BEM Pesantren Seluruh Indonesia Desak Presiden Copot Menteri ESDM di Tengah Krisis Energi Global
WARTAJOGJA.ID : Badan Eksekutif Mahasiswa Pesantren Seluruh Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kegagalan pemerintah mewujudkan swasembada energi, terutama di tengah gejolak global akibat eskalasi perang antara Iran dan Israel yang memicu ketidakstabilan serius pada pasar energi dunia.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, serta intervensi berbagai kekuatan global telah mengganggu rantai pasokan energi internasional. Situasi di kawasan Teluk Persia, termasuk ancaman terhadap Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang menyuplai sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia sehingga mengakibatkan lonjakan tajam harga minyak mentah internasional. Dampaknya menjalar ke berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Kenaikan harga minyak global telah tercermin pada penyesuaian harga BBM dalam negeri, khususnya bahan bakar non-subsidi. Fenomena ini mempertegas rapuhnya ketahanan energi Indonesia dan minimnya langkah antisipatif dari pemangku kebijakan di sektor energi.
Yogi Atma Setiawan selaku Wakil Sekretaris Pusat BEM Pesantren Seluruh Indonesia, menegaskan bahwa kegagalan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menghadirkan terobosan dan kebijakan strategis untuk mengurangi ketergantungan impor telah memperburuk dampak konflik global tersebut terhadap rakyat Indonesia.
“Krisis energi akibat perang Iran–Israel membuka mata kita bahwa struktur energi nasional sangat rentan. Tidak ada strategi jangka panjang yang nyata, tidak ada percepatan energi terbarukan, dan ketergantungan pada impor justru semakin besar. Karena itu, kami mendesak Presiden segera mencopot Menteri ESDM karena gagal menjaga kedaulatan energi bangsa,” tegas Wakil Sekretaris Pusat BEM Pesantren Seluruh Indonesia.
BEM Pesantren Seluruh Indonesia menyampaikan tiga sikap utama:
1. Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk segera mencopot Menteri ESDM karena dinilai tidak mampu mengantisipasi krisis energi, baik sebelum maupun selama eskalasi konflik global.
2. Menuntut percepatan diversifikasi energi nasional melalui pengembangan energi terbarukan dan reformasi tata kelola energi yang lebih mandiri.
3. Mengajak seluruh mahasiswa pesantren di Indonesia untuk mengawal isu energi sebagai bagian dari tanggung jawab moral terhadap masa depan bangsa.
“Pemerintah tidak boleh pasif ketika dunia sedang mengalami guncangan energi global. Ini waktunya Indonesia berdiri tegak dengan kemandirian energi yang kuat. Jika pejabat yang menjabat tidak mampu, sudah selayaknya diganti dengan sosok yang visioner, berani, dan berpihak pada rakyat,” tambahnya.
BEM Pesantren Seluruh Indonesia juga siap menggelar aksi, forum diskusi nasional, dan gerakan pemantauan kebijakan energi sebagai bentuk komitmen terhadap kedaulatan energi dan masa depan bangsa.
Post a Comment