Sido Muncul Latih 100 Pedagang Angkringan Surakarta Meracik Jamu Kekinian
WARTAJOGJA.ID : PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk menggelar pelatihan meracik jamu untuk 100 pelaku usaha angkringan di Surakarta dan sekitarnya. Kegiatan yang menjadi bagian dari Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul dan perayaan menjelang HUT ke-75 perusahaan ini berlangsung di Hotel Novotel Solo, Kamis (3/9/2026).
Melalui program ini, para pedagang dibekali keterampilan meracik jamu instan tanpa ampas, edukasi standar higienitas dan sanitasi, hingga teknik promosi via media sosial. Langkah ini bertujuan mendobrak stigma kuno minuman tradisional serta memperluas segmentasi pasar ke kalangan anak muda.
Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani Hidayat, menjelaskan bahwa pemilihan Surakarta sebagai lokasi pelaksanaan didasari oleh latar belakang budaya yang kental, melanjutkan kesuksesan program serupa di Yogyakarta pada tahun sebelumnya. Maria menekankan pentingnya menghadirkan jamu di ruang publik yang dekat dengan masyarakat sehari-hari.
"Tujuannya adalah sama, yaitu untuk memberdayakan para pedagang angkringan untuk berjualan jamu dengan juga sambil melestarikan budaya minum jamu itu sendiri," kata Maria saat memberikan keterangannya di Surakarta. Ia menyarankan para pemilik angkringan melengkapi menu yang ada dengan jamu agar tetap relevan mengikuti perkembangan zaman. "Jadi sebetulnya mereka ini kan sudah menjual wedang jahe contohnya, ya. Jadi alangkah baiknya kalau ditambah dengan jamu. Jadi menambah menu juga, supaya mendekatkan diri kepada para konsumen agar masih relevan dengan zaman," tutur Maria.
Langkah strategis ini dinilai tepat oleh kalangan akademisi dan praktisi kesehatan. Praktisi jamu dari Unit Pelayanan Fungsional Pelayanan Kesehatan Tradisional RSUP Dr. Sardjito Tawangmangu, Saryanto, menegaskan bahwa perubahan penyajian jamu tanpa ampas dan penataan gerobak yang lebih bersih dapat mengubah citra angkringan menyerupai kafe modern.
"Anak muda sekarang kan trennya wellness health untuk lifestyle, seringnya nongkrong di kafe. Tapi kalau angkringan ada sesuatu hal yang berbeda, saya kira jamu di angkringan ini akan tumbuh berkembang baik ketika anak muda mau dan sering berada di dalam angkringan dengan ranah jamu," ujar Saryanto saat menyampaikan materi pelatihan. Saryanto menambahkan bahwa modifikasi tampilan menjadi kunci penting bagi daya tarik usaha. "Angkringan itu kan dulu imajinasinya agak kumuh atau di pinggir jalan. Nah, dari Sido Muncul nanti bisa dimodifikasi menjadi tempat yang asyik, dengan display, higienitas, dan sanitasi yang baik. Jadi bentuknya angkringan, tapi dikelola seperti kafe dan jauh lebih maju," ucapnya.
Manfaat dari pelatihan ini dirasakan langsung oleh para peserta. Hariani Yuliana, seorang pelaku usaha angkringan asal Gandekan, Jebres, Solo, mengaku optimistis variasi racikan jamu ini dapat meningkatkan taraf bisnis yang telah ia jalankan selama 12 tahun.
"Selama ini kan kita hanya menyediakan minuman biasa. Otomatis dengan adanya jamu ini, kita bisa menambah pundi-pundi dan yang pasti tambah bintang untuk usaha kita," kata Hariani di sela-sela kegiatan pelatihan. Hariani berharap konsep baru ini dapat memikat konsumen generasi muda di tempat usahanya. "Alhamdulillah besok bisa naik kelas lagi, bisa maju lagi dengan adanya program seperti ini. Kemasannya nanti jadi beda lagi, pemasarannya seperti kafe," tutur Hariani.
Setelah Surakarta dan Yogyakarta, Sido Muncul merencanakan ekspansi Gerakan 1.000 Angkringan ke kota-kota besar lain di Pulau Jawa, seperti Semarang dan Surabaya, untuk memperluas pelestarian budaya minum jamu secara nasional.
Post a Comment