FK-KMK UGM Perkuat Ekosistem Perawatan Kanker Komunitas Melalui Kader TATAK dan Riset COMMUNICATED
WARTAJOGJA.ID – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi menyelenggarakan diseminasi hasil riset Collaborative cOMMUNIty Care breAst cancEr inDonesia (COMMUNICATED) pada Kamis (12/2).
Bertempat di Lobby Auditorium FK-KMK UGM, acara ini menjadi panggung penting bagi penguatan sistem kesehatan berbasis komunitas, khususnya dalam menangani pasien kanker payudara metastasis yang sering kali menghadapi tantangan kompleks saat menjalani perawatan di rumah.
Proyek penelitian dan pengabdian masyarakat yang telah berjalan sejak tahun 2024 ini lahir dari keprihatinan atas kondisi pasien kanker stadium lanjut di Indonesia yang cenderung hanya mengandalkan perawatan mandiri hingga gejala fisik memberat.
Melalui pendanaan hibah Quality Improvement dari Pfizer, Inc., riset yang diketuai oleh Martina Sinta Kristanti, S.Kep., Ns., MN., Ph.D., dari Departemen Keperawatan FK-KMK UGM ini, berhasil melatih 112 Kader TATAK (Tangguh dan Tanggap Kanker) di wilayah DIY dan Bali untuk memberikan dukungan emosional, sosial, serta edukasi kesehatan secara langsung kepada pasien dan keluarganya.
Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad(K), menegaskan, "Institusi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan inovasi riset seperti ini tidak berhenti di laporan tertulis, melainkan berlanjut menjadi program yang mapan," ujarnya.
Prof. Lina menjelaskan bahwa sebagai bentuk komitmen nyata, FK-KMK UGM meluncurkan KOMPAK TATAK (Koordinasi dan Pendampingan Kader TATAK) yang akan menjadi agenda rutin sepanjang tahun 2026 guna memastikan para kader selalu mendapatkan pembaruan informasi medis dan dukungan manajerial yang memadai.
Data riset menunjukkan signifikansi yang luar biasa; pasien yang mendapatkan pendampingan kader selama kurang lebih tiga minggu mampu mempertahankan kualitas hidup dan resiliensi keluarga tetap stabil.
Sebaliknya, pasien tanpa pendampingan kader menunjukkan penurunan kualitas kesehatan yang drastis. Fenomena ini membuktikan bahwa kehadiran sosok kader di tengah masyarakat mampu mengisi celah layanan yang tidak terjangkau oleh fasilitas kesehatan formal.
Selaku Principal Investigator COMMUNICATED, Martina Sinta Kristanti, S.Kep., Ns., MN., Ph.D., menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari pendekatan co-design yang melibatkan semua pemangku kepentingan sejak tahap perencanaan. Martina menyatakan bahwa diseminasi ini menjadi momentum penting untuk menjembatani hasil riset dengan kebijakan dan praktik pelayanan kesehatan, agar intervensi berbasis komunitas dapat berkelanjutan serta memberikan dampak nyata yang bisa dirasakan langsung oleh pasien kanker di akar rumput.
Dukungan lintas akademisi juga menguatkan validitas program ini. Guru Besar bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Ari Natalia Probandari, dr., MPH., Ph.D., yang hadir sebagai pakar kesehatan masyarakat, memberikan catatan positif mengenai model intervensi ini. Prof. Ari menyampaikan bahwa penguatan kapasitas kader kesehatan lokal melalui program COMMUNICATED ini secara efektif memperkuat kolaborasi antara komunitas dan layanan kesehatan formal, sehingga intervensi yang dihasilkan tidak hanya relevan secara budaya namun juga berkelanjutan untuk jangka panjang.
Melalui rangkaian kegiatan ini, FK-KMK UGM berharap temuan ilmiah COMMUNICATED dapat segera diserap oleh pemerintah daerah dan dinas kesehatan sebagai dasar penyusunan kebijakan publik. Dengan sinergi lintas sektor yang melibatkan akademisi, pemerintah, dan pihak swasta, diharapkan kualitas hidup pasien kanker payudara di Indonesia dapat terus terjaga melalui jaringan pendukung komunitas yang tangguh dan teredukasi dengan baik.
Post a Comment