News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pentingnya Memilah Informasi di Media Sosial

Pentingnya Memilah Informasi di Media Sosial





Semarang - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar webinar literasi digital bagi masyarakat di Semarang, Jumat (30/7/21). Tema yang diusung yakni "Internet untuk Kampanye Bangga Budaya Indonesia" yang dilihat dari empat perspekti pilar literasi digital: budaya digital, keamanan digital, kecakapan digital, dan etika digital. 

Kegiatan yang dimoderatori oleh Fernand Tampubolon (entertainer) tersebut menghadirkan Tauchid Komara Yuda (Dosen Fisipol UGM), Frida Kusumastuti (Dosen Universitas Muhammadiyah Malang Japelidi), Ali Formen Yudha (Dosen UNNES Semarang) dan Adi Ekopriyono (Dosen FEB Untag Semarang) sebagai pembicara. Serta Greget Kalla Buana (Islamic Finance Profesional) sebagai Key Opinion Leader. 

Dosen FEB Untag Semarang Adi Ekopriyono dalam webinar tersebut mengungkapkan, budaya merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh masyarakat. Kemudian diwariskan turun temurun kepada generasi selanjutnya. Terbentuk dari sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, pikiran dan karya seni. 

"Adanya globalisasi di bidang digital berpengaruh pada budaya Indonesia. Adanya penetrasi budaya yang nilai dan norma maupun adatnya belum tentu cocok dengan budaya Indonesia harus dipilah dan dipilih. Harapannya budaya Indonesia tidak hanyut dalam arus global tersebut," terangnya dalam webinar itu. 

Ia menambahkan, ancaman penggerusan budaya Indonesia melalui internet ada di depan mata. Tantangan yang dihadapi Indonesia pun sangat kompleks karena masuknya nilai-nilai budaya dari luar lewat internet. 

"Mari kita gelorakan semangat bangga budaya Indonesia, budaya kita sendiri. Kita adalah bangsa besar yang tidak akan kalah dari bangsa lainnya. Jika punya niat besar, maka persoalan apapun menjadi kecil. 

Sementara itu, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang yang anggota Japelidi Frida Kusumastuti menerangkan, sangat penting untuk menggunakan etika dalam bermedia digital. Ia menambahkan, menurut survey Microsoft 2020, netizen Indonesia paling tidak sopan se Asia Pasifik. 

"Hal itu disebabkan banyaknya hate speech, hoaks serta konten negatif yang beredar di ruang digital masyarakat Indonesia. Maka dari itu pentingnya etika dalam bersosial media. Kemampuan Individu mengontrol perilaku di ruang digital dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab," paparnya. 

Ia menyebutkan, ada beberapa prinsip etis bermedia digital. Antara lain kesadaran pengguna sosial media dengan menyempatkan waktu berfikir sebelum berinteraksi dan berpartisipasi di dunia maya. Kemudian jujur dah bertanggung jawab. Misalnya rela dikonfirmasi dan siap menanggung konsekuensi dari apa yang dilakukan di ruang digital. 

"Ketika kita melihat video orang lain yang menurut pandangan kita jelek meski isi kontennya bagus, apa yang perlu dilakukan? Memberi apresiasi dengan like. Memberi komentar yang membangun bukan menjatuhkan," jelasnya. 

Menggunakan media digital juga perlu diimbangi dengan sopan santun dan sikap pantas. Seperti halnya membaca terlebih dahulu informasi yang ada dan memahaminya. Bukan membuat opini tersendiri. Kemudian menganalisis kebenaran secara kritis. Serta mengevaluasi manfaatnya. 

"Jangan sampai kita berfikir sesuka hati dan memberi hate speech. Menghormati dan menghargai orang lain dalam bermedia sosial sangat diperlukan. Jangan sampai apa yang kita tulis justru menyakiti orang lain dan menimbulkan misinformasi," tambahnya. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment