News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kolaborasi Lintas Disiplin ISI Yogyakarta dan Seniman Australia Soroti Tragedi Kemanusiaan Lewat Pertunjukan Palmyra

Kolaborasi Lintas Disiplin ISI Yogyakarta dan Seniman Australia Soroti Tragedi Kemanusiaan Lewat Pertunjukan Palmyra


WARTAJOGJA.ID — Panggung Galeri RJ Katamsi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjadi saksi kolaborasi lintas disiplin ISI Yogyakarta dan seniman Australia dalam mementaskan sebuah karya seni pertunjukan imersif bertajuk Palmyra: Tug of War.. The Agony pada Sabtu, 20 Juni 2026. 

Pertunjukan ini merupakan hasil kerja sama erat antara sivitas akademika ISI Yogyakarta dengan seniman asal Australia, Fassih Keiso, sebagai bagian dari perhelatan Dies Natalis ISI Yogyakarta 2026 yang mengusung tema Redefining Art Impact. Karya eksperimental ini memadukan berbagai medium seni mulai dari video, suara, animasi, fashion, tari, musik pertunjukan, fotografi, hingga objek artistik dalam satu kesatuan ruang.

​Pertunjukan Palmyra: Tug of War.. The Agony sendiri berakar dari pengalaman personal Fassih Keiso sebagai warga sipil yang bertahan hidup di tengah kecamuk perang Suriah. Narasi utamanya menyoroti makna mendalam dari selembar selimut bantuan kemanusiaan dari UNHCR yang bertransformasi menjadi benda esensial dalam keseharian keluarganya. Selimut tersebut tidak sekadar menjadi alas tidur, melainkan juga dialihfungsikan sebagai pakaian, alas lantai, serta penopang segala aktivitas domestik di tengah krisis dan keterbatasan akibat konflik yang berkepanjangan. 


Melalui pendekatan seni yang melintasi berbagai disiplin, karya ini menyuarakan tentang kehilangan, ketahanan, serta perjuangan manusia dalam mempertahankan martabat hidup mereka di tengah puing-puing kehancuran.

Agenda ini menjadi bukti nyata bagaimana seni dapat bergerak melampaui sekat-sekat perbedaan. "Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana seni mampu melampaui batas geografis, budaya, dan disiplin ilmu untuk menghadirkan ruang dialog yang kritis sekaligus empatik bagi masyarakat global," dikutip dalam keterangan resminya.

 Melalui jalinan berbagai medium artistik tersebut, panggung pertunjukan berhasil mempertemukan unsur tubuh, suara, citra, dan ruang guna membicarakan isu-isu kemanusiaan yang bersifat universal.

​Dalam realisasinya, pertunjukan ini melibatkan 11 mahasiswa ISI Yogyakarta yang tampil memukau sebagai penari, yaitu Nurma Mitzuhu Nurika, Dinda Prajna Paramita, Cantik Gemilang Kasih Purba, Liza Bitana, Della Merdica, Fania Azzahra, Monica Clairine Adelia Putri, Aliefian Meiga Fara, Venawa Vania, Rayhan Putra Tulus Pambudi, dan Icha Fikri Kurniawan. Proses kreatif pementasan ini juga didukung penuh oleh jajaran dosen ISI Yogyakarta yang memberikan keahlian dari lintas disiplin ilmu seni. Anggun Ida Mawadda, S.Sn., M.Sn. bertindak sebagai koreografer yang bertugas menerjemahkan rasa trauma, ketahanan, dan pergulatan hidup ke dalam bahasa tubuh yang ekspresif.

​Di sisi lain, pengolahan dimensi visual dan citra bergerak dipercayakan kepada Pius Rino Pungkiawan, S.Sn., M.Sn. bersama Antonius Janu Haryono, S.Sn., M.Sn. selaku videografer. Mereka mengolah visual tersebut menjadi elemen naratif yang memperluas ruang refleksi penonton dengan menghadirkan lapisan memori, dokumentasi, serta simbolisme perang. Sementara itu, Raynald Alfian Y., M.Phil. memegang tanggung jawab penuh pada aspek artistik dengan merancang atmosfer pertunjukan melalui tata ruang, objek, visual, dan hubungan antarmedium agar seluruh elemen terikat dalam satu kesatuan estetika yang utuh.


​Raynald Alfian Y. selaku penata artistik menegaskan bahwa keterlibatan para akademisi dan seniman asing ini memberikan dampak besar pada kepekaan sosial mahasiswa. "Kehadiran para dosen serta mahasiswa dalam proyek ini tidak hanya memperkuat kualitas artistik karya, tetapi juga mencerminkan semangat kolaborasi antara seniman internasional, akademisi, dan mahasiswa dalam menciptakan praktik seni yang responsif terhadap isu-isu kemanusiaan global," ungkap Raynald setelah pementasan berakhir. Pementasan ini sekaligus mengajak penonton untuk tidak sekadar menjadi pengamat pasif, melainkan ikut merenungkan posisi serta keterlibatan mereka terhadap konflik internasional yang masih terjadi hingga kini beserta dampak buruk perang bagi individu dan masyarakat.

​Langkah strategis ini juga menjadi bagian dari upaya ISI Yogyakarta dalam memperluas jejaring kerja sama internasional mereka. Guna membuka peluang kolaborasi global yang lebih luas di masa depan, ISI Yogyakarta menggandeng Project Eleven sebagai mitra strategis dalam perayaan Dies Natalis tahun ini sekaligus memperkokoh posisi institusi sebagai wadah pertemuan kreatif bagi para seniman, akademisi, dan praktisi seni dunia. Melalui Palmyra: Tug of War.. The Agony, ISI Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya untuk memproduksi karya seni yang tidak hanya mengejar pencapaian estetik, melainkan juga memiliki relevansi sosial yang kuat. Rekaman dan representasi dari karya kolaboratif ini dapat dinikmati oleh publik dalam Pameran Internasional bertajuk The Way of Seeing yang dikuratori oleh Dewi Bukit di Galeri RJ Katamsi lantai 3, Kampus ISI Yogyakarta, yang berlangsung pada 20 hingga 27 Juni 2026.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment