News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Trik Jitu Menghindari Jerat Kejahatan Siber

Trik Jitu Menghindari Jerat Kejahatan Siber




GROBOGAN : Blogger dan SEO Specialist Ragil Triatmojo menuturkan kejahatan cyber yang paling sering terjadi kini makin beragam jenisnya. Agar tak merugi, langkah memilih dan memilah sebuah informasi penting dilakukan sebelum meyakini apalagi berbagi.

"Tak hanya penyebaran hoaks, tapi marak juga penipuan online atau phising sampai pemerasan," kata Ragil saat menjadi pembicara webinar literasi digital bertema “Memilih dan Memilah Informasi yang Bertanggung Jawab” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (7/10/2021).

Dalam webinar yang diikuti ratusan peserta itu, Ragil menyatakan, untuk mengantisipasi berbagai kejahatan itu butuh kebijaksanaan para pengguna digital.

"Kita perlu lebih bijak ketika menggunakan internet, misalnya agar terhindar dari hoaks, cobalah selalu tahan jempol ketika mendapatkan informasi di internet, melakukan pengecekan kebenaran dan sumber informasi dulu, jangan asal share," kata Ragil.

Sedangkan untuk menghindari phising, Ragil menyarankan segera sudahi akses konten-konten ilegal situs dan penyedia konten ilegal gratis. "Karena konten ilegal itu dibayar dengan resiko pengguna, contoh nyatanya adalah ancamannya adware dan malware," kata dia.

Ragil mendorong agar pengguna digital tak mudah tergiur dengan penawaran harga miring atau bahkan gratis suatu produk. Karena terkadang itu merupakan pancingan untuk menarik korban.

"Seperti penawaran barang black market, software berbayar gratis," kata dia. Ragil mengimbau memperkuat pengamanan terhadap perangkat maupun akun yang digunakan. Sebab banyak akibat buruk menanti bila keamanan itu lemah. Mulai akun berhasil diretas, perangkat terinfeksi malware, pencurian data atau harta.

"langkah pencegahannya gunakan anti-virus legal atau resmi dan kontrol privasi sebab kejahatan siber tidak hanya mengancam perangkat namun juga bisa mengancam individu," kata Ragil.

Ragil menambahkan kebocoran data pribadi dan privasi bisa berakibat fatal juga. Akibat kontrol privasi yang lemah identitas bisa digunakan oleh orang lain, terjadi pengancaman atau pemerasan dan aksi teror.

"Langkah pencegahannya batasi data yang bisa diakses orang lain, jangan buat konten digital yang kurang pantas dan rutin melakukan peninjauan ulang privasi" tegasnya.

Dosen Universitas Lancang Kuning (UNILAK) Pakanbaru Khuriyatul Husna mengatakan banyak berita hoaks namun banyak pula yang termakan oleh hoaks karena biasanya pengguna digital tidak memiliki pengetahuan atau awam dalam mengelola informasi.

"Penelitian menunjukkan 63,3 persen orang berpendapat bahwa berita hoaks bukan palsu hanya dikarenakan dibagikan oleh orang yang dapat dipercaya mereka," kata Husna.

Oleh sebab itu, Husna menyebut beberapa langkah bisa ditempuh ketika memperoleh informasi. Yakni dengan analisis, verifikasi, evaluasi, partisipasi, dan kolaborasi.

Analisis artinya siapa yang memproduksi atau mengirim informasi dan apa tujuan informasi itu dibuat. Sedangkan verifikasi dengan kroscek dan mencari sumber informasi yang kredibel.

"Lalu tanyakan, soal evaluasi, apakah informasi ini benar, apakah informasi ini penting, apakah informasi ini bermanfaat bagi keselamatan dan perbaikan situasi masyarakat jika disebarkan?" kata dia.

Adapun aspek partisipasi penting untuk ikut memproduksi dan menyebarkan konten positif di internet dan kolaborasi berguna bersama dengan pengguna lain memerangi konten negatif agar tercipta kehidupan yang aman dan nyaman di dunia digital.

Webinar ini juga menghadirkan narasumber pegiat seni tradisi Danu Anggada Bimantara, peneliti Alterasi Indonesia Sunaji Zamroni, serta dimoderatori Adrian juga Shafinaz Nachiar selaku key opinion leader. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment