Ramadan, SMK-SMTI Yogyakarta Perkuat Karakter Moderat dan Tauhid Siswa Melalui Pesantren Kilat
WARTAJOGJA.ID : SMK-SMTI Yogyakarta kembali menyelenggarakan agenda tahunan Pesantren Ramadan atau Pesantren Kilat sebagai upaya memperkuat karakter religius dalam moderasi beragama siswa pada masa Ramadan 2026 ini.
Guru Agama sekaligus Pembimbing Kerohanian SMK-SMTI Yogyakarta, Endah Yuli Astanti S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung pada 7-8 Maret kemarin tersebut diikuti oleh 310 siswa kelas 10, yang terdiri dari 222 siswa putra dan 88 siswa putri.
"Kegiatan yang telah rutin dilaksanakan sejak tahun 2005 ini menjadi ruang bagi siswa untuk mendapatkan cakrawala pendidikan keislaman yang lebih luas melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan eksternal," ujar Endah, Selasa, 10 Maret 2026.
Jika tahun sebelumnya bekerja sama dengan Masjid Syuhada, pada tahun ini sekolah menggandeng Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam (DPPAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Selama satu hari satu malam, para peserta mendapatkan bimbingan intensif yang diawali dengan sesi stadium general oleh M. Husnaini, S.Pd.I., M.Pd.I., Ph.D., yang merupakan dosen FIAI UII. Selain itu, hadir pula pakar Al-Qur'an dan Tilawah, Bilal Attaqi, yang memberikan ilmu baru mengenai pembacaan Al-Qur'an secara tartil.
Materi kemudian dilanjutkan ke dalam sesi klasikal yang diisi oleh jajaran akademisi lintas disiplin ilmu dari UII untuk memberikan wawasan yang komprehensif.
Para pemateri tersebut di antaranya adalah Saiful Aziz, S.H., M.H., dan Ahmad Zubaidi, S.Pd., M.Pd., dari FIAI, Dr. dr. Yaltafit Abror Jeem, M.Sc., dari Fakultas Kedokteran, serta Shubhi Mahmashony Harimurti, S.S., M.A., dari FMIPA. Selain itu, materi juga disampaikan oleh Willi Ashadi, S.H.I., M.A., dari FISB, serta Febrianti Nurul Hidayah, S.T., B.Sc., M.Sc. C.Text.ATI., dan Dr. Nur Wijayaning Rahayu, S.Kom., M.Cs., dari Fakultas Teknologi Industri.
Kehadiran para dosen ini memberikan variasi keilmuan mulai dari fikih harian hingga perspektif agama dalam teknologi dan kesehatan.
"Sasaran utamanya adalah sasaran akademik untuk menanamkan wawasan yang berbeda kepada anak-anak. Karena mereka nantinya akan masuk dunia kerja, mereka akan melihat gambaran Islam yang berbeda dari apa yang didapatkan di lingkungan sekolah," ujar Endah.
Harapannya lewat kegiatan itu, para siswa makin terbiasa dengan perbedaan, Islam yang lebih moderat, sehingga bisa menerima semua lapisan dan golongan.
Sebagai sekolah negeri yang mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk sektor industri, SMK-SMTI Yogyakarta menilai penting bagi siswa untuk memiliki cara pandang yang komprehensif.
Endah menekankan bahwa siswa tidak boleh seperti katak di bawah tempurung yang merasa paling benar, melainkan harus memiliki pemikiran kritis (critical thinking) agar tidak sekadar ikut-ikutan dalam beragama.
"Oleh karena itu, kelas 10 dipilih sebagai target utama agar mereka dapat membandingkan memori keagamaan dari sekolah sebelumnya dengan perspektif baru yang lebih luas melalui interaksi langsung dengan para dosen tersebut," urainya.
Selain aspek moderasi, penanaman nilai tauhid menjadi fokus utama materi untuk membentengi mental siswa di tengah tantangan sosial saat ini.
Endah mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena kenakalan remaja seperti narkoba, pergaulan bebas, hingga kasus bunuh diri.
Melalui pesantren kilat ini, agama diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi mendarah daging sehingga siswa tahu ke mana harus kembali saat menghadapi masalah.
"Penanaman tauhid itu agar anak-anak tahu ke mana mereka harus kembali ketika punya masalah. Kami ingin menanamkan bahwa selalu ada solusi di setiap masalah dan selalu ada Tuhan bersama mereka," tegasnya.
Kegiatan kerohanian di SMK-SMTI Yogyakarta sebenarnya tidak hanya berhenti pada pesantren kilat.
Setiap hari, sekolah mengalokasikan waktu khusus untuk pembiasaan membaca Al-Qur'an. Selama bulan Ramadan, durasi ini ditingkatkan menjadi 30 menit setiap pagi sebelum pelajaran dimulai.
Menariknya, sekolah menerapkan metode tutor sebaya, di mana sekitar 70 siswa yang belum lancar membaca Al-Qur'an dibimbing langsung oleh rekan-rekan mereka dari pengurus Rohis di selasar lantai dua. Metode ini sengaja dipilih untuk menumbuhkan rasa empati dan solidaritas antar-siswa.
Rangkaian agenda Ramadan ini juga menyentuh jenjang kelas lainnya melalui kegiatan Buka Bersama untuk kelas 11 yang bertujuan membangun korsa dan keakraban.
Sekolah itu saat ini juga tengah melaksanakan proses pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah.
"Zakat tersebut nantinya akan didistribusikan kepada siswa yang kurang mampu, masyarakat di lingkungan sekitar sekolah, serta sejumlah panti asuhan, sebagai wujud nyata kepedulian sosial seluruh civitas akademika SMK-SMTI Yogyakarta," pungkas Endah.
Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membeberkan, 100 persen lulusan unit pendidikan vokasi yang berada di bawah Kemenperin, dipastikan akan diterima bekerja di sektor industri, termasuk para siswa lulusan SMK-SMTI.
Secara umum Agus Gumiwang Kartasasmita menilai, kualitas pendidikan vokasi yang ada di bawah Kemenperin sudah bagus dan ideal. Baik dari segi pelaksanaan program, maupun jejaring yang dilakukan dengan industri.
"Kualitas pendidikan vokasi kita sudah sangat baik. Tapi perlu ditambah dari jumlah atau kuantitasnya," pesannya.
"Selain kualitas, aspek kuantitas juga terus ditingkatkan, baik program kelas atau SDM, untuk memenuhi kebutuhan industri," harapnya.
Agus Gumiwang Kartasasmita menambahkan, kebutuhan SDM yang unggul dan kompeten di sektor industri, secara pola juga terus bertambah secara signifikan.
Menurutnya, fenomena tersebut jadi indikator yang positif, karena berarti menunjukkan signifikansi sektor industri di Indonesia yang terus maju dan berkembang.
"Industri kita bertumbuh pesat, peningkatan dan kebutuhan SDM di industri juga terus terjadi," tandasnya.
Post a Comment