Cerita Inspiratif Karateka Cilik Yogya Jasmine Ashadiya Gunarto Sabet Medali di Malaysia
WARTAJOGJA.ID : Dunia karate internasional baru saja menjadi saksi ketangguhan atlet muda asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Jasmine Ashadiya Gunarto, yang sukses memborong medali dalam ajang bergengsi Silent Knight International Karate 2026 di Malaysia.
Siswi kelas 5 SD Muhammadiyah Sapen 1 Yogyakarta ini berhasil mengamankan predikat Juara 2 pada nomor kumite dan Juara 3 pada nomor kata setelah bersaing dengan sekitar 500 peserta yang datang dari berbagai penjuru negara seperti Singapura, Thailand, Sri Lanka, India, Indonesia, hingga tuan rumah Malaysia.
"Sempet deg-degan banget pas mau tanding, terutama untuk materinya," kata Jasmine di sela latihan di Almahyrya Training Camp, Sleman, Yogyakarta, Selasa malam 21 April 2026.
Perjuangan Jasmine di Negeri Jiran tidaklah mudah karena ia harus berhadapan dengan sekitar 30 kompetitor tangguh di kelasnya yang memiliki karakter bertanding sangat variatif.
Meski begitu, atlet kelahiran 17 September 2014 ini mampu menunjukkan dominasinya hingga menembus babak semifinal nomor kata dan partai puncak pada nomor kumite.
Pertandingan final Kumite berlangsung dengan tensi tinggi dan penuh drama saat Jasmine menghadapi wakil tuan rumah, di mana skor berakhir imbang hingga memaksa wasit mengambil keputusan akhir yang menempatkannya di posisi kedua.
"Tantangannya berat, terutama untuk persiapannya, jaga pola makan, jaga fisik, tapi alhamdulilah aku bisa lewati," ujarnya.
Dibalik kesuksesan tersebut, Jasmine menjalani rutinitas yang sangat spartan dengan frekuensi latihan mencapai 11 kali dalam sepekan di bawah arahan Sandfish Karate Academy.
Setiap harinya, ia sudah terbangun sejak pukul 04.00 pagi untuk memulai sesi latihan pertama pada pukul 04.30 hingga 07.00, sebelum kemudian bergegas menuju sekolah dan kembali berlatih pada sore hari pukul 16.00 hingga 18.00.
Kedisiplinan ini juga mencakup pengaturan pola makan yang ketat demi menjaga berat badan tetap di angka 38 kilogram agar sesuai dengan kelas tandingnya di bawah 40 kilogram, serta rutin melakukan terapi pemulihan fisik berupa ice bath setiap bulan.
Jasmine yang mengidolakan sosok Tiara Sandi ini memang dikenal memiliki tekad baja dan sangat membenci kemalasan, sesuai dengan prinsip hidup yang ia pegang teguh yaitu man jadda wajada.
"Saya selalu percaya bahwa siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil mencapai impiannya," ucap Jasmine penuh keyakinan.
Atlet cilik yang memiliki cita-cita mulia menjadi seorang dokter ini juga mengungkapkan ambisinya di masa depan dengan mengatakan, "Saya ingin terus berprestasi hingga nanti bisa memperkuat tim nasional karate Indonesia di kancah yang lebih tinggi."
Pelatih Jasmine di Sandfish Karate Academy, Isfan Alfredatama, memberikan apresiasi mendalam atas performa anak didiknya yang tetap tenang meski di bawah tekanan besar.
"Fokus utama kami saat ini adalah bagaimana Jasmine bisa menjalani proses dengan baik serta membangun kemampuan secara bertahap agar mentalnya semakin matang," ujar Isfan.
Ia juga menambahkan mengenai pentingnya menjaga ritme perkembangan sang atlet dengan mengatakan, "Keberhasilan di level internasional ini adalah bukti nyata dari konsistensi latihan yang ia jalani selama ini."
Ayah Jasmine, Arjunadi, yang bersama sang istri Brigita Kingkin Pitaningrum selalu setia mendampingi dan mendokumentasikan setiap laga untuk evaluasi, menegaskan bahwa pembentukan karakter jauh lebih penting daripada sekadar raihan fisik.
"Bagi kami, medali bukan tujuan utama karena yang terpenting adalah proses, disiplin, dan bagaimana karakter Jasmine terbentuk melalui olahraga ini," tutur Arjunadi.
Ia juga menceritakan perjuangan sang putri yang sangat berdedikasi dengan berujar, "Setiap hari dia memulai aktivitas sejak dini hari tanpa mengeluh, karena ia paham bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha," ujar Arjunadi.
Sebelum mengharumkan nama bangsa di Malaysia, Jasmine telah mengantongi deretan prestasi gemilang sepanjang tahun 2025, termasuk menyapu bersih gelar Juara 1 kata dan kumite pada Kejurda INKAI DIY, Juara 1 kumite di YOT International dan PORSISWA SD Kota Yogyakarta, serta Juara 2 pada Kejurda FORKI DIY dan Juara 3 di Gadjah Mada Open International.
Kini, meski cabang olahraga karate tidak lagi masuk dalam program Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang membatasi jenjang kompetisi resmi hanya sampai tingkat provinsi, semangat Jasmine tetap membara untuk menghadapi tantangan berikutnya di ajang U2SN tingkat provinsi tahun ini.
Dengan dukungan penuh keluarga dan latihan yang tak kenal lelah di Timoho Residence, langkah Jasmine untuk menjadi karateka kelas dunia sekaligus calon dokter di masa depan semakin nyata.
Post a Comment