Kemenko PM Mendorong Transformasi Industri Bambu Selaawi sebagai Penggerak Ekonomi Perdesaan
WARTAJOGJA.ID : Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) memperkuat pembangunan Kawasan Perdesaan Prioritas sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang mengejawantahkan “membangun dari desa dan dari bawah”.
Dalam kerangka tersebut, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Perdesaan Prioritas dengan komoditas unggulan bambu. Kawasan ini dinilai memiliki potensi ekonomi lokal yang kuat. Dalam kesempatan ini Kemenko PM menyelenggarakan program “Gebrak Bambu” (Gerakan Bersama Akselerasi Bangun Masyarakat Berdaya dan Unggul), melalui Pelatihan Diversifikasi Produk Bambu pada 27–29 April 2026 di Aula Kecamatan Selaawi.
Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta yang terdiri dari pengrajin bambu dari 7 desa serta perwakilan BUMDesma. Dalam arahannya, Prof. rer.nat Abdul Haris selaku Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu menekankan bahwa bambu merupakan komoditas strategis yang memiliki peluang besar di tingkat global. Nilai pasar bambu dunia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai USD 79,36 miliar dan diproyeksikan terus meningkat hingga USD 115,3 miliar pada tahun 2030. Namun produksi olahan bambu di Indonesia hanya berkontribusi sebesar 1 persen .
Dengan pangsa pasar yang sangat besar Prof. rer.nat Abdul Haris menyatakan “Bambu bukan lagi sekadar bahan bangunan tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari industri hijau global. Kesenjangan antara potensi dan realitas inilah yang menjadi tanggung jawab kita bersama melalui peningkatan kapasitas, inovasi, dan kualitas produksi,” tegas Deputi.
Dari pelatihan ini diharapkan terdapat diversifikasi produk, efisiensi proses produksi, standarisasi kualitas, serta pengembangan model usaha berbasis bambu yang berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Kemenko PM, akademisi IPB University, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Garut. Menutup arahannya, Deputi mengamanatkan seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan di wilayahnya masing-masing. “Keterampilan yang dimiliki para pengrajin adalah aset bangsa. Dari tangan-tangan terampil inilah lahir produk bernilai tinggi yang tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga membawa nama Indonesia ke tingkat global,” ujarnya. Melalui program “Gebrak Bambu”, diharapkan Selaawi semakin berkembang sebagai pusat industri bambu yang berdaya saing, sekaligus menjadi contoh keberhasilan pembangunan kawasan perdesaan berbasis potensi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
Post a Comment