3.500 Pelajar Yogyakarta Gembleng Kedisiplinan Lewat Lomba Baris Berbaris di Mandala Krida
WARTAJOGJA.ID — Sebanyak 3.500 pelajar dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA se-Kota Yogyakarta memadati Stadion Mandala Krida, Umbulharjo, Selasa (1/9/2026). Kehadiran ribuan siswa tersebut untuk bersaing dalam Lomba Baris Berbaris (LBB) tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Yogyakarta.
Ajang tahunan ini dirancang bukan sekadar kompetisi fisik antar-sekolah, melainkan sebagai sarana membentuk karakter, kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, serta memupuk rasa cinta tanah air pada generasi muda. Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan LBB yang dinilainya efektif membentuk mentalitas positif para pelajar di luar jam pelajaran formal.
"Di samping lomba itu menanamkan gerak dan instruksi, ada makna di belakangnya, yaitu bagaimana kita membangun kedisiplinan, keteraturan, dan cinta tanah air," tegas Wawan saat memberikan sambutan pembukaan di lokasi acara.
Wawan menekankan bahwa esensi utama dari kompetisi ini terletak pada pengaplikasian nilai-nilai positif di ruang publik dan lingkungan sekolah. Pihaknya optimistis para peserta LBB mampu menyebarkan pengaruh positif serta menjadi percontohan bagi rekan-rekan sebaya mereka.
"Harapan kami setelah lomba, nilai-nilai itu tetap terbawa dalam kehidupan sehari-hari maupun di kelasnya sehingga menjadi role model bagi teman-temannya. Pendidikan karakter seperti ini akan membuat Jogja semakin istimewa," tambah Wawan.
Antusiasme peserta dalam LBB tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan dari penyelenggaraan sebelumnya. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta, Agus Trimadi, mengungkapkan bahwa total peserta yang berpartisipasi mencapai 101 pleton, yang terdiri dari 15 pleton SD/MI, 44 pleton SMP/MTs, dan 42 pleton SMA/SMK/MA, di mana setiap pleton diperkuat oleh sekitar 39 personel.
"Jumlah peserta dari tahun ke tahun selalu bertambah. Ini menunjukkan kegiatan ini menjadi daya tarik bagi sekolah, baik negeri maupun swasta, mulai dari tingkat SD hingga SMA dan SMK," terang Agus.
Lebih lanjut, Agus menerangkan bahwa kekompakan dalam baris-berbaris mengandung filosofi kepemimpinan dan kontrol diri yang sangat vital bagi perkembangan psikologis remaja. Setiap derap langkah peserta mencerminkan keselarasan antara kepatuhan pada perintah dan pengesampingan kepentingan pribadi.
"Baris-berbaris tidak hanya soal kaki yang melangkah serempak. Di balik setiap langkah ada latihan untuk mendengar, mematuhi aturan, mengendalikan diri, menjaga konsentrasi, dan menempatkan kepentingan kelompok di atas ego pribadi," pungkas Agus.
Dukungan penuh juga mengalir dari para orang tua murid yang melihat perubahan positif pada anak-anak mereka selama masa persiapan. Ambar, seorang wali murid dari siswi kelas 4 SD Lempuyangan 1 bernama Anin, menceritakan bagaimana putrinya menunjukkan komitmen tinggi dengan berlatih secara intensif sejak awal Agustus setiap selesai jam sekolah hingga sore hari.
"Anak ditanya siap dan katanya mau, jadi kami mendukung. Latihannya mulai awal Agustus, setelah jam sekolah sampai sore," tutur Ambar.
Meski sempat diselimuti rasa gugup sebelum tampil, Ambar mengaku bangga menyaksikan kekompakan dan kerja keras yang ditunjukkan oleh sang buah hati bersama rekan-rekan satu pletonnya di lapangan.
"Senang dan puas dengan penampilannya. Anak-anak juga kompak," kata Ambar. Ia pun berharap Pemkot Yogyakarta terus mempertahankan agenda ini dan mengimbau sekolah-sekolah untuk memfasilitasi minat siswa melalui jalur ekstrakurikuler. "Harapannya ke depan ada ekstrakulikuler di sekolah, supaya anak-anak bisa berlatih lebih serius," tuturnya.
Post a Comment