Dorong Investasi Saham, Irwan Hidayat Ajak Ubah Pola Pikir Perkuat Kedaulatan Ekonomi Nasional
WARTAJOGJA.ID – Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat mengampanyekan pentingnya masyarakat Indonesia mulai beralih ke investasi pasar saham sebagai langkah nyata mengembangkan keuangan pribadi sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Irwan menilai bahwa peluang investasi di pasar modal saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat luas, yang tercermin dari masih rendahnya jumlah investor domestik dibandingkan dengan total populasi.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor saham di tanah air baru menyentuh angka sekitar 20,3 hingga 21 juta orang, atau hanya sekitar 7,5 persen dari total 270 juta penduduk Indonesia.
Angka ini tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara maju seperti Amerika Serikat, di mana data Gallup tahun 2024 menunjukkan 62 persen penduduk dewasanya telah memiliki instrumen saham.
Irwan menegaskan bahwa partisipasi yang kecil ini menjadi hambatan bagi kekuatan pasar modal dalam negeri.
“Jumlah itu masih kecil sekali. Padahal kalau ingin pasar kita kuat, jumlah investornya harus besar. Di Indonesia baru ada sekitar 20 juta orang, itu hanya 7,5 persen. Di Amerika sudah 62 persen. Padahal, mengoleksi saham perusahaan yang dikelola dengan baik itu jauh lebih menguntungkan daripada disimpan ‘di bawah bantal’ atau di bank,” ujar Irwan Hidayat, Jumat (13 Maret 2026).
Menurut pengamatan Irwan, rendahnya literasi keuangan membuat banyak masyarakat masih terjebak dalam pola pikir konvensional dengan menyimpan uang di bank atau bahkan menyimpannya secara tunai di rumah.
Ia bahkan pernah menemukan kasus masyarakat yang menyimpan puluhan juta rupiah di dalam lemari hanya karena khawatir dengan biaya administrasi bank, sebuah kebiasaan yang dinilainya sangat tidak produktif karena nilai uang tidak berkembang dan justru kehilangan peluang keuntungan.
Irwan menjelaskan bahwa bunga bank rata-rata hanya berkisar antara 2 hingga 3 persen per tahun, sementara investasi saham memiliki potensi pertumbuhan yang jauh lebih tinggi jika dilakukan dengan tepat.
“Kalau saham itu bisa 40 persen. Minimal 15 sampai 20 persen bisa didapatkan per tahun, asalkan memilih perusahaan yang sehat dan jujur. Kalau Anda investasi di saham yang bagus, dalam dua tahun bisa untung 30 persen sampai 40 persen,” jelasnya.
Namun, Irwan memberikan catatan kritis dan peringatan keras agar masyarakat mampu membedakan antara investasi serius dengan spekulasi yang sering disebut dengan istilah "main saham".
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak memandang pasar modal sebagai ajang spekulasi semata karena ketakutan akan kerugian sering kali muncul dari pengalaman buruk akibat cara yang salah.
Ia menyarankan calon investor untuk mempelajari indikator dasar seperti Price Earning Ratio (PER) agar keputusan yang diambil lebih rasional dan terukur.
“Kalau punya uang Rp10 juta, Rp20 juta, sampai Rp100 juta, berinvestasilah. Tapi jangan bermain saham. Investasi itu serius, bukan main-main. Kalau Anda main, itu kurang benar. Pilih perusahaan yang dikelola dengan baik, jujur, sehat, dan memiliki reputasi yang sudah terbukti dalam jangka panjang,” tegas Irwan.
Lebih lanjut, bos Sido Muncul ini memandang bahwa peningkatan basis investor lokal adalah kunci kedaulatan ekonomi agar pasar modal Indonesia tidak terus-menerus bergantung pada aliran dana asing yang memiliki modal besar.
Ia memiliki visi besar agar partisipasi masyarakat lokal bisa melonjak hingga 40 persen atau setara dengan 100 juta investor, sehingga pasar saham nasional menjadi lebih tangguh terhadap guncangan global sebagaimana yang terjadi di Amerika Serikat.
“Sekarang ini pasar kita masih banyak dikuasai asing karena partisipan lokalnya sedikit. Bayangkan kalau partisipasinya bertambah 50 juta orang lagi, wajah saham kita akan berbeda sekali. Kita tidak tergantung asing lagi. Jadi, pilih saja saham yang baik, berinvestasilah di sana agar pasar kita jadi hebat,” tutup Irwan
Post a Comment