News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Cegah Perdagangan Orang, PIMPASA Imigrasi Yogyakarta Gunakan Strategi Ketahanan Pangan dan Wayang Kulit

Cegah Perdagangan Orang, PIMPASA Imigrasi Yogyakarta Gunakan Strategi Ketahanan Pangan dan Wayang Kulit


WARTAJOGJA.ID — Imigrasi Yogyakarta optimalkan ketahanan pangan dan pendekatan kultural untuk memperkuat pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Perdagangan Manusia (TPPM) di tingkat akar rumput melalui sinergi peran Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA), pendekatan budaya berbasis wayang kulit, serta penguatan ekonomi kerakyatan lewat program ketahanan pangan di Kabupaten Gunungkidul.

Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko, yang hadir di momen Panen Raya Jagung Selasa, (29/9) di Tahunan - Bulurejo, Kapanewon Semin, mengungkapkan bahwa tindak pidana perdagangan orang dan migrasi nonprosedural kerap berakar dari kerentanan ekonomi di perdesaan. Keterbatasan lapangan pekerjaan dan rendahnya tingkat kesejahteraan, membuat masyarakat di daerah pedalaman rentan tergiur oleh janji pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri melalui jalur ilegal.

"Kami coba mencegah migrasi nonprosedural dengan menyasar dari sisi ketahanan pangan. Mengapa, karena kerentanan ekonomi dan kesulitan pangan membuat masyarakat di daerah rentan tergiur oleh iming-iming janji pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri melalui jalur ilegal,” ujar Hendarsam.

Upaya tersebut ditopang oleh program ketahanan pangan melalui penanaman jagung seluas 2,5 hektare di lima kelurahan. Melalui kolaborasi bersama kelompok tani dan penyuluh pertanian, program ini berfungsi sebagai instrumen penguatan ekonomi akar rumput agar masyarakat memiliki sumber penghidupan alternatif yang berkelanjutan.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yuni Santi Nurani, menjelaskan bahwa selain optimalisasi ketahanan pangan, Imigrasi juga menggunakan pendekatan kultural untuk edukasi mengenai migrasi aman dan risiko keberangkatan nonprosedural.

“Kami adakan pertunjukan wayang kulit yang menjangkau warga umum hingga generasi muda di SMK Muhammadiyah Semin dan SMAN 1 Semin, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta,” jelas Yuni.

Desa Binaan Imigrasi di wilayah kerja Kanwil Ditjen Imigrasi Yogyakarta menjadi ruang kolaborasi di mana masyarakat bisa mendapatkan akses informasi keimigrasian dan migrasi aman secara lebih dekat melalui PIMPASA sekaligus memperoleh manfaat yang lebih luas melalui kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Saat ini, di wilayah kerja Kantor Imigrasi Yogyakarta terdapat 15 desa binaan imigrasi yang didampingi oleh 8 PIMPASA, yang tersebar di wilayah Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta. Kehadiran PIMPASA menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus memperkuat penyebarluasan informasi mengenai keimigrasian, migrasi aman, serta pencegahan TPPO dan keberangkatan pekerja migran secara nonprosedural.

“Kami harapkan melalui panen raya serta edukasi melalui pertunjukkan wayang ini, imigrasi bisa hadir lebih dekat, memberikan edukasi, mencegah kerentanan, serta memberdayakan masyarakat tentunya sejalan dengan semangat Imigrasi untuk Rakyat,” tutup Hendarsam.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment