Yuni Astuti Kritik Kebijakan Bupati Kulon Progo: Fokus Sejahterakan Masyarakat, Jangan Hanya Urus Batik dan Cat Pagar
WARTAJOGJA.ID – Tokoh perempuan asal Kulon Progo, Yuni Astuti, melontarkan kritik keras terhadap deretan kebijakan Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, yang dinilai tidak memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan justru memicu polemik di ruang publik.
Yuni menyoroti kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Bupati Kulon Progo Nomor 41 Tahun 2025 mengenai penghapusan motif batik Geblek Renteng sebagai seragam ASN, yang kini digantikan oleh motif Binangun Kertaraharja dan Songsong Agung Ngambararum.
Menurutnya, perubahan ini memberatkan para ASN yang terpaksa harus membeli seragam baru, sehingga mereka seolah menjadi korban dari kebijakan yang dianggap tidak mendesak tersebut.
"Langkah Bupati tersebut sangat bertolak belakang dengan semangat efisiensi yang diusung pemerintah pusat," kata Yuni, Selasa 24 Februari 2026.
Ia menyayangkan hilangnya identitas Geblek Renteng yang selama ini sudah menjadi merek dagang kuat, serta merasa iba kepada para pembatik lokal yang telah terlanjur memproduksi motif lama dalam jumlah besar.
Yuni mencurigai adanya motif politik di balik perubahan ini, yang ia istilahkan sebagai kebijakan "Waton Bedo" atau asal berbeda dengan pemimpin sebelumnya.
"Tentu kebijakan yang dikeluarkan Bupati Kulon Progo ini justru kontraproduktif dengan kebijakan pemerintah pusat terkait efisiensi. Apalagi kebijakan menghilangkan batik Gebleg Renteng ini justru memberatkan banyak pihak dengan harus membeli batik baru, harus mengubah brand dan kasihan pembatik yang selama ini sudah terlanjur menyediakan motif batik itu," katanya.
"Saya kok melihat kebijakan itu asal beda atau kalau dalam Bahasa Jawa itu Waton Bedo dengan Bupati Kulon Progo sebelumnya. Tentu ini sangat disayangkan karena motif politik kemudian imbasnya banyak masyarakat yang justru terdampak pada kebijakan Waton Bedo itu," ungkap Yuni Astuti.
Persoalan ini kian meruncing dengan terbitnya Surat Edaran Bupati Nomor 100.3.4/2/034/2026 yang mengatur standardisasi warna pagar dan gerbang sekolah.
Yuni mengungkapkan bahwa Bupati bahkan memberikan peringatan hingga ancaman pencopotan jabatan kepada sejumlah kepala sekolah yang belum mengganti cat pagar sekolah mereka yang masih mengandung unsur Geblek Renteng.
Ia menilai tindakan ini tidak populis karena biaya pengecatan ulang yang mahal harus ditanggung sepenuhnya oleh pihak sekolah, padahal anggaran tersebut jauh lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer di Kulon Progo.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Kulon Progo pada tahun 2025 mencapai 14,53 persen, yang menjadikannya angka tertinggi di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kondisi inilah yang membuat Yuni mendesak pemerintah daerah untuk berhenti mengurusi hal-hal administratif yang kontraproduktif dan beralih fokus pada pemenuhan janji politik serta peningkatan ekonomi warga melalui pariwisata, industri kreatif, dan penarikan investasi.
"Lebih baik dibandingkan mengeluarkan kebijakan-kebijakan tak populis dan kontraproduktif seperti urusan batik, cat pagar dan gerbang, Bupati Kulon Progo fokus pada program-program yang bisa mensejahterakan masyarakat dan memenuhi janji-janji politiknya," urainya.
Menurutnya banyak yang bisa digarap di Kulon Progo sebenarnya dari memaksimalkan potensi pariwisata, industri kreatif hingga mengajak investor untuk masuk ke sini.
"Tujuannya jelas untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Masalahnya tinggal bisa dan mampu tidak Bupati Kulon Progo menangkap dan memaksimalkan peluang-peluang itu," tegas Yuni Astuti.
Yuni mengingatkan Agung Setyawan agar bekerja lebih serius dalam sisa masa jabatannya agar meninggalkan warisan yang baik bagi daerah.
Ia berharap Bupati saat ini dapat dikenal sebagai sosok yang sukses membawa kemajuan nyata, bukan justru dikenang karena berbagai langkah kontroversial yang penuh dengan gimik politik.
Yuni menekankan prinsip bahwa setiap masa ada orangnya, sehingga sangat penting bagi seorang pemimpin untuk fokus pada substansi pembangunan demi masa depan Kulon Progo yang lebih baik.
"Ingat setiap masa itu ada orangnya dan setiap orang ada masanya.
"Bupati Kulon Progo saat ini lebih baik fokus bekerja agar nanti setelah usai masa jabatannya bisa dikenang sebagai Bupati yang sukses memajukan Kulon Progo bukan justru dikenang sebagai Bupati Kulon Progo yang kontroversial dan banyak gimmicknya," pungkas Yuni Astuti.
Post a Comment