News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Sleman Perkokoh Ketahanan Daerah: Sinergi Lingkungan, Pangan, dan Kesiagaan Bencana Menjelang Lebaran 1447 H

Sleman Perkokoh Ketahanan Daerah: Sinergi Lingkungan, Pangan, dan Kesiagaan Bencana Menjelang Lebaran 1447 H


WARTAJOGJA.ID : Pemerintah Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya dalam menjaga kualitas lingkungan hidup, memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang dan selama Hari Raya Idul Fitri 1447 H yang jatuh pada Maret 2026. 

Langkah strategis ini disampaikan dalam jumpa pers bertajuk “Sleman Tangguh dan Berdaya: Sungai Bersih, Pangan Terjaga, Masyarakat Siaga” sebagai upaya menciptakan wilayah yang kondusif bagi warga maupun wisatawan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Sugeng Riyanta, ST, MM, menjelaskan bahwa pengendalian lingkungan hidup merupakan bagian tidak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang pesat di Sleman membawa tekanan terhadap sumber daya air dan ekosistem sungai, sehingga permasalahan pencemaran dan pengelolaan sampah menjadi tantangan kolaboratif yang mendesak. 

“Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen menjaga kualitas lingkungan hidup secara berkelanjutan dan menjadikan pengendalian pencemaran sebagai prioritas dalam mendukung pembangunan daerah,” tegas Sugeng dalam konferensi pers Selasa (3/3).

Ia menambahkan bahwa keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat sebagai garda terdepan di tingkat tapak melalui pembentukan komunitas peduli lingkungan. “Masyarakat merupakan aktor utama dalam menjaga lingkungan. Kami mendorong peran aktif komunitas peduli sungai dalam pemantauan kondisi sungai secara partisipatif di tingkat lokal,” katanya. Saat ini, Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) telah memverifikasi 31 Komunitas Peduli Sungai yang tersebar di 11 kapanewon, meskipun enam kapanewon lainnya seperti Mlati, Seyegan, Minggir, Godean, Sleman, dan Prambanan tercatat belum memiliki komunitas serupa.
Sebagai langkah konkret, DLH Sleman terus melakukan pembinaan melalui Program Kampung Iklim (ProKlim) di tujuh lokasi dengan mendorong aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, seperti sosialisasi biopori, penanaman pohon, serta penambahan luas vegetasi. “Kami berharap melalui keterlibatan aktif masyarakat, pengawasan terhadap kualitas lingkungan hidup dapat dilakukan secara berkelanjutan dan responsif terhadap berbagai potensi pencemaran,” ucap Sugeng.

Sejalan dengan kelestarian lingkungan, penguatan ketahanan pangan juga menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Sleman guna memastikan stabilitas pasokan yang aman dan terjangkau. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, S.Hut, MT, menekankan bahwa ketahanan pangan di Sleman dioptimalkan melalui pemanfaatan sumber daya pertanian dan perikanan lokal secara berkelanjutan. “Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan yang cukup, aman, bergizi, merata, dan terjangkau secara berkelanjutan. Karena itu, penguatan berbasis potensi lokal menjadi prioritas kami,” ujarnya.

Menghadapi tantangan produktivitas dan minimnya minat generasi muda, Dinas Pertanian menerapkan strategi penggunaan benih unggul, pola tanam tepat, serta pengembangan budidaya perikanan sistem bioflok dan mina padi. Rofiq menjelaskan bahwa pendekatan pertanian terintegrasi ini bertujuan meningkatkan produksi sekaligus memperbaiki gizi keluarga melalui sumber protein yang mudah diakses. “Penguatan ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari peningkatan kapasitas SDM dan percepatan regenerasi petani muda. Dengan dukungan pelatihan, akses modal, dan pendampingan, generasi muda diharapkan tertarik terlibat aktif dalam pembangunan pertanian,” tandas Rofiq.
Aspek kesiapsiagaan wilayah semakin diperkuat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem selama periode Ramadan dan Lebaran 2026. Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Raden Haris Martapa, S.E., M.T., memaparkan bahwa berdasarkan data BMKG, curah hujan di wilayah Sleman diprediksi masih signifikan hingga April dengan indeks IOD Dasarian II Februari 2026 sebesar +0,4 dan indeks ENSO sebesar -0,27. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi terhadap ancaman banjir, angin kencang, dan tanah longsor yang dapat mengganggu kelancaran jalur mudik.
BPBD Sleman telah menyiagakan Posko Utama 24 jam di Pakem serta membuka Posko Lebaran pada 15–24 Maret 2026 yang didukung oleh Tim Reaksi Cepat dan relawan lintas sektoral. “Kami mengintensifkan edukasi publik mengenai langkah antisipasi cuaca ekstrem, termasuk pentingnya membersihkan saluran air, memangkas dahan berisiko, serta memantau informasi resmi BMKG,” kata Haris. Mengingat lonjakan kunjungan wisata ke DIY diprediksi mencapai empat juta orang, Haris meminta para pengelola wisata, terutama di lereng Merapi, untuk memastikan kesiapan jalur evakuasi dan peralatan keselamatan.
Masyarakat juga diimbau untuk aktif memantau aktivitas Gunung Merapi melalui aplikasi Simantab atau menghubungi layanan Pusdalops BPBD Sleman di nomor 082125101212 guna menjamin keamanan selama beraktivitas. “BPBD Kabupaten Sleman selalu siap siaga, baik personel maupun peralatan, dalam menghadapi bencana hidrometeorologi khususnya saat Ramadan dan Lebaran 2026,” tegas Haris. Sinergi antara pengendalian lingkungan, ketahanan pangan, dan kesiagaan bencana ini diharapkan mampu mewujudkan Sleman yang tangguh dan berdaya bagi seluruh lapisan masyarakat. (Wit)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment