Optimis Hadapi Akhir 2026, Sido Muncul Tegaskan Permintaan Produk Herbal Tetap Solid
WARTAJOGJA.ID : PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) memproyeksikan kinerja perusahaan akan terus membaik menuju akhir tahun 2026. Keputusan manajemen untuk melakukan normalisasi stok di jaringan distributor kini telah membuahkan hasil positif, ditandai dengan pulihnya laju penjualan serta terjaganya permintaan produk di tingkat konsumen akhir.
Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, mengungkapkan bahwa penurunan laporan keuangan pada semester pertama tahun ini murni disebabkan oleh strategi penyesuaian persediaan (inventory adjustment). Langkah ini diambil guna mengatasi penumpukan stok lama distributor yang sempat melonjak akibat program potongan harga masa lalu.
"Saya lakukan inventory adjustment, sehingga laporan penjualannya, laporan profit penjualannya turun. Tapi demand-nya nggak turun, pasar nggak turun," tegas Irwan, Kamis (1/10/2026).
Pada semester I-2026, laporan penjualan SIDO memang mencatatkan penurunan sekitar 20 persen secara tahunan, di mana segmen herbal dan suplemen terealisasi sebesar Rp639 miliar. Namun, ketahanan bisnis perseroan ditopang oleh segmen makanan dan minuman yang tumbuh 11 persen menjadi Rp760 miliar serta segmen farmasi yang naik 7 persen menjadi Rp67,4 miliar.
Tanda-tanda pemulihan kian benderang memasuki kuartal III-2026. Penjualan perseroan pada Agustus 2026 tercatat melonjak hingga mendekati Rp360 miliar dalam kurun satu bulan. Kondisi persediaan barang di tingkat distributor utama pun kini berada di level yang sangat sehat, yakni berkisar antara 9 hingga 18 hari saja.
"Sudah normal, sudah balik normal. Stok yang ada di distributor cuma tinggal 18 hari," tutur Irwan.
Irwan menilai pergerakan produk herbal Sido Muncul dari toko ritel menuju tangan masyarakat menunjukkan tren yang kian bergairah. Selain ditopang oleh pertumbuhan pesat di kanal penjualan digital (online), penetrasi pasar ekspor seperti penjualan minuman energi di wilayah Afrika juga memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perusahaan.
"Kalau penjualan, dimensinya tinggi, naik dimensinya. Dimensinya dari toko ke konsumen tuh naik," ungkapnya.
Untuk memperkuat penetrasi pasar, produsen jamu terkemuka ini aktif menelurkan inovasi produk baru seperti Tolak Linu Sleep dan inovasi jamu serbuk tanpa ampas. Dengan pulihnya rantai distribusi dan tingginya minat masyarakat, Irwan menyakini potensi koreksi laporan keuangan pada penutupan tahun dapat ditekan secara signifikan.
"Optimis, optimis. Seandainya tutup tahun ini laporannya turun karena inventory adjustment, itu diharapkan juga tidak sampai paling banyak ya satu digit lah. 5%, 6% dibanding tahun lalu," pungkas Irwan.
Post a Comment