News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dosen Unisa Yogyakarta Kembangkan MySADARI, Aplikasi Deteksi Dini Kanker Payudara

Dosen Unisa Yogyakarta Kembangkan MySADARI, Aplikasi Deteksi Dini Kanker Payudara


WARTAJOGJA.ID : Upaya meningkatkan kesadaran perempuan terhadap deteksi dini kanker payudara terus dilakukan melalui berbagai inovasi. Salah satunya melalui aplikasi MySADARI yang dikembangkan oleh dosen Program Studi Kebidanan Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Intan Mutiara Putri, bersama tim lintas keilmuan.

Aplikasi MySADARI dirancang untuk membantu perempuan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) secara rutin. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat mengenali faktor risiko kanker payudara, mempelajari langkah pemeriksaan mandiri, hingga mendapatkan pengingat jadwal pemeriksaan setiap bulan.

Intan mengatakan, pengembangan aplikasi tersebut berangkat dari kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan media edukasi yang praktis dan mudah diakses. Gagasan itu muncul saat timnya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat bersama Puskesmas Kasihan I pada 2022 dengan sasaran kader kesehatan.

"Awalnya, kami menerima hibah dari Kemendiktisaintek pada 2022 untuk kegiatan pengabdian masyarakat. Saat itu, mitra kami adalah Puskesmas Kasihan I dengan sasaran kader kesehatan. Para kader menyampaikan bahwa ketika menggunakan leaflet, sesampainya di rumah mereka sering lupa. Dari kebutuhan untuk mengingat kembali kapan melakukan Sadari itulah kami menghadirkan aplikasi MySADARI," jelas Intan, saat konferensi pers di Unisa Yogyakarta, Rabu (4/11/2026).

Empat Fitur Utama MySADARI

MySADARI dikembangkan bersama tim lintas keilmuan dari Program Studi Kebidanan dan Teknologi Informasi Unisa Yogyakarta. Aplikasi ini memiliki empat fitur utama yang dapat dimanfaatkan pengguna.

Fitur pertama adalah skrining faktor risiko kanker payudara. Pengguna diminta menjawab sejumlah pertanyaan sesuai kondisi masing-masing, mulai dari riwayat keluarga dengan kanker payudara, usia menstruasi pertama di bawah 12 tahun, belum pernah melahirkan, hingga belum pernah menyusui atau memiliki riwayat menyusui kurang dari enam bulan.

Selain itu, terdapat faktor lain yang diidentifikasi, seperti melahirkan pada usia di atas 35 tahun, penggunaan kontrasepsi hormonal, menopause pada usia lebih dari 50 tahun, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, dan obesitas. Apabila pengguna memiliki salah satu faktor risiko tersebut, aplikasi akan memberikan hasil skrining bahwa pengguna memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki faktor tersebut.

"Kalau salah satu saja jawabannya iya, hasil akhirnya akan menunjukkan bahwa dia memiliki faktor risiko kanker payudara. Tetapi, berisiko di sini bukan berarti dia akan mengidap kanker payudara. Artinya, risikonya lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak memiliki faktor risiko tersebut," terang Intan.

Fitur kedua adalah panduan melakukan Sadari. Pengguna mendapatkan instruksi langkah demi langkah yang dilengkapi ilustrasi visual mengenai cara memeriksa payudara, mulai dari gerakan tangan hingga bagian yang perlu diperhatikan ketika melakukan perabaan. Dengan panduan tersebut, perempuan diharapkan dapat mempelajari cara melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah serta mengenali perubahan atau ketidaknormalan pada payudara.

Fitur ketiga adalah pengingat jadwal pemeriksaan. Pengguna dapat memasukkan tanggal pertama menstruasi untuk mendapatkan pengingat otomatis kapan waktu yang tepat melakukan Sadari. Menurut Intan, pemeriksaan idealnya dilakukan pada hari ketujuh hingga kesepuluh sejak hari pertama menstruasi. Sebab, kondisi payudara menjelang menstruasi umumnya lebih sensitif, tegang, atau terasa nyeri sehingga dapat menyulitkan pengguna membedakan perubahan normal dan gejala yang perlu diperhatikan.

"Secara teori, Sadari dilakukan pada hari ketujuh sampai hari kesepuluh menstruasi. Kalau dilakukan sebelum menstruasi, payudara terkadang terasa tegang dan nyeri. Kondisi itu bisa mengaburkan penilaian terhadap rasa nyeri yang tidak normal," ungkapnya.

Sementara itu, fitur keempat menyediakan informasi seputar kanker payudara. Fitur ini menjadi sarana edukasi tambahan agar pengguna memiliki pemahaman lebih baik mengenai penyakit tersebut dan pentingnya deteksi dini.

Setelah dikembangkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat, MySADARI kembali diuji melalui penelitian pada 2025. Tim mengajukan hibah penelitian melalui program RisetMu untuk menguji efektivitas penggunaan aplikasi terhadap pengetahuan dan sikap deteksi dini kanker payudara.Pengujian dilakukan kepada mahasiswa nonkesehatan dengan durasi penggunaan aplikasi sekitar dua minggu.

"Pada 2025, kami mengajukan penelitian hibah dari RisetMu. Aplikasi MySADARI kami ujikan secara ilmiah kepada mahasiswa nonkesehatan selama kurang lebih dua minggu untuk melihat peningkatan pengetahuan dan sikap mereka terhadap deteksi dini kanker payudara," jelasnya.

Saat ini, aplikasi MySADARI sudah dapat diunduh secara gratis melalui Google Play Store. Pengguna cukup melakukan registrasi menggunakan alamat email dan kata sandi yang dibuat sendiri.

Terkait keamanan data, Intan menjelaskan bahwa informasi pengguna disimpan di server Unisa Yogyakarta dan tidak dapat diakses secara umum. Sistem aplikasi juga dilengkapi mekanisme login menggunakan username dan password.

Penggunaannya tidak terbatas pada perempuan yang masih mengalami menstruasi. Perempuan yang sudah menopause juga dapat memanfaatkan aplikasi tersebut dengan mengatur jadwal pemeriksaan pada tanggal yang sama setiap bulan.

"Untuk perempuan yang sudah menopause, pengaturan jadwalnya bisa menggunakan tanggal yang ditentukan sendiri. Jadi, yang penting tetap melakukan pemeriksaan setiap bulan pada tanggal yang sama," katanya.

Intan menyebutkan, sasaran edukasi Sadari juga dapat dimulai sejak usia 18 tahun. Ke depan, pengembangan aplikasi masih terbuka untuk diperluas, termasuk pemanfaatannya dalam kegiatan edukasi kesehatan di masyarakat melalui kader PKK maupun Posyandu.

Bagian dari kampanye inovasi kesehatan perempuan Unisa Yogyakarta

Kepala Biro Humas dan Protokol Unisa Yogyakarta, Sinta Maharani, mengatakan pengenalan MySADARI merupakan bagian dari rangkaian kampanye inovasi bertajuk Riset Tepat Masyarakat Sehat. Selain MySADARI, Unisa Yogyakarta juga memperkenalkan sejumlah inovasi lain yang berfokus pada kesehatan perempuan dan anak sepanjang daur kehidupan.

Di antaranya Kursi Oksitosin Ibu Menyusui (KursiMu), yang dirancang untuk membantu memperlancar produksi ASI bagi ibu menyusui. Ada pula Smart Sensor Bracelet (SErBet) berbasis Internet of Medical Things (IoMT) untuk mendukung deteksi dini risiko stunting.

Melalui inovasi SErBet, ibu mendapatkan edukasi kesehatan, sementara anak menjalani pemeriksaan untuk membantu mengidentifikasi risiko stunting. Selain itu, terdapat GOE-KB atau Gendongan Oksitosin Ergonomis Kelekatan pada Bayi yang dikembangkan untuk mendukung kenyamanan dan kelekatan ibu dengan bayi.

"Yang sedang kami kampanyekan kali ini berkaitan dengan kesehatan perempuan sepanjang daur hidupnya. Mulai dari deteksi dini kanker payudara, pencegahan stunting, bagaimana mengelola anak-anak ketika masih bayi dengan gendongan oksitosin, hingga KursiMu untuk ibu menyusui," ujar Sinta.


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment