News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ratusan PKL Malioboro Dapatkan Restrukturisasi Pinjaman Untuk Bangkit Kembali

Ratusan PKL Malioboro Dapatkan Restrukturisasi Pinjaman Untuk Bangkit Kembali

Diskusi Membangun Ketahanan Ekonomi Daerah
di Masa Pendemi di Kafe Taru Martani Kota Yogyakarta pada Sabtu (18/7)

WARTAJOGJA.ID: Ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta melakukan restukturisasi kredit sejak April lalu ke Perbankan. Untuk membantu mereka agar segera pulih dari dampak pandemi Covid-19, diperlukan dukungan dari pemerintah supaya jumlah kunjungan wisatawan meningkat.

Pimpinan Divisi Perkreditan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Nur Iswantoro mengatakan ada sekitar 200 sampai 300 PKL di kawasan Malioboro yang telah mengajukan pinjaman. Rata-rata kisaran Rp200 hingga 300 juta dengan restrukturisasi yang diajukan selama enam bulan.

“Restrukturisasi yang diajukan untuk penundayaan pembayaran angsuran kemudian penurunan bunga. Itu yang mereka lakukan. Jangka waktu restrukturisasi yang diajukan rata-rata sekitar enam bulan. Padahal pemerintah memberikan tenggang waktu sampai dengan 31 Maret 2021,” katanya di sela diskusi bertema Membangun Ketahanan Ekonomi Daerah di Masa Pendemi di Kafe Taru Martani Kota Yogyakarta pada Sabtu (18/7).

Nur mengatakan dampak terhadap perbankan yakni cash inflow (pergerakan uang masuk) tidak masuk. Sehingga harus pandai-pandai mengendalikan likuiditas. 

“Tapi Alhamdulillah BPD sangat dipercaya masyarakat. Dana pihak ketiga kami tetap tidak ada masalah. Karena memang kondisi sepeti ini, masyarakat yang ingin investasi dan sebagainya masih menunggu (normal kembali) untuk investasi kembali. Sehingga dana pihak ketiga kami masih Rp11 triliun,” katanya.

Nur mengungkapkan diharapkannya kondisi akan kembali normal setelah masa restrukturisasi habis.  Para PKL di Malioboro sudah mulai mendapatkan pemasukan dari para wisatawan. “Sehingga, sehingga kami dari perbankan nanti di September bisa normal kembali,” katanya.
Nur mengatakan suport dari pemerintah diperlukan supaya wisatawan kembali lagi berkunjung ke Malioboro. Sehingga membuat daya beli bisa tumbuh.

“Kalau Ngarso Dalem (Gubernur DIY) kan intinya sekarang wisatawan sudah bisa masuk ke Yogyakarta. Tinggal bagaimana masing-masing mengelola dirinya agar terhindar dari Covid-19. Jadi sudah sangat mendukung,” ucapnya.

Nur menyebut para PKL di Malioboro juga berperan dalam pemasukan ekonomi daerah, seperti melalui pajak yang dibayarkan. Namun, menurutnya tidak hanya itu saja manfaatnya ketika kunjungan wisata kembali normal.

“Kan ada multiplayer efek. Bagaimana wisata itu tidak hanya berdampak pada PKL Malioboro. Tapi juga di lingkungan sekitarnya,” katanya.

Misalnya, para wisatawan menikmati kuliner di sekitar Malioboro. “Sektor kuliner jalan. Seperti pedagang besar, petani juga produksinya laku. Tidak sesederhana di Malioboro laku gudegnya. Tapi ada telur dari industri peternakan yang jalan. Kemudian pakan, dari para petani jagung juga laku,” ucapnya.

Anggota Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemda DIY Bidang Ekonomi, Tri Saktiana mengatakan ada dua sektor yang berkontribusi cukup besar untuk pertumbuhan ekonomi di DIY. Yakni sektor pendidikan dan pariwisata.

Untuk pendidikan karena banyaknya mahasiswa dari luar daerah yang sedang tugas belajar di Yogyakarta. Sedangkan sektor pariwisata setiap tahunnya mendatang wisatawan sekitar enam juta orang. “Penduduk di DIY itu ada sekitar 3,8 juta. Sedangkan wisatawan enam juta orang per tahun. Jadi cukup luar biasa dalam menggerakkan ekonomi,” katanya.

Adapun Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Wiyono. Menurutnya, untuk menggerakkan ekonomi di DIY harus dari sektor pariwisata dan pendidikan. Pihaknya pun bersama dengan pemerintah kabupaten maupun kota juga telah menggerakkan pelaku wisata untuk mulai membuka destinasinya.

“Kami beri bantuan, digitalisasi. Jadi pariwisata di DIY ini pembayarannya bisa menggunakan digital. Sehingga potensi penyebaran Covid-19 bisa lebih ditahan,” ucapnya. (Arifin) 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a comment