News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Membaca Jeda Sebat(ang): Bicara di Balik Asap Karya Andry Prasetiyo

Membaca Jeda Sebat(ang): Bicara di Balik Asap Karya Andry Prasetiyo

WARTAJOGJA.ID : Bangun pagi, bekerja, mengejar kebutuhan rumah tangga, membayar tagihan, menghadapi persoalan pekerjaan, lalu pulang dan tetap harus menjadi suami sekaligus ayah yang tampak baik-baik saja. 

Besok semuanya diulang. Tidak ada yang benar-benar bertanya apakah kita masih sanggup. Sebab dalam kehidupan orang dewasa, terutama kepala keluarga, kemampuan untuk terus berjalan sering dianggap sebagai kewajiban.

Di tengah rutinitas semacam itu, Jeda Sebat(ang): Bicara di Balik Asap karya Andry Prasetiyo datang bukan dengan petuah tentang bagaimana menjadi lelaki yang lebih kuat. Buku ini justru menawarkan sesuatu yang lebih sederhana, tentang berhenti sebentar.

Sebatang rokok dalam buku ini bukan semata-mata benda yang dibakar dan dihisap. Ia menjadi metafora tentang jeda. Tentang beberapa menit ketika seseorang boleh meletakkan pekerjaannya, menanggalkan perannya, dan sekadar menjadi dirinya sendiri. Di situlah buku ini menemukan kekuatannya.

Andry seperti memahami bahwa manusia dewasa tidak selalu membutuhkan solusi. Kadang ia hanya membutuhkan ruang untuk mengeluh tanpa dianggap lemah. Membutuhkan teman untuk berbicara tanpa harus menyusun kalimat yang terdengar bijaksana. Membutuhkan waktu untuk diam tanpa ditanya sedang memikirkan apa.

Jeda Sebat(ang) berbicara kepada mereka yang lelah, terutama para kepala keluarga yang setiap hari berdiri di garis depan kehidupan rumah tangga. Mereka yang harus tampak kuat ketika anak membutuhkan kepastian, ketika pasangan membutuhkan perhatian, dan ketika pekerjaan menuntut tenaga yang rasanya sudah habis sejak pagi.

Buku ini mengingatkan bahwa menjadi kepala keluarga tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap kelelahan. Justru di situlah persoalan yang menarik muncul. Banyak lelaki dibesarkan dengan keyakinan bahwa persoalan harus diselesaikan, bukan diceritakan. Kesedihan harus disimpan, bukan dibagikan. Kegagalan harus ditelan, bukan diratapi. Akibatnya, tidak sedikit lelaki memiliki banyak tanggung jawab tetapi sedikit ruang untuk berbicara tentang dirinya sendiri.

Asap dalam buku ini kemudian menjadi simbol yang cukup kuat. Ia naik perlahan, menghilang, dan tidak pernah benar-benar bisa digenggam. Seperti persoalan hidup yang kadang hanya bisa direnungkan tanpa segera menemukan jawaban.

Tentu, buku ini tidak perlu dibaca sebagai pembenaran terhadap kebiasaan merokok. Jika rokok ditempatkan sebagai tujuan, gagasan buku justru menjadi sempit. Yang lebih penting adalah fungsi rokok sebagai medium naratif untuk menghadirkan suasana jeda. Sebab orang yang tidak merokok pun tentu memiliki bentuk jedanya sendiri; kopi, perjalanan malam, duduk di teras, mendengarkan musik, atau sekadar memandangi langit tanpa melakukan apa-apa. Yang dicari sebenarnya bukan rokok. Yang dicari adalah kesempatan untuk berhenti.

Di balik buku tersebut, sosok Andry Prasetiyo juga menarik untuk diperhatikan. Ia datang dari jalur politik dan aktivitas sosial. Dunia yang membuat seseorang berhadapan dengan gagasan, kepentingan, kekuasaan, konflik, serta manusia dengan berbagai kepentingannya. Kini ia memasuki jalur literasi.

Namun, perpindahan tersebut tidak tepat jika dibaca sebagai kepergian Andry dari politik. Ia justru seperti sedang mengambil jalan memutar untuk melihat politik dari jarak yang berbeda.

Jika politik mempertemukan seseorang dengan struktur dan kekuasaan, literasi memberinya kesempatan untuk melihat manusia yang berada di dalam struktur tersebut. Politik berbicara tentang keputusan dan kepentingan, sementara tulisan dapat berbicara tentang kegelisahan yang muncul setelah keputusan itu dibuat. Dengan menulis, Andry tidak harus meninggalkan politik. Ia hanya mengubah cara berhadap-hadapan dengannya.

Di sini Jeda Sebat(ang) menjadi lebih dari sekadar buku refleksi personal. Ia dapat dibaca sebagai catatan seseorang yang pernah cukup dekat dengan dunia politik dan kemudian memilih memahami kehidupan melalui cerita, percakapan, dan pengalaman manusia sehari-hari.

Pilihan tersebut membuat buku ini terasa relevan bagi pembaca yang sudah jengah dengan bahasa-bahasa besar. Kita terlalu sering mendengar kata perjuangan, perubahan, idealisme, pengabdian, dan masa depan. Namun, jarang sekali kita membicarakan manusia yang menjalankan semua itu; manusia yang bisa lelah, kecewa, marah, kehilangan kawan, pulang ke rumah dengan pikiran penuh, lalu esok paginya kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa.

Andry membawa percakapan itu ke ruang yang lebih intim. Ia tidak sedang mengatakan bahwa hidup akan menjadi mudah setelah seseorang mengambil jeda. Buku ini juga tidak menawarkan formula untuk menyelesaikan semua masalah. Justru karena itulah gagasannya terasa masuk akal. Ada persoalan yang memang tidak selesai hanya karena kita duduk sebentar. Tetapi manusia bisa mendapatkan tenaga untuk menghadapinya kembali.

Mungkin itulah inti Jeda Sebat(ang). Kita hidup dalam zaman yang memuja produktivitas. Kita diminta terus bekerja, terus bertumbuh, terus mengejar, terus memperbaiki diri. Bahkan istirahat pun kadang harus dibuat produktif.

Buku ini mengingatkan sesuatu yang sederhana bahwa tidak semua jeda harus menghasilkan sesuatu. Ada jeda yang cukup dijalani. Ada diam yang tidak membutuhkan kesimpulan. Ada percakapan yang tidak harus berakhir dengan solusi. Dan ada kelelahan yang tidak perlu segera disangkal.

Sebab barangkali menjadi dewasa bukan tentang selalu mengetahui bagaimana melanjutkan perjalanan. Kadang menjadi dewasa adalah keberanian untuk mengakui bahwa kita sedang lelah, kemudian berhenti sebentar tanpa merasa bersalah.

Sebatang rokok pada akhirnya akan habis. Asapnya menghilang. Percakapannya selesai. Tetapi setelah itu, seseorang kembali berdiri. Bukan karena hidup telah menjadi lebih ringan, melainkan karena ia sudah memberi dirinya sendiri kesempatan untuk bernapas.

Dan mungkin, untuk sebagian orang yang terlalu lama menjadi kuat, jeda semacam itulah yang sebenarnya paling mereka butuhkan.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment