News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Komunikasi Digital: Upaya Berjejaring yang Memanusiakan Manusia

Komunikasi Digital: Upaya Berjejaring yang Memanusiakan Manusia





Temanggung – Banyak sekali bahaya internet yang bisa ditemui oleh warganet, oleh sebab itu pemahaman literasi digital merupakan hal yang absolute agar terhindar dari perangkat ancaman di ruang digital. Hal ini dibahas dalam webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kominfo RI untuk masyarakat Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dengan tema “Kenali Bahaya di Dunia Digital: Jangan Asal Klik di Internet”, Kamis (4/11/2021).

Profesional public speaker Nindy Gita memandu diskusi dengan menghadirkan empat narasumber: Joko Paripurno (Plt Kepala SMPN 1 Kebumen), Muawwin (penulis), Waryani Fajar Riyanto (dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Ahmad Faridi (Sub Koordinator Perencanaan Data Informasi Kanwil Kemenag Jateng). Serta Suci Patia (author) sebagai key opinion leader. Masing-masing narasumber membahas tema diskusi dari sudut pandang empat pilar literasi digital digital skill, digital safety, digital ethics, digital culture.
Plt Kepala SMPN 1 Bulus Pesantresn Kebumen Joko Paripurno mengatakan bahwa saat ini masyarakat sudah terbiasa mengakses dan mendistribusikan informasi menggunakan media digital. Kondisi ini menggeser pola pikir, pola perilaku, dan pola sikap masyarakat karena kemudahan akses informasi. 
Pun di lini pendidikan, ketika dulu masih manual based atau mengandalkan pertemuan tatap muka dan referensi belajar didapat dari buku atau dari guru, akan tetapi pada beberapa tahun terakhir ini semua sudah bergeser ke ruang digital. Guru dan siswa dipaksa dengan model pembelajaran jarak jauh, belajar mandiri menggunakan platform belajar online. 
Memasuki ruang digital jaringan pendidikan semakin luas, aktivitas konten juga semakin beragam. Adanya keberagaman tersebut maka dibutuhkan etika, sebab digitalisasi menawarkan kebebasan akses bagi siapa saja untuk membuat dan mendistribusikan informasi. 
“Fenomena viral membuta kita terdorong untuk ikut membagikan konten, tapi etikanya itu harus disaring dulu sebelum mengunggah. Cek dulu kebenarannya, jika hoaks maka sebaiknya disetop penyebarannya. Atau kalau bukan hoaks harus mempertimbangkan lagi dari sisi kebermanfaatannya, urgensi dan penting tidaknya pesan tersebut untuk diketahui publik,” ujar Joko Paripurno. 
Dalam dunia digital konten itu penting, namun ada etika yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika memproduksinya. Hindari menyebarkan konten yang mengandung SARA, pornografi, dan konten negatif lainnya. Selalu check and recheck kebenaran berita, cerdas dalam menangkap informasi. Juga harus menghargai karya orang lain, mencantumkan nama sumber ketika mengutip atau menggunakan karya milik orang lain. 
“Pun dalam menyampaikan informasi dan konten hendaknya disampaikan dengan bahasa yang sopan, dengan tulisan yang benar sehingga tidak melukai orang lain. Karena etika komunikasi digital itu adalah relasi langsung menuju jejaring sosial yang insani. Berkomunikasi itu ya yang memanusiakan manusia, membudayakan, dan memartabatkan manusia sehingga baik yang menerima pesan atau yang membaca merasa senang,” pesan Joko Paripurno. 
Sementara itu Sub Koordinator Perencanaan Data Informasi Kanwil Kemenag Jateng Ahmad Faridi menambahkan bahwa transformasi digital juga membutuhkan peran guru dan orang tua untuk mengarahkan anak didik agar aktivitas digital dapat dilakukan untuk kebaikan dan menggunakan teknologi dengan bijak. 
“Maka dari itu selain anak, guru dan orang tua juga harus memahami literasi media agar dapat memberikan kontrol atas interpretasi pesan media yang merupakan hasil kontruksi manusia untuk berbagai tujuan. Guru dan orang tua diharapkan dapat memberikan edukasi tentang plus minus media digital, serta memberikan alasannya agar anak dapat memahaminya,” ujar Ahmad Faridi. 
Internet sebagai bagian dari kebutuhan primer bagi generasi masa kini, maka guru dan orang tua perlu menanamkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam pendidikan karakter. Budaya digital tetap harus berlandaskan pilar kebangasaan agar karakter sebagai bangsa yang berbudaya itu tidak luntur oleh kemajuan teknologi. 
“Peran guru menjadi sentral untuk membawa wawasan agar nilai Pancasila tetap menjadi landasan dalam bermedia. Tugas guru sebagai pendidik adalah mengedukasi tentang nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, kesetaraan, harmoni, demokrasi, dan kekeluargaan,” pungkasnya. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment