News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Tingkatkan Produktivitas Peternakan, Mahasiswa UNU Jogja Kembangkan Inovasi Smart Incubator Penetas Ayam

Tingkatkan Produktivitas Peternakan, Mahasiswa UNU Jogja Kembangkan Inovasi Smart Incubator Penetas Ayam

WARTAJOGJA.ID : Dengan populasi nyaris 3,92 miliar ekor, peternakan ayam merupakan sektor UMKM dengan nilai ekonomi tinggi. Khusus untuk ayam kampung, dengan jumlah 314 juta ekor, nilai ekonominya diperkirakan berkisar antara Rp40 triliun hingga Rp70 triliun per tahun.

Namun produktivitas peternakan ayam kampung skala kecil ini kerap menghadapi kendala, terutama dalam proses penetasan telur. Mulai dari suhu yang tidak stabil, kelembapan udara yang tidak pas, hingga kelalaian dalam menata dan membalik telur.   Akibatnya, peternakan menangguk kerugian karena embrio ayam mati dan gagal menetas. 

Dalam industri peternakan yang telah mapan, kegagalan penetasan telur berada di kisaran 10-20 persen. Bagi peternakan rakyat skala kecil atau UMKM, menjaga rasio tetas telur tersebut butuh upaya ekstra. Mereka kerap menetaskan ayam secara manual atau membuat tempat penetasan sederhana. 

Masalah inilah yang coba diatasi tim mahasiswa Prodi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Informasi UNU Jogja. Tim yang digawangi Dwi Ardiyanto, Nabila Zuha Faizah, dan Fadil Maulana ini mengembangkan Smart Incubator atau mesin cerdas penetas telur ayam. 

“Mesin penetas cerdas ini berbasis Internet of Things (Iot) yang dilengkapi kontrol suhu dan pemutar otomatis. Selain itu, pemantauan suhu dan daya alat ini dapat dilakukan secara realtime dari web,” kata Dwi.

Inovasi ini merupakan salah satu dari belasan solusi teknologi yang dipamerkan di ajang Expo Teknik Elektro: AKSI (Apresiasi Kolaborasi Solusi Inovasi) Capstone Project dan Proyek Mata Kuliah Teknik Elektro UNU Jogja, Rabu (29/7/2026). 

Karya teknologi di program ini merupakan tugas untuk mahasiswa semester 6 guna merancang dan mengembangkan solusi berbasis teknologi yang mampu menjawab kebutuhan di lapangan, khususnya dalam mendukung aktivitas usaha UMKM.

Smart Incubator dikembangkan dari kendala penetasan telur yang dialami Bu Eni, peternak ayam di Godean, Sleman. Selama 21 hari proses penetasan, telur harus dibalik 3 - 4 kali sehari agar embrio ayam tidak menempel pada cangkang. “Proses membolak balik telur inilah yang memerlukan perhatian lebih. Soalnya peternak kadang lupa atau capek untuk membalik telur,” jelas Dwi.

Peranti tersebut mengatasi masalah itu dengan melakukan proses membalik telur secara otomatis setiap 4 jam. Kemampuan ini juga belum tersedia pada sejumlah mesin penetas telur yang beredar di pasaran. 

Secara otomatis pula, perangkat ini juga mengontrol suhu dan kelembapan di kisaran 37,5 derajat Celcius.  Melalui kinerja sensor, alat ini mengatur suhu tetap ideal untuk proses penetasan telur. Suhu yang terlalu panas atau dingin membuat embrio ayam mati atau cacat. 

“Dengan kapasitas 36 butir telur, Smart Incubator juga tetap memberi sirkulasi udara secara merata dan menjaga kestabilan suhu,” imbuhnya.

Yang lebih praktis lagi, seluruh kinerja alat ini dapat dipantau melalui web sistem monitoring. Peternak tak perlu mengecek ke alat langsung. 

Dalam aspek keberlanjutan, Smart  Incubator juga ramah lingkungan Dari segi kebutuhan energi, peranti ini hemat listrik dengan kebutuhan daya rata-rata 50 watt. Sebagian komponennya juga berasal dari bahan daur ulang.

“Dengan dukungan lebih lanjut, mengingat sistem kerjanya yang sama, ke depan kapasitas Smart Incubator dapat ditingkatkan seperti menambah daya tampung telur yang akan ditetaskan,” katanya.

Solusi Teknologi UMKM Lintas Sektor

Pameran AKSI Capstone Project menghadirkan belasan inovasi karya mahasiswa Teknik Elektro. Karya-karya inovatif ini dharapkan mengatasi tantangan pengembangan dan meningkatkan produktivitas UMKM lintas bidang. 

Bila Smart Incubator turut menjadi solusi di bidang peternakan, sektor pangan terbantu dengan sejumlah perangkat berbasis teknologi tepat guna, seperti pemotong wortel berbentuk dadu, pengupas kulit bawang, dan pemipil jagung otomatis. Berbagai inovasi ini juga selaras dengan upaya memperkuat ketahanan pangan. 

Ahmad Wasim Rizki, salah satu mahasiswa yang mengembangkan pemotong wortel, menjelaskan, perangkat tersebut memproduksi wortel secara lebih cepat dengan bentuk seragam berdimensi 6x6x6 milimeter. 

Proses pemotongan menggunakan alat ini lebih cepat dan efisien.  Dengan desain alat tertutup, aktivitas pemotongan juga lebih aman. Inovasi ini menjadi solusi bagi UMKM yang bergerak di usaha catering.

“Alat ini meringankan pekerjaan memotong wortel yang biasanya dilakukan secara manual. Sebelumnya sudah ada alat pemotong wortel, tapi tidak menggunakan listrik dan membutuhkan tenaga ekstra,” ujar Rizki. 

Dekan Fakultas Teknologi Informasi UNU Jogja, Dr. M. Syamsiro, mengatakan beberapa inovasi mahasiswa telah memasuki tahap hilirisasi dengan dukungan PT Bank BTPN, sehingga siap diproduksi dan dimanfaatkan oleh mitra UMKM.  Adapun inovasi lainnya, terutama karya mahasiswa semester 2 dan 4 masih dalam tahap purwarupa dan akan terus disempurnakan.

"Harapannya, hasil pengembangan tersebut dapat dihilirisasi dan diproduksi secara lebih luas. Bahkan, beberapa produk telah disepakati untuk diproduksi dalam jumlah terbatas sebagai tahap awal implementasi," ujarnya.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment