News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Menyingkap Industri Love Scam, Peneliti FTI UII Ungkap Strategi Forensika Digital Hadapi Manipulasi Emosi

Menyingkap Industri Love Scam, Peneliti FTI UII Ungkap Strategi Forensika Digital Hadapi Manipulasi Emosi

WARTAJOGJA.ID : Transformasi digital saat ini tidak hanya memperpendek jarak komunikasi, tetapi juga membuka celah berbahaya bagi kejahatan siber yang menyasar sisi terdalam manusia, yaitu emosi. 

Salah satu fenomena yang paling mengkhawatirkan adalah love scam, sebuah modus penipuan berkedok asmara yang menurut Dr. Yudi Prayudi, peneliti yang juga Kepala Pusat Studi Forensika Digital (PUSFID) UII, telah berevolusi menjadi kejahatan terorganisasi yang sangat sistematis. 

Sebagai pakar dari Jurusan Informatika FTI UII, Dr. Yudi Prayudi menekankan bahwa kejahatan ini tidak lagi hanya mengandalkan kelemahan teknis perangkat, melainkan menggunakan teknik social engineering untuk mengeksploitasi kepercayaan korban.

"Love scam merupakan ancaman nyata yang tidak memandang latar belakang sosial maupun tingkat pendidikan, karena pelaku secara sadar membangun hubungan emosional palsu guna menguasai aset korban," kata Dr. Yudi, Senin (12/1).

Yudi menyoroti bahwa berbeda dengan peretasan konvensional, pelaku love scam memanipulasi kehendak korban sehingga mereka secara sukarela menyerahkan uang atau data pribadi.

Dalam pandangan akademisi FTI UII ini, tantangan terbesar terletak pada pembuktian hukum, mengingat interaksi tersebut sering kali dianggap sebagai relasi personal biasa pada tahap awal, padahal di baliknya terdapat skenario yang dirancang dengan sangat cermat menggunakan identitas palsu yang kredibel.

Lebih lanjut, Dr. Yudi mengungkapkan bahwa saat ini love scam telah menyerupai sebuah industri atau fraud factory, di mana para pelaku bekerja dalam jaringan internasional yang terstruktur dengan pembagian tugas yang jelas. 

Ia menegaskan bahwa dalam ekosistem kejahatan seperti ini, pembuktian hukum tidak lagi bisa hanya bergantung pada satu bukti tunggal seperti satu potongan percakapan atau bukti transfer saja. 

"Pembuktian dalam kasus love scam modern menuntut pendekatan berbasis korelasi banyak artefak digital," tutur Dr. Yudi.

Ia pun menekankan pentingnya menganalisis keterkaitan antara metadata akun, pola waktu komunikasi, hingga jejak alamat IP secara terintegrasi.

Peran forensika digital yang dikembangkan di PUSFID UII menjadi krusial untuk menjawab kompleksitas tersebut dengan merekonstruksi rangkaian peristiwa yang utuh dari jejak digital yang tersebar. 

Dr. Yudi menjelaskan bahwa melalui proses ilmiah forensika, penyidik dapat membuktikan adanya tipu muslihat yang sistematis dan menghubungkan manipulasi digital dengan kerugian nyata yang dialami korban. 

"Meskipun bukti digital bersifat rapuh dan mudah dihapus oleh pelaku, penggunaan metode forensik yang sah dan terukur dapat memastikan integritas bukti tersebut dapat dipertanggungjawabkan di hadapan hukum," ujarnya.

Dr. Yudi mengingatkan bahwa pencegahan love scam tidak cukup hanya dengan mengandalkan perangkat keamanan teknologi, melainkan harus dibarengi dengan literasi digital dan kesadaran psikologis masyarakat. 

"Kejahatan ini menjadi pengingat bahwa ruang siber adalah perpaduan antara teknologi dan perilaku manusia, sehingga kewaspadaan terhadap narasi yang terlalu sempurna di dunia maya menjadi kunci utama," ujar Dr. Yudi.

Melalui edukasi publik dan penguatan forensika digital, Dr. Yudi berharap ekosistem digital dapat menjadi ruang yang lebih aman dan beretika bagi semua pengguna.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment