Dinas Kebudayaan DIY Resmi Buka Seleksi Paduan Suara Gita Bahana Nusantara 2026
WARTAJOGJA.ID: Kesempatan emas untuk unjuk gigi di panggung kenegaraan kini kembali terbuka bagi generasi muda di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah daerah secara resmi telah membuka keran pendaftaran bagi pergelaran Audisi Paduan Suara Gita Bahana Nusantara 2026 sejak Jumat, 29 Mei 2026.
Ajang tahunan yang dibiayai menggunakan alokasi Dana Keistimewaan ini diarahkan untuk menjaring bakat muda lokal terbaik yang nantinya akan dikirim ke Jakarta. Pemenang utama dari empat kategori warna suara akan bertugas sebagai bagian dari tim nasional paduan suara pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka.
Pelaksanaan sosialisasi program ini sendiri diselenggarakan di Ruang Bima Kantor Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengusung tema besar Menjaring Talenta Muda DIY untuk Menggema di Istana Merdeka.
Kepala Seksi Seni Pertunjukan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Zita Uttungga Dewi Maharani menjelaskan bahwa tahapan registrasi daring dibuka mulai 29 Mei sampai dengan 6 Juli 2026 melalui tautan s.id/daftarGBNDIY2026. Setelah penutupan pendaftaran, para peserta diwajibkan mengikuti tes pengambilan nada dasar pada 9 Juli 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan agenda audisi utama pada 10 Juli 2026 di lokasi Kantor Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Kegiatan GBN ini merupakan wadah pembinaan karakter bangsa melalui ekspresi seni musik dan pertunjukan budaya yang melibatkan generasi muda berbakat usia 16 sampai dengan 23 tahun. Kegiatan ini merupakan kegiatan untuk mendukung rangkaian upacara detik-detik proklamasi 17 Agustus 2026 di Istana Merdeka Jakarta. Selain menjadi ruang pengembangan kemampuan musikal, program ini juga menjadi sarana memperkuat nasionalisme, kebersamaan, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika di kalangan generasi muda," tutur Zita saat ditemui pada Jumat, 29 Mei 2026.
Zita memaparkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penjaringan peserta kali ini adalah kewajiban kepemilikan Kartu Tanda Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta yang disyaratkan secara mutlak oleh pemerintah pusat. Regulasi ini kerap memicu kendala psikologis tersendiri bagi para pemuda asli daerah, mengingat status Yogyakarta sebagai kota pelajar yang dipenuhi pendatang.
"Sebenarnya kalau untuk seleksi GBN itu peminatnya banyak. Tetapi agak mengunci pada saat ada syarat harus KTP DIY. Jadi kalau pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, pada saat ini dibuka menjadi umum, itu pesertanya akan menjadi sangat besar. Tetapi begitu pusat memberikan ketentuan bahwa yang dikirimkan harus ber-KTP DIY, ini yang kadang-kadang membuat kami harus meyakinkan bahwa orang-orang asli DIY ini mampu untuk bersaing. Kadang-kadang mereka sudah minder duluan. Kenapa kami mengadakan sosialisasi ini? Supaya paling tidak info ini bisa sampai ke generasi muda secara lebih beragam lagi, supaya peserta yang mendaftar lebih banyak," ungkap Zita.
Meskipun terdapat hambatan psikologis, Zita menggarisbawahi bahwa kompetensi musikalitas pemuda lokal Yogyakarta sangat bersaing dan berada di atas rata-rata. Hal tersebut dibuktikan dengan keberhasilan daerah ini yang secara konsisten mampu mengirimkan formasi utuh empat rumpun suara yaitu Sopran, Alto, Tenor, dan Bass sejak tahun 2017 ke tingkat nasional untuk menjalani masa karantina. Komparasi materi ujian di wilayah ini bahkan menjadi barometer tersendiri bagi wilayah lain di Indonesia.
"Kalau untuk kualitas, bagus. Ini diakui oleh juri pusat di tahun kemarin, bahwa kualitas yang ada di DIY ini cukup berada di atas rata-rata. Jadi seleksi yang ada di DIY ini menjadi patokan juga untuk teman-teman di provinsi lain. Karena kalau di provinsi lain kemungkinan seleksinya terbatas dan yang diujikan juga terbatas. Tetapi di sini seleksinya lebih kompleks. Jadi memang perlu ada sosialisasi info tambahan supaya peserta ini tidak kaget. Karena tesnya tidak hanya sekadar bisa bernyanyi, tapi dia juga harus tahu prima vista, solfegio, dan segala macam," kata Zita menambahkan.
Untuk mengantisipasi ketidaksiapan teknis peserta, pihak dinas kebudayaan memberikan fasilitas tambahan berupa ruang bimbingan atau workshop kiat menghadapi seleksi yang akan diselenggarakan pada pertengahan Juni, tepatnya pada 20 Juni 2026.
Syarat kepesertaan ajang ini ditujukan bagi warga sipil berumur 16 hingga 23 tahun, berstatus belum menikah, serta memiliki kondisi kesehatan jasmani dan rohani yang prima.
Pihak penyelenggara juga telah menyiapkan stimulus berupa total hadiah uang pembinaan sebesar Rp62.000.000, lengkap dengan trofi plakat serta piagam penghargaan. Distribusi apresiasi dana tunai untuk masing-masing rumpun suara ditetapkan sebesar Rp5.000.000 bagi Juara I, Rp4.000.000 untuk Juara II, Rp3.000.000 bagi Juara III, Rp2.000.000 untuk Juara IV, serta Rp1.500.000 bagi peraih Juara V.
Proses penilaian kompetisi ini melibatkan lima orang anggota dewan juri, yang terdiri atas satu perwakilan juri pusat dan empat akademisi musik daerah, yakni Linda Sitinjak, Drijastuti Jogjaningrum, Retno Pujiwati, serta Pancasona Adji.
Salah satu anggota dewan juri yang juga berprofesi sebagai dosen seni musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Pancasona Adji memaparkan ragam instrumen krusial yang akan diujikan kepada seluruh pendaftar di atas panggung nanti.
"Aspek penilaian meliputi kualitas materi suara, teknik vokal, interpretasi, kepatuhan terhadap partitur, serta kemampuan membaca notasi musik. Mayoritas sudah menyiapkan, tapi setelah maju jadi grogi, akhirnya tidak bisa menunjukkan kemampuan. Untuk itu kesiapan harus benar-benar 100 persen agar kapasitas dan bakat bisa keluar sepenuhnya," papar Adji pada Jumat, 29 Mei 2026.
Rangkaian acara sosialisasi ini juga diramaikan oleh kehadiran dua orang pemenang utama dari periode kompetisi tahun lalu, yakni Juara I kategori Tenor Gita Bahana Nusantara DIY 2025 Gilbert Novaldo Tobing serta Juara I kategori Alto Gita Bahana Nusantara DIY 2025 Theodora Naraku Natanayla Putri, yang turut membagikan pengalaman taktis mereka selama mengikuti karantina nasional.
Post a Comment