalam dua minggu, bahkan sebulan tidak mengalir sama sekali," terang Haryanto mengenai kondisi teknis di lapangan.

​Kondisi kelangkaan air ini kian memperberat beban ekonomi warga sekitar. Selain harus memutar otak mencari pasokan air untuk memasak dan minum, warga mengeluhkan kewajiban membayar tagihan langganan bulanan PDAM yang dinilai tak sebanding dengan layanan yang diterima.

​Ngatini, seorang warga Sawahan, Panggang, meluapkan keluh kesahnya karena terpaksa mengeluarkan beban finansial ganda demi memenuhi kebutuhan pokok rumah tangganya.

​"Sudah sebulan air tidak mengalir, tapi tetap harus bayar sekitar Rp65 ribu setiap bulan. Kalau butuh air bersih, kami terpaksa membeli air bersih tangki dengan harga Rp150 ribu per tangki," keluh Ngatini.

​Menanggapi jeritan dan beban ganda yang dipikul warga Panggang, Gandung Pardiman memastikan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan berkomitmen terus mengawal krisis air bersih yang melanda wilayah DIY tersebut.

​"Kami akan terus memantau perkembangan di wilayah ini yang mengalami krisis air bersih," tegas Gandung Pardiman, menekankan pentingnya kehadiran bantuan darurat guna meringankan beban hidup masyarakat di tengah kemarau panjang.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment