Tanamkan Akhlak Rasulullah di Era Digital, SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Gelar Pengajian Maulid Nabi
WARTAJOGJA.ID : SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada (CBH) Yogyakarta menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bertajuk "CBH Bersholawat ke-6" di Pendopo Sekolah, Umbulharjo, Yogyakarta, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan peringatan tahunan yang diikuti sekitar 490 peserta dari unsur siswa, guru, pengurus yayasan, hingga warga sekitar ini dikemas dengan mengusung tema "Menggapai Manisnya Mahabbah Sang Kekasih Allah: Santun dalam Lisan, Mulia dalam Akhlak".
Rangkaian acara diawali dengan tilawah Al-Qur'an, pembacaan Maulid Simtudduror bersama Habib Umar Zaky bin Abubakar Assegaf, hingga penyampaian mauidhoh hasanah oleh Dr. Moch. Taufiq Ridho, M.Pd., Al-Hafidz. Suasana peringatan juga dimeriahkan dengan penampilan nasyid Deni Aden serta pembagian doorprize untuk para tamu undangan.
Ketua Yayasan Pendidikan dan Kesehatan Cipta Bhakti Husada, M. Dimas Hilmi Azis, S.M., M.Pd., menegaskan bahwa momentum peringatan Maulid Nabi bertujuan utama untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW sekaligus membentuk karakter peserta didik.
"Kita berkumpul karena ingin mengungkapkan rasa cinta dan kegembiraan atas kelahiran manusia paling mulia. Pendidikan bukan hanya tentang memberikan pengetahuan, nilai rapor, atau mendapatkan ijazah, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki ilmu, karakter, kepedulian, dan akhlak," ujar M. Dimas Hilmi Azis di hadapan para hadirin.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan di lingkungan CBH tidak hanya diukur dari pencapaian akademik semata. "Keberhasilan pendidikan juga dilihat dari bagaimana seseorang berbicara, bersikap, menghormati orang lain, dan seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan bagi masyarakat luas," lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada, Wijayanta, S.Pd.Si., menyampaikan pentingnya penanaman akhlak mulia dan tutur kata yang santun bagi para calon tenaga kesehatan, terlebih di tengah gempuran era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
"Tenaga kesehatan masa depan tidak hanya dituntut menguasai ilmu medis dan peralatan modern, tetapi juga harus berintegritas, ramah, dan santun. Tutur kata yang lembut serta senyuman tulus itu sendiri merupakan salah satu obat penyembuh bagi para pasien," kata Wijayanta.
Menanggapi tantangan era modern seperti memudarnya kepedulian sosial di tengah ketergantungan teknologi, Wijayanta menilai pemanfaatan AI harus tetap dibentengi dengan pendampingan karakter secara langsung.
"Teknologi AI memang sangat bermanfaat sebagai sumber belajar ilmu kesehatan, tetapi AI tidak bisa membentuk akhlak. Pembentukan karakter dan keterampilan praktis tenaga kesehatan tetap membutuhkan pendampingan langsung di sekolah, klinik, maupun rumah sakit," pungkasnya.
Post a Comment