FSMR ISI Yogyakarta Rayakan Dies Natalis ke-42 : Dari Pameran, Simposium, Hingga Layar Tancap Narrating Humanity
WARTAJOGJA.ID – Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta menyelenggarakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-42 Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan mengusung tema “Narrating Humanity: Kesadaran Sosial dan Kreativitas Seni Media Rekam di Era Artificial Intelligence.”
Dekan Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Dr. Edial Rusli, S.E., M.Sn. mengatakan tema ini merupakan respons sekaligus penjabaran dari tema besar Dies Natalis ISI Yogyakarta tahun 2026, “Redefining Arts Impact: Seni, Kemanusiaan dan Kreativitas di Era Artificial Intelligence.”
"Tema tersebut merupakan respons terhadap perkembangan kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi kehidupan manusia, termasuk dunia seni," kata Edial.
Sementara Ketua Dies Natalis ke-42 ISI Yogyakarta, Dr. Rahmat Aditya Warman, S.Pd., M.Eng., mengatakan kemajuan teknologi tidak semestinya menggantikan manusia.
"Sebaliknya, teknologi menjadi medium bagi seniman untuk menyampaikan gagasan, membangun kesadaran sosial, dan memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi pusat peradaban," ujarnya.
Melalui rangkaian pameran, simposium internasional, workshop, hingga layar tancap, FSMR menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan praktik seni media rekam yang tidak hanya unggul secara akademik dan artistik, tetapi juga memiliki relevansi sosial serta dampak nyata bagi masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin masif, FSMR menempatkan seni sebagai ruang refleksi kemanusiaan, medium dialog sosial, sekaligus wahana inovasi kreatif yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Perhelatan ini juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FSMR dalam memperkuat rekognisi internasional melalui berbagai kolaborasi strategis.
Pada penyelenggaraan tahun ini, FSMR bekerja sama dengan Project Eleven sebagai mitra utama dalam pelaksanaan Asia Pacific Arts Forum (APAF) Symposium, sebuah forum akademik yang mempertemukan peneliti, seniman, praktisi, dan akademisi dari berbagai institusi dan negara.
Kolaborasi ini memperluas jejaring internasional ISI Yogyakarta sekaligus membuka ruang pertukaran gagasan lintas budaya dan disiplin yang semakin relevan dalam lanskap seni global kontemporer.
Rangkaian kegiatan diawali melalui Exhibition “Narrating Humanity” yang berlangsung pada 22–26 Juni 2026 di Galeri Pandeng FSMR dan Gedung AUVI ISI Yogyakarta.
Pameran ini menampilkan karya-karya fotografi, animasi, film, televisi, dan media digital yang mengangkat berbagai perspektif mengenai kehidupan, identitas, budaya, serta isu-isu kemanusiaan melalui pendekatan visual dan audiovisual. Selain menjadi ruang apresiasi karya, pameran ini juga menjadi arena pertemuan antara sivitas akademika, praktisi kreatif, mahasiswa, alumni, dan masyarakat umum untuk membangun dialog yang lebih luas mengenai peran seni media rekam dalam merespons berbagai persoalan sosial kontemporer.
Secara keseluruhan, pameran menghadirkan 150 karya dari berbagai program studi di lingkungan FSMR. Program Studi Animasi menampilkan 38 karya, yang terdiri atas 12 karya animasi, 12 buku cerita anak, 5 game, 5 ilustrasi digital, 2 desain karakter, 1 poster, dan 1 story bible. Karya-karya tersebut menunjukkan perkembangan praktik animasi yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga pendidikan, interaktivitas, dan pengembangan narasi visual.
Koordinator pameran dari FSMR ISI Yogyakarta, Yusuf Davit Palma Putra, menjelaskan bahwa masyarakat umum dapat mengunjungi pameran secara gratis selama kegiatan berlangsung.
"Galeri Pandeng dan ruang pamer AUVI terbuka untuk masyarakat umum. Selain pameran, setiap hari juga ada pemutaran film karya dosen dan mahasiswa," katanya.
Menurut Yusuf, sejumlah film yang diputar merupakan karya berprestasi di tingkat internasional. Salah satunya film dokumenter Djum yang mengangkat kisah perjuangan para pekerja pengangkut sampah dan berhasil meraih penghargaan di ajang internasional di Bulgaria.
Sementara itu, Program Studi Film dan Televisi (FTV) menghadirkan 18 karya, terdiri atas 9 film fiksi, 2 film dokumenter, 1 video art, 1 film tari, 4 naskah, dan 1 program televisi. Karya-karya tersebut merupakan hasil kolaborasi yang melibatkan dosen dan mahasiswa dalam berbagai eksplorasi bentuk audiovisual yang merefleksikan dinamika sosial, budaya, dan estetika kontemporer.
Program Studi Produksi Film dan Televisi (PFT) turut berpartisipasi melalui 7 karya, yang terdiri atas 6 film dan 1 ilustrasi karya, menampilkan berbagai pendekatan produksi audiovisual yang menggabungkan kreativitas artistik dengan kompetensi teknis industri.
Program Studi Fotografi yang menampilkan 87 karya, meliputi 26 karya pajang dalam negeri, 5 karya pajang luar negeri, 6 karya slideshow luar negeri, 6 portofolio foto dokumenter, 16 foto produk, 8 karya fotografi otomotif, 7 foto ekspresi, 3 foto model, serta 10 karya pajang lainnya yang terdiri atas foto produk dan fotografi komersial. Keberagaman karya ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dan dosen FSMR dalam menjelajahi berbagai spektrum praktik fotografi, mulai dari dokumentasi sosial hingga kebutuhan industri kreatif.
Selain pameran, kegiatan pembukaan juga dirangkaikan dengan Workshop Penulisan Artikel Ilmiah yang menghadirkan Patric Hartono electroacoustic composer, audiovisual artist and researcher, Lecturer in Digital Media (Interaction) RMIT Vietnam. Workshop ini memberikan wawasan mengenai strategi penyusunan artikel ilmiah berkualitas, mulai dari pengembangan gagasan, struktur penulisan, hingga peluang publikasi pada jurnal akademik internasional. Kehadiran akademisi internasional dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FSMR memperkuat budaya riset dan publikasi di lingkungan akademik seni.
Puncak kegiatan akademik diselenggarakan melalui Symposium APAF pada 24 Juni 2026 yang menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional, yaitu Ferdiansyah, Silviana Amanda Aurelia Tahalea, Dr. Haisang Javanalikhikara (Thailand), Fasih Keiso (Australia), Dr. Retno Mustika, dan Adya Arsita, M.A. Simposium ditutup dengan keynote lecture oleh Oscar Motuloh, salah satu tokoh penting fotografi Indonesia. Forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai perkembangan seni media rekam, budaya visual, fotografi, film, dan praktik kreatif kontemporer dalam konteks nasional maupun global.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas praktis mahasiswa dan masyarakat kreatif, FSMR juga menyelenggarakan dua workshop tematik. Workshop pertama bertajuk Music Scoring menghadirkan Juang Manyala, membahas peran musik dalam membangun emosi, atmosfer, dan identitas naratif pada karya audiovisual. Workshop kedua bertajuk Visual Recording as an Ethnographic Medium in Indonesian Culture menghadirkan Wahyudin, yang mengulas praktik media visual sebagai instrumen dokumentasi dan penelitian budaya Indonesia.
Rangkaian Dies Natalis FSMR ditutup melalui kegiatan Layar Tancap yang diselenggarakan di area depan Rektorat Lama ISI Yogyakarta.
Kegiatan ini menghadirkan pengalaman menonton bersama yang terbuka bagi sivitas akademika maupun masyarakat umum melalui penayangan enam karya pilihan, yaitu Kediaman, Kehidupan di Atas Kehidupan, Pesona Banyuwangi, Bunga-Bunga di Jala Ikan, Ayam Kuoclok: Kebanggaan Peternak Ayam Kampung di Indonesia, dan Djum. Tidak sekadar menjadi ruang hiburan, layar tancap menjadi sarana memperluas apresiasi publik terhadap karya audiovisual sekaligus mempererat hubungan antara kampus dan masyarakat melalui ruang temu budaya yang inklusif.
Melalui keseluruhan rangkaian kegiatan ini, FSMR ISI Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan seni media rekam yang terus bergerak dinamis dalam merespons perkembangan teknologi, memperkuat kolaborasi internasional, serta menghasilkan karya-karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dies Natalis ke-42 tidak hanya menjadi perayaan institusional, tetapi juga momentum untuk menunjukkan bahwa seni media rekam mampu menjadi jembatan antara kreativitas, inovasi, pengetahuan, dan kemanusiaan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Post a Comment