Jelang Puncak Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026, 15 Menit Dance Jadi Pilihan Anak Muda untuk Tetap Aktif
WARTAJOGJA.ID : Mengetahui pentingnya aktivitas fisik belum tentu membuat seseorang
lebih aktif. Bagi banyak anak muda, tantangannya justru terletak pada menemukan
aktivitas yang cukup menyenangkan untuk dilakukan secara konsisten di tengah
rutinitas sehari-hari. Dance
menjadi salah satu aktivitas yang menjawab tantangan tersebut. Selain
melibatkan gerakan tubuh, dance
juga dekat dengan keseharian anak muda melalui musik, komunitas, ekspresi diri,
hingga budaya populer. Semangat inilah yang dibawa Komix Herbal POTEK
Dance Fest 2026 melalui gerakan #DanceOnCoughOff, yang mendorong generasi
muda membangun kebiasaan aktif melalui aktivitas yang mereka sukai.
Menurut Andry Mahyudi, Head
of OTC, Women Health and Natural Wellness Category Kalbe Consumer Health, pendekatan tersebut berangkat dari keinginan untuk menjadikan pesan
hidup aktif terasa lebih dekat dan relevan dengan dunia anak muda. “Anak muda
sebenarnya punya begitu banyak cara untuk bergerak. Karena itu, kami ingin
mengajak mereka memulainya dari aktivitas yang memang mereka sukai. Dance bukan hanya soal kompetisi atau
kemampuan di atas panggung, tetapi juga tentang bergerak, berekspresi, bertemu
komunitas, dan membangun kebiasaan aktif dengan cara yang menyenangkan.
Semangat itulah yang kami bawa melalui Komix Herbal POTEK Dance Fest,” ujar
Andry.
Setelah menjangkau berbagai daerah di
Indonesia melalui rangkaian submission, audisi, dan enam semifinal regional, perjalanan Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026 kini
memasuki tahap puncaknya. Sebanyak tujuh tim terbaik akan bertemu dalam Grand Final di kawasan Prambanan, Yogyakarta, pada 30 Agustus 2026.
Mereka adalah InMotion Dance House
(Medan), ArteeZ (Jabodetabek), Mystylez Crew (Jawa Barat), Waackanizm (Jawa
Tengah), Sunkiss Dance Crew (Jawa Timur), Zenith (Sulawesi), serta A-Youngz
(Jabodetabek) yang terpilih melalui jalur Brand's Choice Wildcard. Ketujuh tim akan
memperebutkan gelar juara Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026, hadiah utama senilai Rp50 juta,
serta kesempatan berangkat ke Jepang.
Dari Sekadar Tahu Pentingnya Bergerak, Menjadi
Kebiasaan
Dokter Olahraga dan Health Influencer dr. Ikhwan Zein, Sp.KO., Subsp.ALK (K),
Ph.D. menjelaskan bahwa membangun kebiasaan aktif
tidak harus selalu dimulai dengan olahraga berat atau program latihan yang
terasa sulit dilakukan. Aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan minat
justru dapat menjadi pintu masuk agar seseorang lebih terbiasa bergerak dan
perlahan menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup. “Dance dapat menjadi salah satu bentuk
aktivitas fisik yang menyenangkan karena di dalamnya terdapat gerakan yang
melibatkan berbagai bagian tubuh. Ketika dilakukan secara rutin, dengan durasi
dan intensitas yang sesuai kemampuan, dance dapat ikut memberikan stimulus bagi sistem kardiorespirasi, yaitu
kerja jantung, paru, dan sirkulasi tubuh dalam menunjang aktivitas fisik,”
jelas dr. Ikhwan.
Salah satu indikator yang kerap digunakan
untuk menggambarkan kebugaran kardiorespirasi adalah VO₂max, yaitu kemampuan maksimal tubuh dalam
mengambil dan menggunakan oksigen saat melakukan aktivitas fisik dengan
intensitas tinggi. Menurut dr. Ikhwan, VO₂max tidak hanya relevan bagi atlet.
Kebugaran kardiorespirasi juga penting bagi masyarakat umum karena berkaitan
dengan kemampuan tubuh menjalankan aktivitas fisik sehari-hari.
“VO₂max pada dasarnya menggambarkan seberapa
baik tubuh kita menggunakan oksigen saat bekerja. Dance yang dilakukan dengan intensitas cukup untuk meningkatkan denyut
jantung dan pernapasan dapat menjadi salah satu bentuk latihan aerobik. Namun,
untuk melatih kebugaran kardiorespirasi dan mendorong peningkatan VO₂max, tetap
dibutuhkan konsistensi serta kombinasi durasi, frekuensi, dan intensitas
latihan yang memadai. Jadi bukan semata-mata soal bergerak selama beberapa
menit, tetapi bagaimana aktivitas itu kemudian berkembang menjadi kebiasaan
aktif,” papar dr. Ikhwan.
Karena itu, melalui Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026, semangat
tersebut antara lain diterjemahkan melalui 15 Menit Dance. Bukan sebagai target akhir aktivitas fisik, 15 menit menjadi ajakan
sederhana bagi anak muda untuk mulai menyisihkan waktu bergerak di tengah
rutinitas sehari-hari, lalu secara bertahap membangun durasi dan intensitas
sesuai kemampuan.
Untuk orang dewasa usia 18–64 tahun, World Health Organization (WHO)
merekomendasikan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik
intensitas sedang atau 75–150 menit aktivitas aerobik intensitas berat dalam
seminggu, maupun kombinasi keduanya. WHO juga
menekankan bahwa melakukan aktivitas fisik dalam jumlah tertentu tetap lebih
baik dibandingkan tidak bergerak sama sekali, dan seseorang dapat memulainya
dari jumlah yang kecil sebelum meningkatkan frekuensi, intensitas, dan
durasinya secara bertahap.
Pendekatan ini menjadi relevan karena
membangun gaya hidup aktif tidak selalu harus dimulai dari target yang besar.
Memilih aktivitas yang disukai dapat membuat seseorang memiliki alasan untuk
terus melakukannya. Ketika dilakukan secara konsisten dan dikembangkan secara
bertahap, bergerak pun dapat menjadi bagian yang lebih natural dari keseharian.
Pada saat yang sama, aktif bergerak juga
perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mengenali kondisi tubuh. Ketika
muncul keluhan kesehatan seperti batuk yang dapat membuat aktivitas terasa
tidak nyaman, tubuh perlu mendapatkan perhatian yang tepat. Komix Herbal hadir sebagai salah satu pilihan
swamedikasi untuk membantu meredakan gejala batuk sesuai aturan pakai, sehingga
semangat untuk tetap aktif juga diikuti dengan kesadaran untuk menjaga kondisi
tubuh.
Dari Enam Regional, Membawa Karakter yang
Berbeda
Perjalanan POTEK Dance Fest ke berbagai
daerah juga memperlihatkan bahwa perkembangan komunitas dance Indonesia tidak hadir dalam satu warna
yang sama. Setiap daerah membawa referensi musik, gaya, karakter, dan cara
berekspresi yang berbeda.
Bagi Andry, keragaman inilah yang menjadi
salah satu temuan paling menarik sepanjang rangkaian kompetisi. “Sejak awal
kami memang ingin mencari talenta langsung dari berbagai daerah dan melihat
sendiri bagaimana mereka membawa karakter masing-masing ke atas panggung. Kami
menemukan begitu banyak kreativitas, energi, dan keberanian untuk
mengeksplorasi sesuatu yang baru. Tujuh finalis yang akan bertemu di Yogyakarta
merupakan representasi dari perjalanan tersebut, dan kami sangat menantikan
bagaimana mereka membawa semua pengalaman itu ke panggung Grand Final,” ujar
Andry.
POTEK Dance Fest tahun ini mengusung tema Modern with Indonesian Heritage, yang
menantang peserta untuk melangkah lebih jauh dari sekadar kemampuan teknis.
Para dancer didorong
mengeksplorasi identitas mereka dan menerjemahkan unsur budaya Indonesia
melalui koreografi, musik, kostum, maupun ekspresi panggung yang tetap relevan
dengan perkembangan dance modern.
Dengan pendekatan tersebut, kompetisi tidak
hanya mencari siapa yang mampu melakukan gerakan paling sulit, tetapi juga
siapa yang mampu menghadirkan karya dengan karakter dan identitas yang kuat.
Ketika Teknik Saja Tidak Lagi Cukup
Tantangan bagi para finalis semakin menarik
dengan kehadiran Ibuki, international dancer asal Jepang, sebagai International Judge Komix Herbal POTEK
Dance Fest 2026.
Bagi Ibuki, kompetisi juga menjadi ruang
belajar yang memungkinkan dancer
melihat bagaimana peserta lain menerjemahkan musik, budaya, dan identitas
mereka melalui gerakan. “Kompetisi memberi dancer kesempatan untuk belajar bukan hanya dari juri, tetapi juga dari
peserta lain. Saya sangat menantikan bagaimana para finalis membawa karakter
mereka sendiri, terutama ketika mereka harus menggabungkan dance modern dengan unsur budaya Indonesia.
Saya berharap mereka berani mengeksplorasi ide, percaya pada identitas mereka,
dan menikmati kesempatan untuk tampil di panggung Grand Final,” papar Ibuki.
Prambanan Menjadi Panggung Penentuan
Bagi tujuh finalis, Grand Final menjadi
puncak dari proses panjang yang dimulai dari membangun konsep dan koreografi,
mengikuti audisi dan semifinal regional, hingga kembali menyempurnakan karya
untuk menghadapi tim-tim terbaik dari daerah lain.
Di kawasan Prambanan, seluruh perjalanan
tersebut akan bertemu dalam satu panggung.
Tidak hanya membawa nama komunitas
masing-masing, para finalis juga membawa karakter daerah, referensi budaya,
serta interpretasi mereka terhadap tema Modern with
Indonesian Heritage. Para juri akan melihat bagaimana
setiap tim menyatukan teknik, musikalitas, kekompakan, kreativitas, storytelling, dan kekuatan penampilan menjadi
sebuah karya yang memiliki identitas.
Bagi Komix Herbal, Grand Final ini juga
menjadi penutup dari perjalanan yang sejak awal dirancang bukan semata-mata
sebagai sebuah kompetisi, tetapi sebagai ruang bagi anak muda untuk bergerak,
berekspresi, dan bertemu dengan komunitas yang memiliki kegemaran yang sama.
“Perjalanan ke berbagai kota membuat kami melihat betapa luasnya potensi generasi muda Indonesia. Sekarang saatnya tujuh finalis membawa versi terbaik mereka ke Yogyakarta. Kami ingin Grand Final menjadi perayaan atas kreativitas dan perjalanan mereka selama Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026, sekaligus menjadi panggung untuk menentukan siapa yang akan membawa pulang hadiah Rp50 juta dan kesempatan berangkat ke Jepang sebagai juara tahun ini,” tutup Andry.
Post a Comment