News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ujian Terbuka Doktor FH UII: Yanny Tuharyati Gagas Model Pemulihan Berbasis Masyarakat untuk Anak Korban Kekerasan Seksual di Bondowoso

Ujian Terbuka Doktor FH UII: Yanny Tuharyati Gagas Model Pemulihan Berbasis Masyarakat untuk Anak Korban Kekerasan Seksual di Bondowoso


WARTAJOGJA.ID — Bertempat di Ruang Auditorium Lantai 4 Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII), Yanny Tuharyati, S.H., M.H., mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Disertasi Program Studi Hukum Program Doktor pada Sabtu (29/8/2026).


Sidang akademis ini dipimpin secara langsung oleh Ketua Sidang Drs. Agus Triyanta, M.A., M.H., Ph.D.

​Di hadapan dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Dra. MG. Endang Sumiarni, S.H., M.Hum., Dr. Muhammad Arif Setiawan, S.H., M.H., Prof. Hanafi Amrani, S.H., M.H., L.L.M., Ph.D., dan Prof. Dr. M. Syamsudin, S.H., M.Hum., Yanny mempresentasikan karya ilmiah bertajuk "MODEL PENANGANAN REHABILITASI BERBASIS MASYARAKAT PADA ANAK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DI KABUPATEN BONDOWOSO".

​Dalam sudut pandang (angle) disertasinya, Yanny menyoroti ketimpangan mendasar dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak. Menurutnya, pendekatan hukum yang berjalan saat ini terlalu berorientasi pada tindakan represif dan pemidanaan terhadap pelaku, sementara aspek pemulihan trauma korban justru kerap dikesampingkan.

​"Upaya menangani kasus kekerasan seksual dengan mengandalkan peraturan perundang-undangan yang memberikan hukuman berat untuk para pelaku saja tidak cukup. Seberat apapun undang-undang yang digunakan untuk menghukum pelaku, jika rehabilitasi atau pemulihan pada trauma korban kekerasan seksual tidak maksimal, maka korban tetap pada kondisi tidak mendapat perlindungan dengan maksimal," tegas Yanny dalam ulasan persidangannya.

​Yanny memaparkan bahwa dorongan utama dari penelitian ini berakar dari pengalamannya selama kurang lebih 18 tahun menjadi relawan pendamping dan konselor bagi perempuan dan anak korban kekerasan di Kabupaten Bondowoso. Pengalaman panjang di lapangan tersebut membuatnya paham betul mengenai dinamika sosiokultural masyarakat Pandalungan—sebuah hasil akulturasi budaya Jawa dan Madura yang memiliki tradisi keagamaan kental.

​Dalam analisisnya, Yanny menjelaskan bahwa struktur sosial Pandalungan yang menempatkan kiai dan tokoh agama sebagai figur sentral sering kali memengaruhi proses hukum. Banyak kasus kekerasan seksual yang diselesaikan secara kompromistis atau ditutupi demi menjaga nama baik lingkungan, sehingga menimbulkan stigma sosial dan memicu perlakuan menyalahkan korban (victim blaming).

​"Masyarakat tidak seharusnya hanya melihat kepada pelaku, tetapi juga kepada korban. Kekerasan seksual memberikan dampak trauma dan luka tersendiri bagi korban tersebut," ujar Yanny.

​Lebih lanjut, Yanny menguraikan kondisi spesifik di wilayah penelitiannya: "Di Kabupaten Bondowoso, yang memiliki karakteristik masyarakat Pandalungan dengan budaya religius yang kuat, penanganan kasus kekerasan seksual pada anak masih dipengaruhi oleh pola relasi sosial yang menempatkan tokoh agama sebagai figur sentral. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan perkara cenderung berorientasi pada pemidanaan pelaku, sementara aspek pemulihan korban belum dilaksanakan secara optimal."

​Guna memberikan jalan keluar atas ketimpangan tersebut, disertasi yang disusun di bawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Rusli Muhammad, S.H., M.H., dan Co-Promotor Dr. Aroma Elmina Martha, S.H., M.H., ini menawarkan kerangka kerja operasional berupa Model Penanganan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM).

​Gagasan ini mengintegrasikan nilai-nilai Maqāṣid al-Syarī‘ah (khususnya perlindungan jiwa, akal, dan kehormatan), Teori Ekologi Bronfenbrenner, serta Teori Praktik Sosial Pierre Bourdieu. Integrasi ini dirancang untuk mentransformasi habitus masyarakat lokal agar beralih dari budaya yang memojokkan korban menjadi ekosistem yang mendukung pemulihan.

​Model RBM buatan Yanny menempatkan anak korban sebagai pusat pemulihan (victim-centered approach) dengan merangkul seluruh pilar terkait, mulai dari keluarga, tokoh masyarakat, figur agama, UPTD PPA, lembaga pemerintah daerah, hingga tenaga profesional medis dan psikologis. Tahapannya disusun secara rinci meliputi identifikasi awal, penanganan kesehatan dan psikologis, penguatan kapasitas keluarga, pelibatan aktif masyarakat, reintegrasi sosial, serta pengawasan berkala guna mencegah terjadinya pembalasan atau penanganan ulang yang merugikan (reviktimisasi).

​Keberhasilan Ujian Terbuka ini tidak hanya menandai pencapaian akademik doktor bagi Yanny Tuharyati, tetapi juga mengukuhkan peran aktif FH UII—yang memegang Akreditasi Unggul dan sertifikasi internasional FIBAA—dalam menghadirkan riset hukum yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment