News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dosen ISI Yogyakarta Angkat Isu Trauma dan Kekerasan Lewat Pedalangan Kontemporer di SMKI

Dosen ISI Yogyakarta Angkat Isu Trauma dan Kekerasan Lewat Pedalangan Kontemporer di SMKI

WARTAJOGJA.ID — Program Studi S1 Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar Gelar Karya Dosen di Arena Terbuka SMK Negeri 1 Kasihan atau SMKI Yogyakarta, Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi pedalangan, gagasan akademik, dan isu sosial kontemporer yang dekat dengan kehidupan masyarakat. 

Mengusung pendekatan pakeliran kontemporer, gelar karya tersebut menghadirkan dua karya dosen ISI Yogyakarta, yakni “Dendam Kesumat Jara” karya Hariyanto, S.Sn., M.Hum., serta “Iman Suwongso Takon Bapa” karya Aneng Kiswantoro, S.Sn., M.Sn. 

Selain itu, panggung juga memberi ruang regenerasi melalui penampilan Alif Marsha Novandra, siswa SMK Negeri 1 Kasihan, yang membawakan lakon “Sinta Ilang”.
Kegiatan yang dibuka oleh Kepala SMK Negeri 1 Kasihan, Agus Suranto, S.Pd., M.Sn., ini tidak hanya menjadi ajang presentasi karya seni, tetapi juga bentuk penguatan jejaring pendidikan seni antara sekolah menengah kejuruan seni dan perguruan tinggi seni. 

Melalui kegiatan ini, ISI Yogyakarta menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang aktif mendorong diseminasi karya, pengembangan ekosistem pedalangan, serta regenerasi seniman muda.
Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah “Dendam Kesumat Jara”. 

Lakon ini mengangkat persoalan kekerasan fisik dan verbal yang kerap dibungkus dengan dalih pendidikan keras. Cerita disajikan dari sudut pandang Nyai Jara, seorang ibu yang mengalami tekanan batin dan halusinasi akibat trauma mendalam. Melalui karya tersebut, Hariyanto mengajak penonton untuk melihat korban kekerasan dengan lebih empatik, bukan semata-mata dari perilaku yang tampak di permukaan.
“Cerita ini difokuskan dari perspektif Nyai Jara agar publik lebih berhati-hati dan berempati terhadap korban kekerasan,” ujar Hariyanto.

Menurut Hariyanto, seni pedalangan memiliki ruang yang luas untuk membaca persoalan kemanusiaan. Wayang tidak hanya diposisikan sebagai tontonan tradisi, tetapi juga sebagai medium refleksi sosial. Dengan cara itu, isu seperti kekerasan, trauma, dan luka psikologis dapat dibicarakan melalui bahasa artistik yang lebih kuat dan komunikatif.
Sementara itu, Aneng Kiswantoro menghadirkan “Iman Suwongso Takon Bapa” dalam format Wayang Golek Menak gaya Yogyakarta. Lakon ini mengisahkan perjalanan seorang anak yang mencari ayahnya, tetapi nyaris terjerumus dalam tipu daya kekuasaan. Cerita tersebut menekankan pentingnya ketelitian dalam mengambil keputusan, pengendalian diri, serta ketulusan hati dalam mencari kebenaran.

Aneng menjelaskan bahwa karya tersebut disajikan dalam konsep pakeliran padat dengan durasi sekitar satu jam. Format ini dipilih agar inti cerita dapat tersampaikan secara lebih ringkas, rapat, dan relevan bagi penonton masa kini, khususnya generasi muda.

“Kami memilih konsep pakeliran padat agar inti cerita lebih rapat dan relevan bagi generasi muda,” kata Aneng.
Format pakeliran padat menjadi salah satu strategi artistik yang ditawarkan dalam kegiatan ini. Melalui pemadatan struktur cerita, iringan, dan pola garap, pesan moral tetap dapat tersampaikan tanpa kehilangan kekuatan estetiknya. Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pedalangan mampu beradaptasi dengan perubahan pola apresiasi penonton hari ini.

Pemilihan SMKI Yogyakarta sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna strategis. Selain sebagai bentuk implementasi program Kampus Berdampak, kegiatan ini membuka ruang interaksi langsung antara dosen, mahasiswa, siswa, guru, dan komunitas seni pedalangan. Kehadiran karya dosen di lingkungan sekolah seni diharapkan dapat menumbuhkan minat siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi, khususnya di Jurusan Pedalangan ISI Yogyakarta.

Melalui Gelar Karya Dosen ini, ISI Yogyakarta memperlihatkan bahwa seni tradisi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Pedalangan justru dapat terus hidup sebagai medium pendidikan, kritik sosial, dan pembentukan karakter. Kegiatan ini juga menjadi penanda bahwa kerja akademik di perguruan tinggi seni dapat memberi dampak langsung bagi masyarakat dan ekosistem pendidikan seni.

Dengan mengangkat isu trauma, kekerasan, integritas moral, dan pencarian jati diri, Gelar Karya Dosen S1 Seni Pedalangan FSP ISI Yogyakarta menegaskan bahwa wayang tetap relevan untuk membaca persoalan zaman. Dari panggung terbuka SMKI Yogyakarta, seni pedalangan tampil sebagai ruang dialog antara tradisi, pendidikan, dan kemanusiaan.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment