ISI Yogyakarta Padukan Eksistensi Seni dan Teknologi dalam Pameran Post-Machine Algorithm
WARTAJOGJA.ID : Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta resmi menggelar pameran bertajuk Post-Machine Algorithm: Resonansi Rasa dalam Jejaring Biner pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, pukul 19.00 WIB.
Diselenggarakan di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta hingga 26 Juni 2026, pameran ini menjadi agenda utama dalam rangkaian Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta yang mengusung tema besar Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan, dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence.
Acara pembukaan diresmikan oleh Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., bersama Konfir Kabo dari Project Eleven dan John Cruthers dari 16albermarle. Kehadiran para tokoh ini memperkuat posisi pameran sebagai agenda akademik sekaligus ruang kolaborasi lintas jejaring seni, kebudayaan, dan praktik kreatif internasional.
Di tengah kemajuan teknologi yang kian mampu memprediksi, mengimitasi, bahkan memproduksi estetika, ISI Yogyakarta menempatkan seni sebagai kekuatan humanistik yang tetap berpijak pada rasa, intuisi, pengalaman, materialitas, dan kesadaran kemanusiaan. Pameran ini dihadirkan sebagai ruang pembacaan kritis terhadap perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perubahan lanskap kreatif kontemporer.
Dalam sambutannya, Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, menegaskan komitmen institusi untuk aktif merespons perubahan zaman melalui pendekatan yang humanis. Beliau menyatakan bahwa algoritma sejati tidak hanya hadir dalam kode pemrograman, melainkan dalam aspek emosional manusia.
"Melalui rangkaian Dies Natalis ke-42 ini, ISI Yogyakarta menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi seni yang terus hadir dan relevan dalam menghadapi dinamika perkembangan teknologi dan peradaban," ujar Irwandi.
Beliau juga menambahkan mengenai gagasan inti dari pameran ini yang mencoba melampaui batasan teknologi komputer.
"Pameran ini mengajukan pandangan bahwa algoritma sejati tidak hanya hadir sebagai kode pemrograman, tetapi juga sebagai algoritma rasa yang lahir dari pengalaman hidup, sentuhan tangan, dan kesadaran kemanusiaan," kata Irwandi.
Mengusung tema Redefining Arts Impact, ISI Yogyakarta menempatkan seni tidak hanya sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai instrumen kemanusiaan yang mampu membangun empati lintas budaya, menghadirkan narasi alternatif, serta mengkritisi dominasi logika algoritmik di era digital.
Pameran ini menampilkan 167 karya dari lebih dari 120 perupa yang terdiri atas mahasiswa, alumni, dosen, serta mitra ISI Yogyakarta dari berbagai negara seperti Thailand, Malaysia, Jepang, dan Australia. Karya-karya tersebut memadukan refleksi konseptual, kekuatan visual, dan kedalaman gagasan.
Dekan FSRD ISI Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin, menjelaskan bahwa sebagian besar karya merupakan hasil dari proses pendidikan selama satu tahun terakhir. Beliau menilai pameran ini menunjukkan peran strategis seni rupa dan desain dalam membaca perubahan peradaban. Seni bukan hanya menjadi medium ekspresi, melainkan juga sarana refleksi, kritik, pemulihan, dan penciptaan makna yang menempatkan kampus sebagai pusat pendidikan seni yang memimpin percakapan masa depan seni di tengah transformasi digital global dengan tetap menjaga tradisi.
Konsep pameran ini dikuratori oleh Dr. Nadiyah Tunnikmah, S.Sn., M.A., Lily Elserisa, M.Sn., dan Khoirul Anam, S.Sn., M.A., yang mengkaji relasi manusia dan mesin dalam lanskap pasca-digital. Salah satu kurator pameran, Nadiyah Tunnikmah, memaparkan bahwa gagasan pameran berangkat dari pertanyaan mendasar mengenai posisi manusia ketika teknologi mengambil alih sebagian proses kreatif.
“Di tengah kemajuan teknologi yang semakin mampu memprediksi, mengimitasi, bahkan memproduksi estetika, ISI Yogyakarta menempatkan seni sebagai kekuatan humanistik yang tetap berpijak pada rasa, intuisi, pengalaman, materialitas, dan kesadaran kemanusiaan,” kata Nadiyah.
Nadiyah menegaskan bahwa karya seni dalam pameran ini tidak diposisikan sebagai hasil akhir semata, melainkan sebuah proses yang menyimpan intuisi, pengalaman hidup, memori kolektif, serta jejak kemanusiaan yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi oleh mesin. Seni dipahami sebagai ruang negosiasi antara Rasa sebagai representasi tradisi, tubuh, intuisi, dan pengalaman manusia, dengan Logika sebagai representasi sistem, kode, data, dan algoritma. Melalui ketegangan tersebut, pameran mengajukan pandangan tentang lahirnya algoritma rasa dari sentuhan manusiawi, di mana praktik artistik diposisikan untuk merespons, menegosiasi, sekaligus memulihkan hubungan manusia dengan lingkungan sosial budayanya.
Rangkaian acara pembukaan dimeriahkan oleh sejumlah agenda, mulai dari sambutan protokoler, sambutan Dekan FSRD, pergelaran Fashion Show DMKB, sambutan Rektor ISI Yogyakarta dan Project Eleven, penganugerahan karya terbaik, seremoni pembukaan, hingga tur galeri bersama kurator. Kehadiran Fashion Show bertajuk Celebrating Creativity, Culture, and Innovation Through Fashion memperluas cakupan pameran sebagai ruang pertemuan seni rupa, desain, fesyen, budaya, dan inovasi, sekaligus menampilkan energi baru fesyen Indonesia dari batik hingga busana kontemporer.
Pergelaran yang dihadirkan oleh Program Studi Sarjana Terapan Desain Mode Kriya Batik FSRD ISI Yogyakarta ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menampilkan capaian pembelajaran, eksplorasi visual, pengolahan tekstil, dan kemampuan merancang busana berkarakter. Karya-karya yang dipresentasikan mencakup kategori menswear, muslim fashion, ethnic fashion, dan evening wear yang memperlihatkan pendekatan desain dalam membaca kebutuhan tren masa kini tanpa meninggalkan nilai budaya Indonesia.
Sebanyak 20 desainer mahasiswa menampilkan karya busana orisinal mereka, ditambah dengan enam karya kolaborasi antara mahasiswa Program Studi Kriya dengan mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Desain Mode Kriya Batik yang mempertemukan karya perhiasan dan busana dalam satu kesatuan artistik lintas disiplin ilmu. Kolaborasi ini mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif, kritis, inovatif, dan kontekstual dalam mengolah gagasan, material, teknik, dan nilai budaya menjadi karya fesyen kontemporer yang kompetitif.
Galeri R.J. Katamsi berfungsi sebagai ruang presentasi yang mempertemukan karya mahasiswa dengan publik agar civitas akademika dan masyarakat dapat melihat langsung perkembangan desain mode dan kriya dari proses perkuliahan. Agenda ini menjadi bukti bahwa pendidikan seni di ISI Yogyakarta bergerak mengikuti dinamika zaman tanpa meninggalkan akar budaya sebagai identitas penting penciptaan. Pergelaran busana ini diharapkan menjadi ruang apresiasi dan inspirasi bagi industri mode nasional, sekaligus menegaskan komitmen institusi dalam mencetak generasi kreatif yang berkelanjutan.
Pameran Post-Machine Algorithm dan pergelaran busana ini terintegrasi dalam rangkaian besar Dies Natalis ke-42 yang melibatkan seluruh fakultas di ISI Yogyakarta, yang berlangsung dari 12 Mei hingga 30 Agustus 2026 di Kampus ISI Yogyakarta. Dalam agenda ini, FSRD menggelar pameran, fashion show, workshop teknologi dan pasca-humanisme, serta simposium internasional. Fakultas Seni Media Rekam menghadirkan pameran dan penayangan karya seni media rekam, Fakultas Seni Pertunjukan menyajikan berbagai pergelaran, sedangkan Program Pascasarjana menyelenggarakan seminar bertema seni dan Artificial Intelligence.
Melalui penyelenggaraan ini, ISI Yogyakarta memperkuat reputasinya sebagai pusat pendidikan tinggi seni yang aktif memimpin percakapan tentang masa depan seni di tengah transformasi teknologi global. Kampus ini menempatkan seni sebagai kekuatan yang menavigasi perubahan, mengkritisi teknologi secara etis, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi kebudayaan, pendidikan, dan kemanusiaan. Pameran ini terbuka luas sebagai ruang apresiasi bagi publik untuk melihat bagaimana seni bekerja di tengah zaman yang digerakkan data, mesin, dan kecerdasan buatan. Dengan memadukan refleksi konseptual dan kekuatan visual, pameran ini menjadi penegasan bahwa di era Artificial Intelligence, seni tetap memiliki peran sentral dalam menjaga rasa, empati, imajinasi, dan martabat kemanusiaan, sekaligus membuktikan kampus seni sebagai laboratorium penciptaan yang produktif, adaptif, dan berdampak nyata bagi ekosistem kreatif Indonesia.
Post a Comment