Sido Muncul Resmikan Lab Farmakologi untuk Perkuat Riset Herbal dan Tangkal Hoaks Kesehatan
WARTAJOGJA.ID : PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk resmi membuka gedung permanen Laboratorium Farmakologi di area pabriknya yang terletak di Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah pada Selasa, 9 Juni 2026.
Fasilitas riset ini menjadi langkah strategis perusahaan dalam memadukan kekayaan tradisi jamu Indonesia dengan metode ilmiah modern guna membuktikan keamanan, mutu, dan khasiat produk obat bahan alam secara komprehensif.
Prosesi peresmian tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D. Acara dilanjutkan dengan pemotongan pita bersama Direktur Utama Sido Muncul Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr. Zulfachmi Wahab, Sp.PD., Subsp. H.Onk.M.(K), FINASIM, serta Wakil Bupati Semarang Dra. Hj. Nur Arifah. Setelah itu, Kepala BPOM beserta rombongan menyempatkan diri untuk meninjau fasilitas riset dan melihat langsung proses pengemasan produk herbal yang menerapkan teknologi modern dengan standar mutu yang ketat.
Laboratorium Farmakologi Sido Muncul sebenarnya telah berdiri sejak tahun 2001 demi menyokong pengembangan variasi produk perusahaan.
Demi merespons kebutuhan penelitian yang terus berkembang, fasilitas yang mulanya bertempat di bangunan semi permanen area belakang pabrik ini dipindahkan ke gedung baru yang lebih representatif dan modern seluas 288 meter persegi pada tahun 2019, lalu resmi beroperasi secara penuh pada Januari 2020.
Kini, operasional laboratorium dipimpin oleh seorang dokter hewan serta diperkuat oleh tim peneliti dan laboran yang berpengalaman di bidangnya.
Selama lebih dari dua dekade, fasilitas ini menjadi pusat pengujian ilmiah seperti uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronis, uji teratogenik, uji stamina, hingga uji aktivitas obat cacing.
Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat mengklaim bahwa fasilitas riset miliknya merupakan laboratorium farmakologi pertama yang dikelola oleh industri jamu di Indonesia. Menjelang usia perusahaan yang ke-75 tahun, Sido Muncul berkomitmen memusatkan fokus pada riset yang lebih mendalam agar produk jamu herbal lokal semakin diterima masyarakat berdasarkan bukti ilmiah yang akuntabel.
"Tidak banyak perusahaan jamu yang memiliki laboratorium farmakologi. Ini penting untuk membuktikan keamanan dan khasiat produk." kata Irwan.
Keberadaan fasilitas ini sangat penting untuk membuktikan keamanan dan khasiat produk.
"Labfar ini adalah laboratorium farmakologi yang pertama di industri jamu. Tujuannya untuk membuktikan keamanan dan khasiat produk. Semua yang dapat labelisasi dari Badan POM pasti aman dan sesuai dengan labelnya, tapi kami ingin mengembangkan industri ini supaya kami mendapat bukti-bukti yang lebih banyak."tegas Irwan.
Dalam beberapa bulan ke depan atau dalam setahun ini, pihak manajemen berharap mendapatkan lebih banyak bukti ilmiah terhadap produk mandiri maupun produk jamu secara umum.
Jika khasiatnya dinilai belum optimal, perusahaan berkomitmen untuk memperbaikinya karena seluruh orientasi pengembangan kini berbasis riset di mana
"Dalam beberapa bulan ke depan atau dalam setahun ini, kami berharap mendapatkan lebih banyak bukti ilmiah terhadap produk-produk kami maupun produk jamu secara umum. Kalau khasiatnya belum optimal, kami akan perbaiki. Orientasinya adalah berbasis riset."ungkap Irwan.
Dalam menjaga kualitas produk unggulannya seperti Tolak Angin, Sido Muncul menjalin kolaborasi dengan sejumlah institusi akademik kredibel seperti Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Kristen Maranatha.
Lingkup penelitian bersama perguruan tinggi ini mencakup pengujian mutu bahan baku herbal, uji keamanan penggunaan jangka panjang melalui uji toksisitas subkronis selama 90 hari yang memperlihatkan tidak adanya efek toksik, tidak ada kematian, serta fungsi organ vital seperti ginjal dan hati tetap normal.
Selain itu, riset klinis membuktikan konsumsi Tolak Angin Cair selama satu minggu efektif meningkatkan jumlah limfosit T perifer dan produksi sitokin tipe 1 yang menyokong sistem imun. Irwan menjamin bahwa "Tolak Angin dapat membantu menjaga daya tahan tubuh dan aman dikonsumsi sesuai anjuran yang telah ditentukan."
Laboratorium farmakologi tersebut juga difungsikan untuk mempercepat pembuktian khasiat obat tradisional lain yang sedang dikembangkan, salah satunya adalah SM-Diabe yang ditujukan membantu mengontrol gejala kencing manis. Pengujian awal pada hewan percobaan tikus yang diberi sukrosa menunjukkan hasil positif pada stabilitas kadar gula darah.
Irwan Hidayat menjelaskan contoh nyata pada produk SM-Diabe, di mana "Contohnya produk kami yang namanya SM-Diabe. Itu kalau dicobai kepada tikus yang telah diberi sukrosa, kemudian dikasih SM-Diabe, 15 menit gula darahnya naik tetapi tidak terlalu tinggi, lalu turun kembali. Kalau yang tidak diberi SM-Diabe, gula darahnya melonjak lebih tinggi."
Sebaliknya, tikus yang tidak diberi SM-Diabe mengalami lonjakan gula darah yang jauh lebih tinggi. Dalam uji pada tikus tersebut, kelompok yang diberi SM-Diabe menunjukkan kenaikan gula darah yang tidak signifikan setelah 15 menit dan kembali normal dalam waktu dua jam, sementara tikus tanpa SM-Diabe mengalami lonjakan yang lebih tajam sebagaimana ia sebutkan.
"Dalam uji pada tikus, yang diberi SM-Diabe menunjukkan kenaikan gula darah yang tidak signifikan setelah 15 menit dan kembali normal dalam dua jam. Sementara tikus tanpa SM-Diabe mengalami lonjakan yang lebih tajam." ujarnua.
Temuan ini membuktikan bahwa ternyata kalau orang minum sukrosa lalu mengonsumsi SM-Diabe secara bersamaan, kenaikan gula darahnya tidak setinggi kelompok kontrol.
Irwan menegaskan data tersebut merupakan temuan riset awal sebelum melangkah ke tahap pengembangan lanjutan.
Bagi Sido Muncul, kolaborasi dengan perguruan tinggi adalah instrumen krusial dalam menyusun ekosistem riset yang valid sekaligus membuka ruang edukasi obat alam.
Irwan memaparkan pihaknya siap menjadi pembimbing penelitian bagi mahasiswa atau akademisi demi mempercepat penemuan bukti empiris.
"Kami siap bekerja sama dengan universitas sebagai pembimbing penelitian. Mendapatkan bukti empiris lebih cepat menjadi hal yang penting untuk mendukung pengembangan produk." kata Irwan.
Di sisi lain, langkah penguatan riset laboratorium ini dinilai mendesak untuk merespons tantangan informasi digital yang masif, tidak terlihat, dan sulit dilacak sumbernya, karena sering kali menyebarkan isu negatif tanpa data objektif terhadap produk yang sudah berizin BPOM.
Salah satu isu miring yang diluruskan lewat riset laboratorium ini adalah kabar bohong di media sosial yang mengaitkan konsumsi minuman berenergi seperti Kuku Bima dengan kerusakan ginjal.
Irwan menyayangkan hoaks tersebut karena pemicu gangguan ginjal sebenarnya didominasi oleh gaya hidup buruk dan konsumsi alkohol berlebih, bukan akibat minuman energi. Guna mematahkan asumsi keliru tersebut, Sido Muncul menjalankan uji toksisitas akut dan subkronis pada tikus dengan memberikan dosis berkali-kali lipat dari takaran normal.
Irwan Hidayat mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi saat ini benar-benar masif dan tidak terlihat di mana
"Yang kami hadapi ini benar-benar masif, invisible. Kadang-kadang kita tidak tahu siapa yang memulai dan sulit juga kalau harus dituntut. Karena itu yang paling penting adalah memiliki bukti ilmiah yang kuat." Penelitian ini sengaja dibuat agar masyarakat percaya bahwa semua produk yang sudah melalui proses dan mendapatkan izin dari BPOM telah melewati evaluasi yang ketat di mana
"Makanya saya membuat penelitian ini supaya masyarakat percaya bahwa semua produk yang sudah melalui proses dan mendapatkan izin dari BPOM telah melalui evaluasi yang ketat."
Irwan kerap mendapati berita yang menyebutkan banyak mahasiswa atau masyarakat mengalami kerusakan ginjal akibat meminum minuman energi, di mana
"Saya pernah dapat berita banyak mahasiswa atau orang yang yang rusak ginjalnya karena minum energy drink. Banyak kan beritanya? Padahal banyak faktor lain seperti konsumsi alkohol berlebihan dan pola hidup yang tidak sehat." Ia menambahkan, jika kondisi ginjal seseorang sudah tidak memenuhi syarat medis, maka "Orang kalau ginjalnya sudah enggak memenuhi syarat, makan daging juga enggak boleh, garam pun enggak boleh."
Dalam pengujian laboratorium, tikus percobaan diberikan dosis satu saset, empat setengah saset, hingga lebih dari 12 saset, dan dalam dua minggu tidak ada kematian.
"Jadi diminumin satu saset, empat setengah saset, sampai lebih dari 12 saset, dua minggu tidak mati. Saat ini sudah jalan 12 hari untuk subkronis, tiga minggu subkronis. Nanti, kami lihat setelah satu bulan dan bedah. Hasilnya dikirim ke Undip atau ke patolog-patolog untuk mengecek apakah ada kerusakan pada ginjalnya. Sekarang kami lanjutkan penelitian subkronis dan nanti akan dicek kondisi ginjal serta organ lainnya secara ilmiah."
Irwan menegaskan minuman berenergi produksi mereka aman, karena jika tidak aman tentu tidak akan mendapatkan izin dari BPOM.
"Minuman berenergi kami aman. Kalau tidak, tak mungkin dapat izin dari BPOM. Uji laboratorium farmakologi kami buat agar masyarakat itu percaya. Energy drink itu juga pasti aman. Kalau tidak aman, tentu tidak akan mendapatkan izin dari BPOM. Saya membuat laboratorium ini supaya masyarakat semakin percaya bahwa semua yang dikeluarkan oleh Badan POM pasti aman dan tidak mungkin Badan POM mengeluarkan izin edar produk yang tidak aman."
Langkah Sido Muncul dalam memperluas fasilitas penelitian mandiri ini menuai apresiasi besar dari Kepala BPOM RI Taruna Ikrar. Dirinya menyatakan langkah ini selaras dengan tugas pokok BPOM dalam mengawal perlindungan konsumen, di mana jaminan keamanan, mutu, serta efikasi atau khasiat produk wajib berlandaskan pada kebijakan berbasis bukti ilmiah, bukan sekadar klaim semata. Taruna menganggap kehadiran laboratorium farmakologi internal pada industri herbal sebagai modal kuat guna mendongkrak daya saing produk jamu lokal di pasar domestik maupun internasional.
Taruna Ikrar menerangkan bahwa "Tugas BPOM adalah memberikan tiga jaminan, yaitu keamanan, mutu, dan efikasi. Ketiganya harus berbasis data dan bukti ilmiah."
Apabila suatu produk telah memiliki izin edar resmi dari BPOM, maka lembaga tersebut menjamin bahwa "Apabila suatu produk telah memiliki izin edar dari BPOM, maka BPOM menjamin bahwa produk tersebut telah melalui proses evaluasi sehingga memenuhi aspek keamanan, khasiat atau efikasi, serta kualitas.
Termasuk produk-produk Sido Muncul yang telah memperoleh izin edar dari BPOM." BPOM bertugas memastikan keamanan, kualitas, serta edukasi kepada masyarakat di mana semua tindakan harus didasarkan pada kebijakan berbasis bukti ilmiah di mana "Tugas BPOM adalah memastikan keamanan, kualitas, serta edukasi kepada masyarakat. Semua itu harus didasarkan pada evidence-based policy atau kebijakan yang berbasis bukti ilmiah. Oleh karena itu, penjaminan suatu produk aman atau tidak harus memiliki landasan ilmiah yang kuat, tidak sekadar berdasarkan klaim."
Oleh sebab itu, Taruna mengimbau publik untuk selalu mempraktikkan prinsip Cek KLIK, yaitu menguji Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa sebelum mengonsumsi sebuah produk. Berkaitan dengan upaya memberantas misinformasi obat dan makanan di ruang digital, BPOM telah mengesahkan Peraturan BPOM Nomor 16 Tahun 2025 mengenai Partisipasi Masyarakat dalam Pengawasan Obat dan Makanan. Regulasi tersebut diterbitkan menyusul temuan BPOM sepanjang tahun 2025 yang mencatat adanya sekitar 1,3 juta tautan internet bermuatan hoaks serta informasi keliru. Taruna berpesan kepada masyarakat luas maupun para pembuat konten di media sosial agar lebih bijak menyebarkan informasi.
Taruna meminta seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan media sosial secara arif dan bijaksana di mana "Kami meminta seluruh masyarakat untuk menggunakan media sosial secara arif dan bijaksana. Kebebasan itu ada, tetapi harus disertai tanggung jawab."
Berdasarkan data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia menyimpan potensi luar biasa dengan kepemilikan sekitar 31 ribu jenis tumbuhan berkhasiat obat dari total 40 ribu spesies tanaman di dunia. Taruna pun menyebut Sido Muncul sebagai aset nasional milik bersama yang patut didukung pengembangannya, bukan sekadar milik internal direksi atau pemegang saham.
Ia memproyeksikan Laboratorium Farmakologi Sido Muncul dapat bertransformasi menjadi pusat unggulan dunia dalam riset obat herbal atau *center of excellence global for herbal medicine*.
Taruna mengimbuhkan harapannya agar produk-produk herbal asli Indonesia dapat menjadi ikon bangsa di tingkat global di mana "Kita berharap produk-produk Indonesia dapat menjadi ikon bangsa di tingkat global. Jika dunia mengenal ginseng dari Korea Selatan dan Traditional Chinese Medicine dari Tiongkok, maka jamu harus menjadi identitas Indonesia."
Dukungan serupa diutarakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr. Zulfachmi Wahab yang memandang laboratorium farmakologi ini sebagai instrumen vital dalam menjembatani warisan empiris jamu dengan modernisasi sektor kesehatan berbasis sains. Keberadaan riset berkelanjutan ini diproyeksikan mampu mengakselerasi hilirisasi jamu khas Jawa Tengah agar bisa naik kelas dari ramuan tradisional menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT), hingga nantinya mencapai level fitofarmaka yang diakui secara klinis serta dapat masuk dalam sistem peresepan pelayanan medis formal.
Zulfachmi Wahab berpendapat bahwa "Laboratorium Farmakologi memegang peran penting untuk membuktikan keamanan, khasiat, dan dosis obat alam melalui penelitian berbasis saintifik." Fasilitas yang diresmikan ini dinilai menjadi jembatan penting antara tradisi jamu Indonesia dengan modernisasi industri kesehatan di mana "Laboratorium Farmakologi yang diresmikan hari ini menjadi jembatan penting antara tradisi jamu Indonesia dengan modernisasi industri kesehatan."
Kehadiran laboratorium ini diharapkan dapat mempercepat proses hilirisasi hasil riset obat tradisional di Indonesia di mana "Kehadiran laboratorium ini diharapkan dapat mempercepat proses hilirisasi hasil riset obat tradisional Indonesia. Kita ingin melihat semakin banyak produk herbal asli Jawa Tengah yang naik kelas, dari jamu empiris menjadi Obat Herbal Terstandar dan pada akhirnya berkembang menjadi fitofarmaka yang diakui serta dapat diresepkan dalam pelayanan kesehatan formal."
Zulfachmi juga mendorong kolaborasi yang lebih luas antara pihak industri, perguruan tinggi, dan pemerintah.
Melalui peresmian laboratorium farmakologi permanen ini, Sido Muncul optimis dapat membangun budaya riset yang solid dan berkelanjutan dalam internal korporasi. Dengan kepemilikan data ilmiah yang sahih, perusahaan berharap produk-produk asli Indonesia semakin dipercaya, dicintai, serta mampu memperkuat posisinya di mata publik.
Irwan Hidayat menambahkan, "Kami ingin hasil-hasil riset ini memperkuat kepercayaan publik terhadap produk asli Indonesia."
Ke depan, Sido Muncul berharap dapat bekerja sama lebih luas dengan BPOM maupun berbagai institusi penelitian lainnya di mana "Ke depan kami berharap dapat bekerja sama lebih luas dengan BPOM maupun berbagai institusi penelitian lainnya," kata dia.
"Mudah-mudahan laboratorium ini dapat membantu mempercepat pembuktian ilmiah terhadap kekayaan hayati Indonesia sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas." pungkas Irwan.
Post a Comment