News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

FTI UII Dorong Inovasi Tata Kelola Publik Melalui Analisis Kematangan Proses Bisnis di Kementerian Keuangan

FTI UII Dorong Inovasi Tata Kelola Publik Melalui Analisis Kematangan Proses Bisnis di Kementerian Keuangan

WARTAJOGJA.ID – Program Studi Informatika Program Magister, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta menyoroti proses transformasi digital sektor publik melalui riset strategis. 

Dalam sebuah sesi penyampaian hasil penelitian terbaru, Dicky Puja Pratama, M.Kom., yang merupakan alumni sukses dari Program Magister FTI UII, memaparkan analisis mengenai tingkat kematangan proses bisnis di Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan menggunakan kerangka Business Process Maturity Model (BPMM) dari Object Management Group (OMG).

"Penelitian ini berangkat dari urgensi transformasi digital sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, serta akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran negara, mengingat pengukuran tingkat kematangan proses bisnis di instansi pemerintah masih jarang dilakukan secara komprehensif," kata Dicky, Sabtu (28/2).

Melalui metode studi dokumentasi dan wawancara mendalam, riset ini berhasil mengungkap bahwa DJA Kementerian Keuangan RI telah mencapai Level 5 atau tahap Innovating, yang menandakan bahwa organisasi tersebut memiliki tata kelola proses yang sangat matang, unggul, adaptif, serta berbasis inovasi berkelanjutan.

Dalam paparannya, Dicky menjelaskan bahwa pencapaian level tertinggi tersebut didukung oleh berbagai praktik baik. 

Seperti fleksibilitas implementasi di mana perubahan proses dapat segera diakomodasi sebelum diformalkan dalam SOP, serta tersedianya sistem informasi terintegrasi yang mendukung pengambilan keputusan berbasis data. 

Selain itu, DJA dinilai sukses menumbuhkan budaya inovasi melalui kompetisi internal, pengembangan SDM yang sistematis melalui Knowledge Management System (KMS), penggunaan data analitik yang optimal, hingga kolaborasi aktif lintas instansi yang selaras dengan kerangka Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) nasional.

Namun demikian, Dicky juga menggarisbawahi beberapa tantangan yang masih memerlukan perhatian.

"Seperti perubahan regulasi yang terkadang belum diikuti petunjuk teknis yang memadai, adanya bottleneck pada sinkronisasi data antara sistem utama dan pendukung, hingga resistensi terhadap perubahan dari sebagian pegawai," kata dia.

Menanggapi temuan tersebut, Dicky  memberikan rekomendasi strategis yang sangat lugas bagi pengembangan organisasi ke depan.

Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan, ia merumuskan empat pilar rekomendasi strategis untuk mendorong peningkatan performa organisasi. 

Di mana yang pertama adalah percepatan penyusunan petunjuk teknis pasca-revisi regulasi melalui workshop teknis berjenjang agar pemahaman tetap selaras. 

Kedua, perlu fokus pada interoperabilitas data melalui integrasi dashboard monitoring kinerja untuk mendukung kolaborasi lintas unit secara otomatis. 

Ketiga adalah investasi pada manusia melalui pelatihan berkelanjutan di bidang teknologi arsitektur proses.

Dan yang keempat adalah memperluas kolaborasi lintas instansi guna mengadopsi standar praktik terbaik global agar organisasi memiliki daya saing yang kuat.

Keberhasilan riset ini juga mendapat apresiasi dari pihak akademisi FTI UII yang turut mendampingi proses penelitian. 

Dr. Ir. R. Teduh Dirgahayu, ST., M.Sc., selaku Dosen Pembimbing sekaligus Ketua Jurusan Informatika FTI UII, bersama Dr. Ahmad Lutfi, S.Kom., M.Kom., selaku Manajer Akademik Keilmuan Program Studi Informatika Program Magister FTI UII, menegaskan bahwa hasil penelitian ini membuktikan peran penting lulusan Informatika UII dalam memberikan solusi nyata bagi birokrasi Indonesia.

"Temuan bahwa DJA telah mencapai level inovatif diharapkan dapat menjadi rujukan strategis bagi instansi pemerintah lainnya di Indonesia dalam melakukan transformasi digital yang terukur dan berkelanjutan," ujar Ahmad Lutfi.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment