Walking Open Laboratory (WOL):Membangunkan Seni Eksplorasi Imajinatif Dari Pendekatan Artistik
Caption - Penggagas Studi Penelitian Artistik, Ivan Idrish Hidayatulloh bersama komunitas Walking Open Laboratory (WOL). Foto (Dok. Ivan Idrish)
WARTAJOGJA.ID - Walking Open Laboratory (WOL) merupakan sebuah studi penelitian artistik yang digagas oleh Ivan Idrish Hidayatulloh. Program ini mengeksplorasi praktik berjalan bukan sekedar aktivitas fisik sehari-hari, melainkan sebagai pendekatan artistik untuk melihat, memahami dan memproduksi pengetahuan melalui pengalaman tubuh, persepsi, sensitivitas serta kerja bersama.
Berangkat dari gagasan “ berjalan - menemukan - membayangkan”, WOL menawarkan ruang eksplorasi yang menempatkan aktivitas berjalan sebagai metode penelitian artistik.
Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk membaca ruang, merefleksikan pengalaman, mengamati objek serta membangun kemungkinan-kemungkinan imajinatif terhadap masa lalu, masa kini dan masa depan.
Menurut Ivan, proyek ini tidak bermaksud untuk menggantikan praktik seni yang telah ada melainkan untuk memperluas cara memahami penelitian dan praktik seni melalui pengalaman ketubuhan.
"WOL juga berupaya mendistribusikan pengetahuan yang lahir dari pengalaman berjalan kepada publik melalui berbagai bentuk dokumentasi," jelas Ivan kepada Warta Jogja, Jumat (5/6/2026).
Program WOL terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Activation Session, Sensory and Participatory Objects dan Open Studio.
Ketiga komponen ini dirancang sebagai ruang eksperimen untuk mengembangkan pengetahuan artistik berbasis pengalaman berjalan.
Pada seri pertama berlangsung di Yogyakarta. Tepatnya pada hari pertama dilaksanakan di Studio Tari Pascasarjana sebagai activation session, kemudian pada hari kedua praktik berjalan diawali dari Pascasarjana ISI Yogyakarta menuju Masjid Kauman Yogyakarta sebagai sensory participatory objects.
WOL mengajak partisipan menelusuri lanskap urban melalui berbagai situasi, mulai dari gang, pasar hingga ruang-ruang kota yang memunculkan pengalaman baru dan ketidakhadiran memori tubuh.
Sementara itu, seri kedua akan berlangsung di wilayah desa di Bandung, dengan melibatkan komunitas lokal serta eksplorasi hubungan antara memori, ruang dan pengalaman keseharian masyarakat.
Melalui dialog antara ruang urban dan desa, WOL berupaya menghadirkan pemahaman yang lebih luas mengenai bagaimana tubuh, ingatan dan lingkungan saling membentuk pengalaman manusia.
Program ini juga membuka kemungkinan munculnya wacana baru tentang seni, imajinasi sosial serta cara-cara alternatif dalam memahami realitas.
Sebagai tahap lanjutan, hasil eksplorasi dari kedua seri tersebut akan dipresentasikan dalam Open Studio di Yogyakarta.
Ruang ini menjadi wadah refleksi proses kreatif, pengembangan bentuk presentasi serta distribusi pengetahuan yang lahir dari praktik berjalan bersama partisipan.
Rangkaian kegiatan WOL direncanakan berlangsung sepanjang Mei hingga Juli 2026, dengan target presentasi publik pada Juli 2026. Melalui pendekatan penelitian artistik yang terbuka dan partisipatif.
Walking Open Laboratory diharapkan dapat memperkaya diskursus seni kontemporer sekaligus menawarkan perspektif baru mengenai berjalan sebagai praktik pengetahuan.
Timeline:
30-31 Mei 2026: Activation Session & Sensory Participatory Objects ( Seri Yogyakarta)
13-14 Juni 2026: Activation Session & Sensory Participatory Objects (Seri Bandung)
6-20 Juli 2026: Open Studio (Pascasarjana ISI Yogyakarta) (*)
Post a Comment