Perupa Afnan Malay Ungkap Sisi Kelam dan Titik Balik Lewat Pameran
WARTAJOGJA.ID — Perupa sekaligus penyintas stroke, Afnan Malay, menggelar pameran tunggal seni rupa bertajuk "Energi Rupa" di Kembang Jati Art House, Bantul, Yogyakarta. Pameran yang dikuratori oleh Rain Rosidi ini berlangsung selama 10 hari, mulai 18 hingga 27 Juli 2026. Melalui pameran ini, Afnan menuangkan memori kelam masa lalu saat pertama kali terserang stroke hingga titik baliknya kembali ke dunia seni rupa.
Afnan mengungkapkan bahwa keputusan untuk kembali menekuni seni rupa diambil pada akhir Desember 2025, tepatnya dimulai sejak tanggal 25 Desember 2025. Langkah ini menjadi semacam upaya dadakan setelah dirinya merasa sebaiknya tidak lagi menjalani aktivitas pergi pulang Jakarta-Yogyakarta. Ia memilih kembali ke jejak lama yang sempat terputus setelah sebelumnya sempat menempuh pendidikan formal seni rupa di SMSR Yogyakarta pada tahun 1982 bersama Bayu Wardana, Eko Rahmy, dan Nasirun, serta di Jurusan Lukis FSRD ISI Yogyakarta pada tahun 1992 bersama Adi Wicaksono, Dipo Andy, Diah Yulianti, Made Ketut Taman, Made Toris, Made Sumadiyasa, mendiang S. Teddy D, Weye Haryanto, dan Totok Nugroho.
Dalam pameran kali ini, salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan berjudul Hotel Zed, yang merekam sisi kelam saat Afnan pertama kali mendapat serangan stroke di London, Inggris, pada tahun 2018. Afnan menceritakan bahwa ingatan itu muncul secara spontan saat dirinya sedang menggambar bangunan apartemen yang bentuknya aneh menyerupai Menara Pisa.
"Saya teringat waktu saya setelah saya gini-gini kok, ini menariknya bangunan kan, apa apartemen, apa-apa, terus saya teringat itu. Karena gambarnya itu sebetulnya kan agak aneh ya, hotel kok kayak menara pisa gitu kan. Tapi itu saya merasakan kayak waktu saya di sana itu," ujar Afnan.
Serangan stroke tersebut terjadi di Hotel Zed saat Afnan sedang bepergian bertiga bersama teman-temannya dalam rangka rencana menonton pertandingan sepak bola antara Arsenal melawan Tottenham Hotspur di Stadion Wembley. Meskipun malam harinya sudah mengalami gejala stroke dan mendapat peringatan dari keponakannya yang seorang dokter bahwa itu adalah serangan, Afnan tetap memaksakan diri berangkat ke stadion keesokan harinya karena tiket sudah dibeli. Di stadion, kondisi fisiknya sudah menurun drastis hingga tidak bisa menikmati pertandingan sebelum akhirnya dirawat selama satu malam di London College Hospital.
Selain memori kelam, pameran ini juga menampilkan refleksi personal melalui lukisan bertema Jalan Lurus. Berbeda dengan konsep religius siratul mustaqim pada umumnya, Afnan menegaskan lukisan yang dipenuhi simbol visual hitam, putih, merah, dan figur seperti orang berkhotbah tersebut merupakan refleksi terhadap sikap dan hubungan sosial.
"Jalan lurus kan enggak harus selalu konteksnya ke hubungan sosial, bisa ke sikap kita, tidak berbohong, apa segala macam," kata Afnan.
Kembali ke dunia seni rupa di tengah keterbatasan fisik sebagai penyintas stroke diakui Afnan justru memberikan lonjakan energi yang luar biasa. Akibat stroke yang dideritanya sejak tahun 2018, Afnan memiliki keterbatasan gerak pada bagian tubuhnya. Namun, keterbatasan fisik itu tidak menghalanginya untuk melahirkan karya dalam jumlah banyak dengan tempo yang cepat, mulai dari ukuran 40x50 sentimeter hingga 130x145 sentimeter. Dalam suasana hati yang baik, ia bahkan mampu menghasilkan hingga tiga lukisan dalam sehari. Keterbatasan fisik itu juga membuat proses kreatifnya menjadi tidak terprediksi dan spontan, berbeda dengan pelukis realis yang mempola karyanya sejak awal. Afnan mencontohkan, lukisan yang awalnya direncanakan menjadi objek penari justru berubah menjadi wujud pelukan ibu saat selesai dibuat.
"Ya saya karena penyintas stroke, saya juga enggak nyangka setelah melukis itu kok, saya bisa menghasilkan karya cepat dan banyak, jadi energi itu sebetulnya, saya merasa kok, energi saya seakan-akan berlebih. Ketika melukis itu saya enggak pernah merasa capek, tapi setelah lukisan selesai, itu saya pengen makan, biasanya malam saya sudah enggak makan, tapi karena happy, ya makan ya makan aja," tutur Afnan menjelaskan proses kreatifnya.
Sebelum pameran Energi Rupa ini, Afnan yang juga pernah bekerja sebagai jurnalis, advokat, staf ketua MPR, serta stafsus Menteri Pertanian ini telah aktif menggelar pameran dan menulis ulasan seni di Jawa Pos, serta menjadi kurator di berbagai pameran seni di Jakarta, Magelang, dan Yogyakarta. Pada Februari 2026, ia menggelar pameran tunggal ALIR di Tan Art Space Semarang yang diulas Rain Rasidi dan dibuka Taufik Rahzen, serta pameran bersama RUPA 3 RUPA di Galeri Jawi Yogyakarta pada April 2026 bersama Kaji Habeb dan Luwi Darto.
Di samping dunia seni rupa, Afnan Malay juga dikenal sebagai seorang penyair yang telah melahirkan 4 kumpulan puisi sejak masa pandemi covid, dengan karya terakhir berjudul Anjing Berbukit Kabut pada tahun 2025. Puisinya tersebar di berbagai antologi komunitas sastra seperti Sastra Bulan Purnama dan Dari Negeri Poci. Atas dedikasinya, ia menjadi penyair pertama yang menerima Dana Indonesiana pada akhir tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan RI untuk kategori Penciptaan Karya Kreatif-Inovatif, setelah sebelumnya sempat melakukan residensi puitika di Chili pada tahun 2022 dan Kazakstan pada tahun 2024 dengan dukungan Dirjen Kebudayaan RI. Pengalaman hidupnya yang kaya, termasuk rekam jejak kunjungan ke berbagai negara seperti Singapura, Thailand, Jepang, China, Vietnam, India, Irak, Belgia, Belanda, Swedia, Denmark, Yordania, Palestina, dan Arab Saudi, kini seluruhnya melebur menjadi modal utama di balik derasnya arus kreativitas yang ia tampilkan di Kembang Jati Art House.
Post a Comment