News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Lewat Sidoherbalpedia, Bos Sido Muncul Ajak Pelaku UKM Tak Ragu Garap Pasar Jamu

Lewat Sidoherbalpedia, Bos Sido Muncul Ajak Pelaku UKM Tak Ragu Garap Pasar Jamu


WARTAJOGJA.ID : Direktur Utama PT Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat hadir sebagai pembicara dalam seminar Festival Jamu Nusantara 2026 yang digelar dalam rangkaian Dies Natalis ke-64 Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta Jumat, 17 Juli 2026.

Dalam seminar yang diikuti ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, pelaku UMKM, akademisi, komunitas, hingga dokter itu, Irwan memaparkan materi bertema Hilirisasi Jamu: dari Kekayaan Alam dan Tradisi menuju Pasar Global.

​Direktur Utama PT Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat mengungkapkan melalui forum itu, ia ingin mahasiswa, pelaku UMKM, dan masyarakat luas tahu bagaimana cara mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang ada menjadi herbal yang bermanfaat  dan praktis digunakan dari sudut pandang pengusaha. 

"Kekayaan alam kita dapat diolah agar bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat," kata Irwan.

Dalam paparannya, Irwan menuturkan sejarah perkembangan obat yang semula berasal dari herbal atau jamu.

"Sebelum tahun 1897, semua obat itu berasal dari jamu. Kemudian menjadi titik balik ketika orang Jerman mulai menemukan obat penurun panas dari Pohon Willow. Pohon ini diisolasi salah satu zatnya yang bernama Salisin, kemudian dibuat sintesisnya supaya murah," kata Irwan.

Ketika obat kimia mulai ditemukan itu, dalam perjalanannya, masyarakat mulai bergantung. Segala jenis penyakit makin banyak ditangani dengan obat kimia dan melupakan sumber utama yang berasal dari herbal.

"Padahal awalnya obat-obatan itu berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan, seperti penurun panas, obat kanker, obat hormon, dan lainnya," kata dia.

Kini, melalui Sido Muncul, Irwan pun berupaya membawa dunia pengobatan kembali memanfaatkan bahan alam, namun dengan standardisasi modern yang berbasis ilmiah. 

Irwan pun mengajak masyarakat mengenali dan mengetahui kekayaan alam di sekitarnya yang bisa dimanfaatkan untuk obat maupun menjaga kesehatan. Terlebih saat ini literasi soal itu sudah semakin banyak dan mudah diakses. Sehingga tak perlu susah payah melakukan riset atu penelitian sendiri, melainkan tinggal mempraktikkannya. 

​"Kalau melakukan riset berbasis ilmiah dan meneliti sendiri dari awal, untuk apa? Penelitian sudah dilakukan oleh banyak orang," kata Irwan.

​Untuk mempermudah masyarakat juga para pelaku usaha kecil agar tidak perlu mengulang riset dari awal, Sido Muncul kini telah meluncurkan portal edukasi khusus bernama sidoherbalpedia.com yang merangkum hasil peninjauan literatur (literature review), uji klinis, hingga uji praklinis dari 80 bahan baku jamu tradisional. Mulai tanaman Mahkota Dewa, Daun Katuk, Daun salam, temulawak hingga kunyit beserta detail morfologi, kandungan, dan mekanisme kerjanya. 


Melalui portal informasi tersebut, masyarakat dan para pelaku UMKM diharapkan dapat langsung mencari data berdasarkan jenis tanaman obat untuk mengetahui dosis dan tingkat keamanannya, sehingga mereka cukup fokus mempelajari cara memproduksi dengan benar tanpa terhambat biaya riset yang mahal.

​Irwan mencontohkan yang sudah dibuat.

"Saya membuat kumpulan perubahan bahan jamu, misalnya mahkota dewa, daun katuk, dan daun salam. Ini semua sudah ada uji preklinik dan uji kliniknya di dalam literatur. Saya membuat riset berdasarkan peninjauan literatur itu," ujar Irwan.

Portal ini, kata Irwan, memang bukan untuk jalur dokter. Melainkan untuk mengedukasi masyarakat. Fasilitas ini bisa digunakan oleh pelaku UKM. Mereka tinggal melihat di Sidoherbalpedia.com. 

"Misalnya untuk bahan temulawak, mereka bisa melihat prosesnya, uji keamanannya, dan daftar pustakanya di sana. Jadi, bisa dimanfaatkan oleh semua orang, termasuk pelaku UKM, tidak perlu meneliti sendiri atau merasa tidak percaya diri," ujar Irwan.

Pelaku UKM justru bisa mempraktikkan hal itu setelah melihat dan mempelajarinya.

​"Usaha kecil tidak perlu meneliti sendiri karena hanya akan mengulang-ulang hal yang sama," urainya.

"Kalau fitofarmaka, itu khusus untuk konsumsi dokter agar dokter percaya dan mau menggunakannya, maka harus ada fitofarmaka. Namun, masyarakat tidak memerlukan hal itu. Transformasi itu sebenarnya mudah karena penelitiannya sudah ada, tinggal mempraktikkannya. Jika orang berobat ke pengobat UKM ini, mereka sudah percaya. Jika membaca tentang temulawak dan yakin bahwa temulawak aman untuk indikasi tersebut, mereka bisa memberi tahu pasiennya,"

"Untuk pasar global, hal ini jadi sebuah peluang. Semua orang bisa mempraktikkannya, tidak perlu menunggu pabrik farmasi yang besar, masyarakat harus bisa. Cukup membaca informasi di Sidoherbalpedia.com, bisa mengetahui siapa penelitinya dan apa data pustakanya," kata dia.

Dalam forum itu, Irwan mengungkap​sekilas perjalanan Sido Muncul dalam menerapkan basis ilmiah dalam produksinya. Dimulai sejak tahun 1985 melalui dedikasi meniru standardisasi pabrik farmasi. Pada periode tahun 2002 hingga 2003, Sido Muncul mulai melakukan uji toksisitas pertama bekerja sama dengan Universitas Diponegoro (Undip) serta uji khasiat secara menyeluruh.

Pengalaman empiris diakui tidak buruk, namun tuntutan masyarakat modern mengharuskan adanya bukti ilmiah yang kuat. 

​Irwan Hidayat mengenang, "Semua diawali dari hal itu. Daripada meniru pabrik jamu yang belum tentu maju, saya mendedikasikan Sido Muncul agar berbasis ilmiah dan bukan sekadar berbasis empiris. Empiris tidak jelek, tetapi tuntutan masyarakat yang saling terhubung sekarang mengharuskan semuanya berbasis ilmiah. Cita-cita dari tahun 1985 itu akhirnya tercapai. Pada tahun 2002–2003, kami melakukan uji toksisitas pertama dengan Undip serta uji khasiat,"

"Kami melakukan semuanya berbasis ilmiah, sehingga saya sudah berbicara di Fakultas Kedokteran sebanyak 57 kali, dan di Fakultas Kedokteran UKDW ini adalah yang ke-58 kalinya. Modalnya nekat saja, tetapi saya punya trik. Jika bertemu dengan dokter, saya bilang bahwa saya tidak berjualan jamu, saya hanya ahli di bidang 3H: pegal linu, masuk angin, dan panas dalam," ujarnya.

Irwan mengungkap Sido Muncul bisa seperti hari ini karena awalnya belajar meniru standardisasi pabrik farmasi agar produk jamu berbasis ilmiah. 

"Kami melakukannya dengan susah payah melalui cara saya sendiri. Sampai hari ini, saya hanya meniru hal yang bagus. Saya tidak pernah kuliah, tidak pernah seminar, dan tidak pernah membaca buku akademis; bacaan saya komik. Terbukti saya bisa menjual jamu dan menjadi sukses karena meniru. Sejak tahun 2002, perusahaan kami mampu melakukan standardisasi. Kami mencari jalan untuk melakukan uji ilmiah, sebab menurut aturan, jamu sulit diuji ilmiah karena bahannya mengandung banyak zat aktif. Apalagi seperti Tolak Angin yang memiliki 13 macam bahan. Namun, kami memiliki cara untuk melakukan standardisasinya, dan hal itulah yang akhirnya membuat orang percaya kepada Sido Muncul," ujarnya.

​Untuk menunjang komitmen riset tersebut, PT Sido Muncul membangun fasilitas laboratorium yang lengkap sejak tahun 1997 saat mendirikan pabrik baru. Fasilitas tersebut mencakup laboratorium quality control, laboratorium produksi, laboratorium quality assurance, serta laboratorium Research and Development (R&D). Laboratorium ini menjadi jantung dari usaha karena ditunjang oleh peralatan mutakhir serta SDM mumpuni. 

Pada 9 Juni lalu, Sido Muncul meresmikan laboratorium farmakologi baru yang diresmikan langsung oleh Kepala Badan POM. Keberadaan laboratorium internal ini difungsikan untuk mendapatkan bukti efikasi secara cepat dan efisien tanpa terhambat oleh protokol birokrasi yang panjang. Tim peneliti R&D Sido Muncul melakukan pengujian mandiri untuk menguji kebenaran klaim-klaim herbal yang beredar di media sosial.

​Irwan Hidayat memaparkan, "Kami memiliki laboratorium yang lengkap, yaitu laboratorium kualitas (quality control), laboratorium produksi, laboratorium quality assurance, dan R&D (Research and Development). Jadi, pabrik jamu ini memiliki alat-alat yang lengkap saat dibangun pada tahun 1997. Kami membangunnya dengan lengkap karena membayangkan masa depan tidak akan sama seperti tahun 1998, di mana orang menerima jamu apa saja secara langsung," ujarnya.

Laboratorium lengkap ini sekarang menjadi jantung dari usaha Sido Muncul. 

"Karena roh dari setiap usaha adalah penelitian atau riset. Tanpa alat dan SDM yang mumpuni, kami tidak bisa seperti hari ini. Terakhir, kami meresmikan laboratorium farmakologi pada tanggal 9 Juni oleh Kepala Badan POM. Pabrik farmasi pun belum tentu semuanya memiliki laboratorium farmakologi sendiri. Saya membuatnya karena jika kami harus selalu lewat universitas eksternal, protokolnya panjang dan prosesnya lama. Padahal, saya adalah penganut paham yang mengutamakan kecepatan nomor satu."

​Irwan Hidayat menambahkan, "Masyarakat pada umumnya mencari sertifikat atau pengakuan formal. Namun, melalui laboratorium ini, saya ingin mendapatkan bukti nyata, bukan sekadar secarik kertas pengakuan. Oleh karena itu, saya melakukan uji-uji sendiri dengan cepat dan murah bersama tim R&D kami. Kami melakukan pengujian mandiri agar cepat mendapatkan bukti,"

Irwan mencontohkan misalnya, ada satu bahan yang di media sosial disebut bagus untuk mengatasi kencing manis. Pihaknya akan melakukan uji selama empat jam, dan hasilnya ternyata tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna apa-apa. 

"Jadi, informasi yang ada di dalam literatur media sosial itu ternyata ada juga yang tidak benar, dan saya membuktikannya sendiri melalui pengujian."

​Adapun Rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menyatakan apresiasi dukungan Sido Muncul dalam forum itu dan mendukung pengenalan dan penyebaran jamu di lingkungan akademis. 

"Komitmen UKDW adalah mengenalkan jamu di lingkungan kampus. Terima kasih untuk rangkaian acara Festival Jamu Nusantara ini, termasuk pengenalan situs sidoherbalpedia.com dan para mitra di Pusat Informasi Herbal," kata dia.

Wiyatiningsih mengatakan, UKDW bekerja sama dengan Dewan Jamu untuk menyebarkan pemanfaatan jamu agar lingkungan akademik dan generasi muda dapat mengenal jamu dengan lebih baik berdasarkan riset ilmiah yang valid seperti pemahaman mengenai syarat bahan baku dan proses pengolahan yang benar.

"Dengan demikian, semua pihak dapat berkiprah dalam memajukan jamu Indonesia ke kancah global dan menjaga kelestarian tradisi kita," kata dia.

Selain menjadi pembicara seminar untuk berbagi pengalaman mengenai hilirisasi jamu, Irwan Hidayat juga turut hadir langsung dalam Peresmian Pojok Jamu dan Taman Jamu yang berlokasi di Gedung Didaktos, Universitas Kristen Duta Wacana. Kehadiran pemimpin perusahaan jamu terkemuka ini bertujuan memberikan edukasi praktis bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment