News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

FKK MK UGM Gelar Summer Course Internasional Manajemen Bencana untuk Perkuat Sistem Kesehatan Hadapi Krisis Global

FKK MK UGM Gelar Summer Course Internasional Manajemen Bencana untuk Perkuat Sistem Kesehatan Hadapi Krisis Global


WARTAJOGJA.ID : ​Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan atau FKK MK UGM menyelenggarakan program internasional Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare – Health and Disaster Management: Before, During, and After Emergencies yang berlangsung pada 13 hingga 24 Juli 2026. Kegiatan berskala internasional ini bertujuan menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara guna memperkuat sistem kesehatan global dalam menghadapi berbagai macam bencana, mulai dari bencana alam, pandemi, hingga krisis kemanusiaan.

​Sebanyak 81 mahasiswa dari jenjang sarjana, profesi, dan pascasarjana tercatat berpartisipasi aktif dalam program ini. Para peserta lintas negara tersebut datang dari Indonesia, Palestina, Inggris, Austria, Turki, Spanyol, Kyrgyzstan, Belanda, Timor Leste, Thailand, dan Malaysia, dengan latar belakang program studi yang bervariasi mulai dari ilmu kesehatan, teknik, biologi, hingga filsafat.

​Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKK MK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D, menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa intensitas bencana di dunia kini semakin sering terjadi. Menurutnya, bencana tidak melulu berupa letusan gunung api seperti Merapi, melainkan juga berwujud pandemi COVID-19 hingga konflik kemanusiaan yang berisiko memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat luas.

​Dalam konferensi pers yang digelar di FKK MK UGM pada hari Senin, 13 Juli 2026, Ahmad Hamim Sadewa memaparkan tantangan kebencanaan saat ini. Beliau menyatakan, "Bencana itu tidak bisa diprediksi. Sebagian besar muncul di luar perkiraan sehingga menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama."

​Ahmad Hamim Sadewa menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh diletakkan di atas bahu sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan kolaborasi erat dari berbagai jenis profesi dan lembaga penunjang lainnya. Beliau menambahkan, "Bencana bukan ranah satu sektor saja, tetapi ranah banyak sektor. Tidak hanya sektor kesehatan, semuanya akan berperan. Bahkan TNI, Polri, ahli gizi, hingga berbagai bidang lain memiliki peran sesuai fase penanganan bencana."

​Menurut analisisnya, pengalaman penanganan bencana di masa lalu memperlihatkan bahwa pola koordinasi antarinstansi kerap berjalan kurang optimal. Ketidaksiapan inilah yang kemudian membuat penanganan di masa tanggap darurat menjadi tidak efektif.

​Ahmad Hamim Sadewa menyoroti kelemahan koordinasi yang masih kerap ditemui di lapangan. Beliau mengungkapkan, "Kalau ada bencana kita seperti tergagap-gagap, kaget, kurang koordinasi. Karena itu manajemen bencana harus terus diperkuat agar kita benar-benar siap. Ketika bencana terjadi, semua pihak sudah mengetahui perannya masing-masing sehingga penanganan menjadi lebih efektif."

​Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Summer Course 2026, Melyza Perdana, S.Kep., Ns., M.S., Ph.D, memaparkan bahwa program ini dirancang khusus guna mendongkrak kompetensi mahasiswa lewat metode pendekatan Interprofessional Education. Melalui skema ini, para peserta akan digembleng bersama dosen FKK MK UGM serta akademisi dari berbagai universitas mitra luar negeri demi membentuk kemampuan kolaborasi yang kuat dalam menjawab tantangan kesehatan global.

​Melyza Perdana menjelaskan sasaran utama yang ingin dicapai melalui program dua pekan ini. Beliau menjabarkan, "Program ini tidak hanya memperluas jejaring internasional, tetapi juga meningkatkan kompetensi peserta melalui pembelajaran bersama, skema joint supervision, hingga peluang transfer kredit. Kami ingin peserta mampu memahami persoalan kesehatan dalam situasi bencana sekaligus berkontribusi membangun sistem kesehatan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan."

​Selama jalannya program, seluruh peserta akan mengikuti serangkaian agenda akademik terstruktur seperti kuliah dari para pakar, diskusi panel, simulasi kebencanaan, bermain peran, praktikum, latihan tanggap darurat, kunjungan lapangan, hingga presentasi kelompok. Cakupan materi yang diajarkan meliputi penguatan sistem kesehatan tangguh, kesiapsiagaan menghadapi bencana, pelayanan kesehatan darurat, manajemen tempat pengungsian, dukungan kesehatan jiwa dan psikososial, Disaster Victim Identification atau DVI, pemulihan pascabencana, serta tata kelola gizi dalam situasi darurat.

​Sebagai media pembelajaran berbasis pengalaman langsung, peserta juga diajak mengunjungi Rumah Sakit Akademik UGM demi melihat implementasi manajemen bencana berbasis rumah sakit, mendatangi pusat pemantauan gunung api, hingga meninjau hunian tetap warga terdampak bencana. Selain itu, mereka akan dibekali pelatihan Psychological First Aid, simulasi tanggap bencana melalui table-top exercise, latihan respons pertama darurat, serta ilmu kedokteran kegawatdaruratan.

​Dukungan terhadap kolaborasi berskala global ini turut disampaikan oleh pembicara asal Taipei Medical University, Taiwan, Assoc. Prof. Fu-Chih Lai, RN., Ph.D. Ia menilai pertukaran pengalaman klinis dan praktik terbaik antaryurisdiksi merupakan modal krusial demi mematangkan kapasitas tenaga kesehatan serta para ahli lintas sektor dalam menghadapi kompleksitas situasi darurat bencana.

​Melalui perhelatan Summer Course 2026 ini, FKK MK UGM berharap mampu mencetak tenaga kesehatan dan profesional lintas sektor yang mumpuni dalam aspek mitigasi, respons taktis, hingga pemulihan pascabencana. Program berkelanjutan ini juga menjadi bukti nyata sumbangsih UGM dalam memperkokoh sistem kesehatan global dan mendongkrak ketahanan masyarakat saat berhadapan dengan ancaman bencana di masa depan.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment