Dua Dekade Lebih Mengabdi, YEU Perkuat Benteng Masyarakat Hadapi Ancaman Krisis Iklim
WARTAJOGJA.ID — Genap berusia 25 tahun, lembaga kemanusiaan YAKKUM Emergency Unit (YEU) menegaskan komitmennya untuk memperkokoh ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman krisis iklim serta bencana alam yang kian kompleks. Perayaan seperempat abad ini ditandai dengan rangkaian kegiatan evaluasi aksi kemanusiaan di Disaster Oasis, Pakem, Sleman, sejak Jumat (28/8/2026).
Langkah YEU dalam merespons isu bencana kini tidak lagi sekadar berfokus pada fase tanggap darurat pascabencana semata, melainkan bertransformasi ke arah penguatan kapasitas komunitas secara menyeluruh dan inklusif.
Direktur YEU, Debora Dian Utami, menjelaskan bahwa sejak pertama kali berdiri pada 2001, fokus pelayanan YEU terus mengalami perluasan ke arah pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, hingga pemulihan pascabencana yang berkelanjutan. Menurutnya, pemahaman masyarakat akan potensi risiko bencana di wilayah masing-masing menjadi kunci utama keselamatan.
"Dalam perjalanannya, YEU tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga berupaya memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu mengenali risiko, beradaptasi, dan bangkit dari berbagai krisis," kata perempuan yang akrab disapa Ami tersebut di Sleman, Jumat.
Ami menekankan bahwa agenda peringatan ulang tahun perak yang mengusung tema ‘Bertumbuh, Berdampak, dan Berkelanjutan’ ini bukan sekadar perayaan formal, melainkan ruang refleksi bersama. Keberhasilan aksi kemanusiaan YEU selama 25 tahun, menurutnya, diukur dari sejauh mana pengetahuan dan jaringan yang terbangun mampu berdampak langsung bagi kemandirian warga dampingan.
Guna merespons tantangan masa depan, YEU juga menggelar sarasehan lintas generasi yang menyoroti keterlibatan pemuda dalam isu lingkungan hidup. Diskusi bertajuk ‘Generasi Garis Depan: Orang Muda dan Krisis Iklim yang Tidak Mereka Ciptakan’ tersebut melibatkan berbagai organisasi kepemudaan, seperti Karang Taruna Prima Gadung, Climate Ranger Jogja, Unit Layanan Disabilitas Surakarta, Solidaritas Perempuan Kinasih, hingga gerakan Jemput Suara.
"Melalui sarasehan ini kami ingin membuka ruang bagi berbagai pihak, khususnya anak muda, untuk berbagi pengalaman dan melihat persoalan krisis iklim dari perspektif yang beragam," ujar Ami menambahkan.
Selain diskusi publik, momen bersejarah ini ditandai dengan peluncuran soft launching buku rekam jejak berjudul ‘Petualangan Tuya: Menjelajah Ketangguhan, Menangkap Pendar Cahaya’. Buku tersebut mendokumentasikan dinamika, proses pembelajaran, serta dampak kerja-kerja kemanusiaan YEU bersama mitra masyarakat selama 25 tahun terakhir. Ami berharap catatan perjalanan itu tidak berhenti sebagai arsip sejarah, melainkan dapat dipelajari dan diterapkan oleh praktisi kemanusiaan lain di masa mendatang.
Rangkaian acara yang berlangsung selama dua hari hingga Sabtu (29/8/2026) tersebut juga dimeriahkan oleh pameran karya dan produk lokal lewat delapan booth bazaar dari kelompok masyarakat dampingan YEU serta unit kerja PKMK YAKKUM. Menghadapi era perubahan iklim global, YEU menilai inovasi lokal, pengelolaan pengetahuan, dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi tumpuan utama dalam membangun ketangguhan masyarakat yang berkelanjutan.
Post a Comment