News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

BRIN dan FISHUM UIN Sunan Kalijaga Gelar Roundtable Conference di Yogyakarta

BRIN dan FISHUM UIN Sunan Kalijaga Gelar Roundtable Conference di Yogyakarta


WARTAJOGJA.ID : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM) UIN Sunan Kalijaga Yogya menggelar Networking Roundtable Discussion bertajuk Strategi Baru Pembiayaan Risiko Bencana yang dipusatkan di Hotel Grand Rohan Yogyakarta Selasa (7/5/2024).

Hadir Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. Phil. Al Makin, S.Ag., M.A., Dekan FISHUM UIN Sunan Kalijaga Dr. Mochamad Sodik, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat dari BRIN Dr. Agus Eko Nugroho, serta sejumlah pakar dalam forum itu. 

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. Phil. Al Makin, S.Ag., M.A. dalam sambutannya menyoroti bagaimana ke depan riset riset yang tumbuh di perguruan tinggi dapat semakin berkembang dengan adanya pendanaan yang berasal tak hanya dari pemerintah namun juga swasta.

"Mungkin saat ini bantuan bantuan dari sektor swasta masih banyak menyasar ke beasiswa, ini patut kita syukuri, harapannya ke depan juga bisa untuk membiayai riset," kata dia.

Sementara di kesempatan lain,
Dekan FISHUM UIN Sunan Kalijaga Dr. Mochamad Sodik mengatakan, bahwa secara umum Indonesia memang jadi salah satu negara yang rawan dengan berbagai bencana alam atau force majure, dan sudah sewajarnya potensi bencana tersebut bisa dimitigasi, salah satu dalam skema pembiayaan risiko bencana.

"Selama ini kalau konteksnya bencana nasional itu ditanggung sepenuhnya oleh negara, tapi kesadaran pembiayaan risiko bencana itu juga harus dilakukan," katanya.

Dikatakan, pembiayaan risiko bencana bisa datang dari beberapa pihak selain negara, mulai dari lembaga bantuan swasta, hingga perusahaan asuransi dan donasi kolektif masyarakat.

Hal-hal tersebut diakuinya sudah cukup sering dilakukan, hanya saja memang perlu ada pengesahan atau regulasi yang jelas mengatur hal tersebut, sehingga kewaspadaan dan penanganan pada bencana bisa dimitigasi sedini mungkin.

"Ini juga hal yang baik, misal keuangan atau ekonomi negara sedang susah, jadi ada backup pembiayaan dari sektor lain," ungkapnya.

Lebih lanjut, selain menggandeng BRIN, konferensi tersebut juga melibatkan langsung para stakeholder kebencanaan seperti badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), badan nasional penanggulangan bencana (BNPB), badan pengelola dana lingkungan hidup (BPDLH) hingga perusahaan asuransi.

"Perusahaan asuransi berperan penting untuk identifikasi, mengukur, dan mengelola risiko yang mungkin terjadi," tuturnya.

Sementara  Kepala Organisasi Riset Tata Kelola, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat dari BRIN Dr. Agus Eko Nugroho turut mengungkapkan, bahwa kondisi Indonesia yang memang cukup rawan dengan banyaknya potensi bencana harus jadi concern semua pihak.

"Selain negara, masyarakat, perusahaan hingga pendidikan tinggi ini harus concern juga," sebutnya.
Disebutnya, perguruan tinggi memiliki peranan yang cukup signifikan dalam prosesnya, mulai dari banyaknya resource peneliti yang kerap menjalankan riset hingga demografi SDM yang juga mumpuni dan peka pada skema pembiayaan risiko bencana

Ke depannya, Agus berujar bahwa kolaborasi antara BRIN dengan perguruan tinggi juga akan terus dilakukan secara lebih masif.

"Dengan UIN ini baru kick off, kami akan lakukan secara reguler dan menggandeng perguruan tinggi lainnya," bebernya.

Selanjutnya, beberapa target dari konferensi tersebut antara lain yakni menghasilkan policy brief yang bersumber dari gagasan dan riset yang dilakukan peneliti BRIN dan gagasan dari para peserta kegiatan tersebut.

"Kami coba fokus pada identifikasi praktik dan mengusulkan solusi inovatif dalam menyusun strategi pembiayaan risiko bencana," paparnya.

Selain itu, juga akan ada pemberitaan di media massa dan informasi di media sosial yang diharapkan dapat mendorong diskusi publik untuk meningkatkan kesadaran terkait pembiayaan risiko bencana.

Lalu, akan dibentuk juga jaringan yang anggotanya pakar, praktisi, pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan yang relevan dari latarbelakang akademik,
pemerintah, industri, dan masyarakat sebagai media pertukaran informasi dan kerjasama berkelanjutan.

"Kita kuatkan hubungan riset dan industri dalam mendukung pengembangan dan implementasi skema pembiayaan risiko kebencanaan," pungkasnya.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment