Sido Muncul Dorong Hilirisasi Jamu Berbasis Ilmiah, Kuatkan Riset Laboratorium
WARTAJOGJA.ID – PT Sido Muncul menegaskan komitmennya dalam memimpin transformasi industri herbal nasional dengan mengandalkan fasilitas laboratorium riset internal sebagai jantung pergerakan bisnis.
Langkah strategis ini diambil guna memastikan seluruh produk jamu diproduksi berdasarkan pembuktian ilmiah yang kuat, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang luas bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Hal itu terungkap dalam Seminar bertajuk Transforming Jamu: Bridging Scientific Evidence and Global Market Opportunities yang digelar sebagai rangkaian Festival Jamu Nusantara 2026 dalam peringatan Dies Natalis ke 64 Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta pada Jumat, 17 Juli 2026.
Dalam kesempatan itu, Direktur Utama PT Sido Muncul, Dr. (H.C) Irwan Hidayat, memaparkan materi mengenai Hilirisasi Jamu: dari Kekayaan Alam dan Tradisi menuju Pasar Global.
Selain menjadi pembicara utama, kehadiran Irwan juga ditujukan untuk berbagi pengalaman, wawasan, serta pemikiran mengenai hilirisasi jamu, sekaligus menghadiri Peresmian Pojok Jamu dan Taman Jamu di Gedung Didaktos UKDW bersama Fakultas Kedokteran serta program studi Bioteknologi.
Irwan mengungkapkan bahwa kunci utama kepercayaan publik terhadap produk Sido Muncul selama ini terletak pada keberanian perusahaan dalam menerapkan standar industri farmasi sejak puluhan tahun lalu.
Sejak tahun 2002, perusahaan sudah mampu melakukan standardisasi karena kecekatan melakukan uji ilmiah.
Menurutnya, regulasi yang ada selama ini diakui cukup membuat jamu sulit diuji secara ilmiah karena mengandung terlalu banyak zat aktif.
Namun, Sido Muncul tetap mengacu standardisasi itu karena sudah bergerak untuk pengembangan infrastruktur riset yang masif sejak tahun 1997.
Fasilitas riset yang dibangun saat mendirikan pabrik baru tersebut mencakup laboratorium quality control, laboratorium produksi, laboratorium quality assurance, serta laboratorium Research and Development (R&D).
Irwan menjelaskan bahwa langkah membangun fasilitas lengkap itu diambil karena ia memprediksi masa depan industri herbal tidak akan sama lagi dengan kondisi tahun 1998, di mana saat itu masyarakat cenderung menerima produk jamu apa saja secara langsung tanpa banyak bertanya.
Laboratorium lengkap inilah yang kini menjadi jantung dari seluruh usaha Sido Muncul karena roh dari setiap bisnis modern adalah penelitian atau riset. Tanpa dukungan alat canggih dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni, Sido Muncul tidak akan bisa mencapai posisi seperti hari ini.
"Misi toksisitas yang pertama kami lakukan bersama Universitas Diponegoro (Undip), disusul uji khasiat, dan terus kami lakukan semuanya berbasis ilmiah. Hasilnya, saya sudah berbicara di hadapan Fakultas Kedokteran sebanyak 58 kali termasuk di UKDW ini," kata Irwan Hidayat dalam paparannya.
Penguatan sektor riset Sido Muncul kian solid melalui peresmian laboratorium farmakologi pada 9 Juni lalu yang diresmikan langsung oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Irwan menyebut keberadaan fasilitas ini sangat krusial mengingat belum tentu semua pabrik farmasi memiliki laboratorium farmakologi sendiri.
Keputusan membangun fasilitas internal ini didasari oleh prinsip kecepatan kerja yang dianutnya, sebab jika pengujian harus selalu melewati universitas eksternal, protokol yang dihadapi cenderung panjang dan memakan waktu lama.
Melalui laboratorium baru ini, tim R&D Sido Muncul dapat melakukan pengujian mandiri secara cepat dan murah untuk mengumpulkan bukti validitas efikasi produk.
Dalam operasionalnya, laboratorium farmakologi tersebut menerapkan metode inovatif yang efisien untuk menguji kebenaran klaim khasiat bahan herbal yang beredar di masyarakat maupun menyempurnakan produk internal.
Irwan mencontohkan, ketika menguji sebuah bahan yang diklaim di media sosial dapat mengatasi kencing manis, pengujian mandiri membuktikan bahwa bahan tersebut tidak memberikan pengaruh yang bermakna apa-apa.
Pengujian cepat juga diterapkan pada produk diare bernama SMBRB menggunakan hewan uji mencit yang diberi gula. Ketika formulasinya membutuhkan dosis hingga tiga kapsul seharga Rp 8.000 memberikan kesembuhan dalam waktu dua hari, pihak perusahaan langsung memodifikasi resep secara mandiri agar harganya turun.
Fleksibilitas riset internal ini dinilai menghemat biaya hingga ratusan juta rupiah dibandingkan jika harus mengikuti pakem farmakologi formal eksternal untuk kebutuhan publikasi ilmiah. Sido Muncul bahkan menciptakan istilah tersendiri yaitu "herbakologi" untuk menyebut metode produk mereka yang berbasis pembuktian mandiri tersebut.
Terobosan ramah lingkungan juga diterapkan dalam uji subkronis 90 hari produk energy drink pada mencit.
Untuk menghindari pembunuhan mencit secara berlebihan demi memeriksa fungsi ginjal melalui indikator ureum dan kreatinin yang membutuhkan sampel darah dari mata, Sido Muncul berinovasi menggunakan hewan uji kambing. Kambing memiliki volume darah yang besar sehingga sampelnya dapat diambil secara berkala selama satu bulan penuh tanpa harus mengorbankan nyawa hewan tersebut.
Pihak perusahaan bahkan menyediakan area pemakaman khusus tikus di pabrik sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi hewan uji dalam riset mereka.
Melalui kemandirian laboratorium riset ini, Sido Muncul juga berupaya memperluas pemanfaatan obat alam di masyarakat di luar kategori fitofarmaka yang biasanya khusus ditujukan untuk konsumsi dunia kedokteran.
Sebagai bentuk hilirisasi yang inklusif, Sido Muncul meluncurkan portal edukasi digital bernama sidoherbalpedia.com. Portal yang merangkum hasil peninjauan literatur (literature review), uji klinis, hingga uji praklinis dari 80 bahan baku jamu tradisional seperti kunyit, temulawak, dan sambiloto ini disediakan agar dapat diakses secara gratis oleh pelaku UMKM, komunitas, hingga para dokter tradisional.
Keberadaan portal ini memotong rantai riset yang berbiaya mahal bagi pelaku usaha kecil, sehingga mereka cukup fokus mempelajari cara memproduksi produk secara benar tanpa perlu melakukan penelitian ulang dari awal.
Menanggapi kolaborasi strategis tersebut, Rektor UKDW Yogyakarta, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., menyatakan apresiasi dan komitmen penuh dari pihak akademisi untuk menyebarluaskan pemanfaatan jamu berbasis ilmiah di lingkungan kampus. Kampus UKDW berkomitmen mengenalkan jamu di lingkungan kampus melalui rangkaian acara Festival Jamu Nusantara yang memfasilitasi exposure mengenai jamu, pengenalan situs sidoherbalpedia.com, serta kolaborasi bersama mitra-mitra di Pusat Informasi Herbal.
"Kami diajak oleh Dewan Jamu untuk bersama-sama menyebarkan pemanfaatan jamu dan memasyarakatkannya, supaya lingkungan akademik, mahasiswa, dan generasi muda dapat mengenal jamu dengan lebih baik berdasarkan riset ilmiah yang valid. Melalui pemahaman yang benar, semua pihak dapat berkiprah dalam memajukan jamu Indonesia sehingga ruang kontribusi terbuka bagi siapa saja, bukan cuma untuk usaha yang berskala besar," tutur Wiyatiningsih.
Post a Comment