News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Inovasi Wearable RespiraTB: Mahasiswa UII Kembangkan Alat Pemantau Pernapasan untuk Skrining Dini TBC

Inovasi Wearable RespiraTB: Mahasiswa UII Kembangkan Alat Pemantau Pernapasan untuk Skrining Dini TBC



WARTAJOGJA.ID — Tim mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil menciptakan inovasi teknologi kesehatan berupa perangkat wearable bernama RespiraTB. Alat berbasis sensor accelerometer ini dirancang untuk memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time, sekaligus menjadi sarana skrining awal guna mendorong masyarakat yang bergejala tuberkulosis (TBC) agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

​Pengembangan perangkat ini dimotori oleh Afwan Aditya Saputra selaku Ketua Tim dari Program Studi Informatika FTI UII angkatan 2025, bersama dua anggotanya, Isfana Fatimah Darman dari Program Studi Kedokteran dan Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar dari Program Studi Manajemen Rekayasa. Riset kewirausahaan yang disiapkan untuk ajang The 12th UTU Awards 2026 ini berjalan di bawah bimbingan dosen Program Studi Teknik Industri FTI UII, Ir. Ali Parkhan, M.T.

​Keterlambatan diagnosis TBC akibat pengabaian gejala awal menjadi alasan utama lahirnya teknologi ini. "Pengembangan RespiraTB dilatarbelakangi persoalan keterlambatan diagnosis TBC karena masyarakat sering kali menganggap gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan sebagai hal yang tidak serius, sehingga pemeriksaan medis baru dilakukan setelah kondisi memburuk," kata Ketua Tim RespiraTB, Afwan Aditya Saputra.

​Secara teknis, RespiraTB memanfaatkan sensor accelerometer/IMU untuk membaca perubahan gerakan mekanis dinding dada serta aktivitas otot bantu pernapasan. Data tersebut kemudian diproses menggunakan mikrokontroler ESP32, algoritma filtering, dan sistem skoring berbasis ambang statistik, sebelum dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile via platform Firebase untuk mengukur respiratory rate (RR) dan work of breathing (WoB).

​Melalui hasil pengujian, RespiraTB mencatatkan akurasi pembacaan respiratory rate hingga 96,28 persen dibandingkan perhitungan manual, dengan deviasi maksimal hanya satu napas per menit. Selain itu, penggunaan sensor MPU6050 menghasilkan akurasi rata-rata 92,08 persen jika dibandingkan dengan metode Esophageal Pressure Catheter (Pes). Pengiriman data dari ESP32 menuju Firebase juga menunjukkan tingkat keberhasilan 100 persen dengan durasi transmisi rata-rata 2,2 detik, serta sukses melakukan klasifikasi sebesar 100 persen dalam empat skenario pengujian.

​Anggota tim dari Program Studi Kedokteran UII, Isfana Fatimah Darman, menekankan batas fungsi alat ini agar tidak memicu salah kaprah di tengah masyarakat. "Tim menegaskan RespiraTB bukan perangkat untuk menggantikan diagnosis medis secara penuh, melainkan dirancang sebagai alat skrining awal yang mengukur indeks risiko pernapasan berdasarkan RR dan WoB, sebab diagnosis definitif TBC tetap memerlukan pemeriksaan medis profesional," ujar Isfana.

​Pada aplikasi pendukungnya, RespiraTB menampilkan Indeks Pernapasan skala 0–100 dengan kategori Normal, Perlu Pemantauan, dan Segera Periksa, lengkap dengan informasi laju napas, pola napas, aktivitas otot aksesori, serta gejala subjektif. Apabila skor risiko meningkat secara konsisten, sistem akan otomatis mengirimkan notifikasi rujukan ke fasilitas kesehatan.

​Anggota tim lainnya, Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar, memaparkan strategi komersialisasi dan potensi pasar RespiraTB yang dibidik melalui skema business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C). "Dari sisi bisnis, kami memproyeksikan Total Addressable Market (TAM) RespiraTB mencapai Rp1,035 triliun per tahun, dengan fokus awal di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah yang memiliki Serviceable Available Market (SAM) sebesar Rp436,2 miliar per tahun, di mana pada tahun pertama kami menargetkan penjualan 1,380 unit seharga Rp950.000 per unit atau sekitar Rp1,31 miliar," tutur Huda.

​Pendekatan B2B disasar melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta lembaga pemangku kepentingan seperti Stop TB Partnership Indonesia dan Global Fund. Sementara itu, kanal digital dan edukasi komunitas menjadi ujung tombak pemasaran B2C.

​Keunggulan utama alat ini terletak pada integrasi pemantauan fisiologis dan pemetaan gejala subjektif pengguna. "Kebaharuan dari penelitian ini terletak pada platform wearable berbasis accelerometer/IMU yang mengintegrasikan pemantauan respiratory rate dan work of breathing secara kontinu pada tiga titik otot bantu pernapasan, lalu menggabungkannya dengan gejala subjektif via algoritma skoring guna menghasilkan Indeks Risiko Pernapasan secara real-time melalui ekosistem IoT-mobile," ungkap dosen pembimbing riset, Ir. Ali Parkhan, M.T.

​Meski hasil awal cukup menjanjikan, tahap komersialisasi dan implementasi massal masih membutuhkan sejumlah proses legalitas teknis. "Pengembangan selanjutnya masih membutuhkan validasi klinis dalam skala yang lebih luas, pembuatan prototipe fisik akhir, hingga pengajuan izin edar resmi kepada Kementerian Kesehatan RI serta sertifikasi alat kesehatan yang diperlukan," jelas Ali Parkhan.

​Pihak pimpinan fakultas memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi lintas disiplin ilmu yang ditunjukkan para mahasiswa dalam menjawab permasalahan kesehatan nasional. "Melalui pengembangan RespiraTB, kami berharap teknologi wearable, IoT, dan algoritma skoring ini dapat menjadi bagian dari inovasi pemantauan kesehatan yang praktis dan terjangkau, sekaligus mendukung upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi pernapasan dan mendorong pemeriksaan TBC secara lebih dini," tegas Dekan Bidang Kemahasiswaan, Keislaman, dan Kealumnian FTI UII, Dr. Ir. Agus Mansur, S.T., M.Eng.Sc., IPU., ASEAN Eng.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment