News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

75 Tahun Eksis: Sido Muncul Tegaskan Komitmen Inovasi Herbal Berbasis Ilmiah

75 Tahun Eksis: Sido Muncul Tegaskan Komitmen Inovasi Herbal Berbasis Ilmiah

WARTAJOGJA.ID : PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) bersiap menapaki usia ke-75 tahun pada November 2026 nanti.

Komitmen menjaga kualitas dan pengembangan produk pun ditegaskan Sido Muncul, seiring bertambahnya usia perusahaan.

Dalam acara yang digelar di House of Jamu Cipete, Jakarta, Selasa (20/1/2026) Sido Muncul pun menghadirkan para peneliti independen, komisaris independen perusahaan, serta tokoh publik untuk membeberkan sejumlah penelitian ilmiah atas produk Sido Muncul.

Direktur Sido Muncul Dr (HC) Irwan Hidayat menyampaikan bahwa perusahaan yang didirikan sejak 1951 tersebut konsisten berbasis pada penelitian ilmiah dalam pengembangan produk-produknya. 

Salah satu produk andalan yang dimaksud adalah Tolak Angin. Produk ini, kata Irwan, telah melalui serangkaian uji toksisitas dan khasiat yang dilakukan sejak 2002 bersama lembaga riset independen. 

"Saya perlu mengadakan acara ini untuk mengulang kembali bagaimana sejarahnya Tolak Angin dan bagaimana uji toksisitas yang dilakukan untuk Tolak Angin. Hasilnya, terbukti secara ilmiah tidak toksik, tidak merusak ginjal, lever, pankreas, serta tidak mengganggu hormon pria ataupun wanita," ujar Irwan kepada awak media. 

Ia menegaskan bahwa sebagai perusahaan publik, Sido Muncul tidak menggantungkan kredibilitas produknya pada opini semata. Justru, perusahaan berpatokan kepada hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

Dalam acara tersebut, hadir peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dr apt Ipang Djunarko, SSi, MSc. 

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan hasil uji toksisitas subkronis Tolak Angin Cair yang dilakukan pada 2002. 

“Pengujian tersebut dilakukan lantaran menjadi tuntutan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menentukan keamanan produk,” jelasnya. Lebih lanjut, Ipang menerangkan, uji toksisitas subkronis dilakukan selama 90 hari pada tikus jenis Sprague Dawley. 

Hewan uji tersebut dibagi lima kelompok secara acak dan lengkap, dengan masing-masing kelompok terdiri dari lima ekor tikus jantan dan lima ekor tikus betina. 

Pengujian sendiri menggunakan empat peringkat dosis, mulai dari 0,45 ml; 1,35 ml; 4,05 ml; hingga dosis tertinggi 12,15 ml per kilogram berat badan atau setara 9 saset. 

“Hasilnya, (setelah diuji dan diamati), tidak ditemukan kematian dan gejala klinis selama 90 hari dari pemberian Tolak Angin Cair, baik pada tikus jantan maupun betina,” kata Ipang. 

Adapun pengamatan yang dilakukan mencakup gejala klinis, uji darah rutin, dan uji kimia klinis untuk mengetahui efek toksik pada fungsi organ, serta histologi organ untuk mengetahui perubahan struktural. 

Hasil penelitian juga menunjukkan tidak ditemukan perubahan pada berat badan, sistem hematologi, ataupun perubahan struktural pada organ paru, lien atau limpa, jantung, usus, lambung, uterus, dan testis. 

Hal senada turut disampaikan Peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Apt Phebe Hendra, PhD. 

Ia menegaskan, tidak ditemukan adanya kematian ataupun perubahan gejala klinis pada hewan uji. 

Phebe bahkan mengonversi durasi pengujian 90 hari yang dilakukan pada tikus setara dengan 101 bulan atau sekitar 8 tahun pada manusia. 

"Secara prinsip boleh dikatakan bahwa penggunaan Tolak Angin cair dalam jangka waktu yang cukup panjang itu masih relatif aman selama penggunaan di dosis yang dianjurkan," tegas Phebe. Sebagai informasi, hasil uji toksisitas tersebut kemudian menjadi salah satu persyaratan yang memungkinkan Tolak Angin naik level dari berlabel "jamu" menjadi "Obat Herbal Terstandar" oleh BPOM. 

Level obat herbal terstandar merupakan kategori di atas jamu yang mensyaratkan produk telah melewati uji toksisitas dan uji khasiat. 

Selain uji keamanan, Sido Muncul juga melakukan uji khasiat bersama Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada tahun yang sama. 

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Undip Dr dr Neni Susilaningsih, MSi, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan bersama almarhum Prof dr Edi Dharmana, MSc, SpParK, PhD; dan almarhum dr Noor Wijayahadi, MKes, PhD.

Penelitian diawali dengan uji pada hewan coba (in vivo) yang menunjukkan adanya perbaikan pada parameter sistem imun atau sistem daya tahan tubuh. 

Kemudian, pengujian dilanjutkan pada 109 subyek manusia sehat yang terbagi menjadi kelompok perlakuan (99 orang) dan kelompok kontrol (10 orang). 

Hasilnya, pemberian Tolak Angin Cair selama satu minggu menunjukkan adanya peningkatan jumlah limfosit T pada darah tepi jika dibandingkan dengan kontrol sebelumnya. 

Selain itu, terdapat pula peningkatan pada sitokin, interferon, ataupun Interleukin-2 (IL-2). 

Rasio interferon dan IL-2 yang meningkat menandakan komponen respons imun dalam tubuh meningkat. Di samping menilai khasiat pada respons imun, tim peneliti juga menilai kadar kreatinin dan ureum untuk memantau fungsi ginjal dari pemberian Tolak Angin cair. 

Penelitian itu juga memeriksa kadar serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) untuk menilai fungsi hati, serta kadar hemoglobin (Hb) dan jumlah leukosit. 

Semua pemeriksaan itu menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok yang diberi Tolak Angin dan yang tidak diberi. Artinya, Tolak Angin Cair yang diberikan selama satu minggu tidak berpengaruh negatif terhadap fungsi ginjal, fungsi hati, maupun kadar Hb dan leukosit. 

"Pada penelitian tersebut, pemberian Tolak Angin cair selama satu minggu menunjukkan ada peningkatan jumlah limfosit T-helper darah tepi jika dibandingkan dengan kontrol sebelumnya," kata Neni. 

Neni menambahkan, penelitian juga menunjukkan peningkatan pada sitokin interferon gamma dan interleukin-4, yang mana rasio keduanya juga mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pada komponen respon imun. 

Hal tak kalah penting, penelitian juga menilai parameter keamanan produk terhadap fungsi organ vital. 

Neni menjelaskan bahwa tim menilai kadar kreatinin dan ureum yang menilai fungsi ginjal, kadar SGOT dan SGPT yang menilai fungsi hati, serta kadar hemoglobin (Hb) dan jumlah leukosit. 

“Semuanya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok yang diberi Tolak Angin dan yang tidak diberi. Artinya, Tolak Angin cair yang diberikan selama satu minggu tidak berpengaruh negatif terhadap fungsi ginjal, fungsi hati, ataupun kadar Hb dan leukosit,” ucap Neni. 

Ia menambahkan, hasil penelitian uji toksisitas dan uji khasiat itulah yang menjadi persyaratan dari BPOM untuk menaikkan level Tolak Angin dari “Jamu” menjadi “Obat Herbal Terstandar”. 

Sebagai informasi, BPOM menetapkan status pada produk herbal, mulai dari jamu, obat herbal terstandar, hingga fitofarmaka yang merupakan kategori tertinggi. 

Komisaris Independen Sido Muncul Dr dr Mohammad Adib Khumaidi, SpOT, menekankan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Universitas Sanata Dharma dan Undip merupakan bentuk pertanggungjawaban publik. 

Semua proses produksi Tolak Angin dilakukan dalam sebuah proses akademis profesional yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

"Penelitian yang sudah dilakukan oleh Pak Ipang, Ibu Phebe, dan dr Neni tersebut adalah satu bagian sebuah pertanggungjawaban publik yang harus kami lakukan bahwa produk Sido Muncul itu dibuat dalam sebuah proses yang memang itu secara ilmiah," kata Adip. 

Ia menambahkan, Sido Muncul memiliki konsep untuk bekerja sama dengan beberapa institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan untuk membuat penelitian terkait herbal. 

Selain itu, pertemuan dengan komunitas profesi kesehatan dan dokter terkait jamu dan herbal pun dilakukan oleh perusahaan. 

Sido Muncul bahkan tengah menyiapkan kompendium yang berisi informasi tentang bahan-bahan alam, lengkap dengan jurnal-jurnal penelitian yang telah dilakukan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Tujuannya, agar masyarakat terinformasi dan teredukasi tentang produk bahan alam yang berguna untuk kesehatan. 

Berdasarkan data dari Sido Muncul, perusahaan telah menggelar 53 kali seminar herbal mengenai Tolak Angin bekerja sama dengan berbagai fakultas kedokteran dari berbagai universitas di Indonesia. 

Kegiatan edukasi ini ditujukan kepada akademisi, kalangan kedokteran, tenaga kesehatan, dan mahasiswa kedokteran. "Sido Muncul tidak hanya memproduksi yang kaitannya dengan bisnis saja, tapi kami ingin mengedukasi. Yang kita edukasi masyarakat dan juga tentunya pemerintah," ujar Adip. 

Adip juga menyinggung Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang salah satu pasalnya berkaitan dengan obat bahan alam. 

Menurutnya, pasal dalam kebijakan tersebut merupakan dorongan dari negara yang harus didukung oleh industri seperti Sido Muncul. 

"Sido Muncul sudah siap dan tentunya ini menjadi satu bagian dukungan Sido Muncul kepada pemerintah, terutama berkaitan dengan masalah pengembangan obat bahan alam karena itu bagian dalam satu proses kemandirian industri farmasi," kata Adip. 

Ia menegaskan, Indonesia memiliki bahan alam luar biasa yang sebenarnya membuka ruang untuk membuktikan manfaat herbal secara ilmiah. 

Kolaborasi antara industri, akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengembangkan potensi tersebut. 

Salah satu Brand Ambassador Tolak Angin sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali menceritakan pengalamannya menggunakan produk tersebut sejak studi di Amerika Serikat selama 6 tahun.

Rhenald mengaku, Tolak Angin selalu menemaninya selama di luar negeri. Menurutnya, pengalaman serupa juga dialami banyak diaspora Indonesia. "Saya merasakan sendiri begitu sebagai student di luar negeri. Makanya, ketika saya lihat diaspora dan ditanya, hampir semuanya bawa Tolak Angin di tasnya," kata Rhenald. 

Rhenald menyoroti bahwa di tengah perkembangan produk herbal Indonesia, selalu ada mitos yang beredar di masyarakat. Menurutnya, inilah yang ingin dibuktikan Sido Muncul melalui riset ilmiah.

Lebih lanjut, Rhenald menyoroti bahwa kontribusi produk herbal Indonesia di pasar dunia baru mencapai 0,8 persen. 

Padahal, Indonesia memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman yang sangat luar biasa. 

"Indonesia harus come up dengan produk yang benar-benar berbasiskan sains dan nilai tambahannya tinggi. Dunia sedang menuju ke situ berbasiskan research," ujarnya. 

Sementara itu, jurnalis senior Andy F Noya yang juga Brand Ambassador Tolak Angin menceritakan pertimbangannya sebelum menerima tawaran kerja sama tersebut. 

Sebagai jurnalis yang terikat kode etik, ia memastikan produk yang diiklankan tidak merugikan masyarakat. "Saya ketika menyetujui ajakan kerja sama itu menggunakan ukuran-ukuran sebagai jurnalis, yaitu soal data, dan keyakinan kita bahwa ini adalah produk yang baik," tutur Andy. 

Andy juga menceritakan pengalamannya mengunjungi pabrik Sido Muncul dan melihat langsung investasi teknologi yang digunakan untuk memproduksi jamu dengan riset yang kuat. 

"Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana investasi yang luar biasa besarnya itu diberikan untuk semua teknologi. Ini membuktikan bahwa basis riset adalah kebutuhan konsumen untuk semakin percaya bahwa apa yang diwariskan nenek moyang kita dulu, itu terbukti hari ini benar melalui kajian ilmiah," jelasnya. 

Ia menegaskan, para pakar yang menjelaskan hasil penelitian ditambah komisaris independen yang merupakan dokter menunjukkan bahwa semua produk Sido Muncul, khususnya Tolak Angin, berbasis data dan kajian ilmiah. 

Direktur Marketing Sido Muncul Maria Reviani turut menekankan bahwa konsumen perlu lebih kritis dalam memilah informasi di era informasi digital. 

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengandalkan media konvensional seperti koran dan televisi, kini masyarakat dibombardir informasi dari berbagai sumber. 

Namun, Maria meyakini bahwa konsumen Indonesia sudah cukup cerdas untuk memilah informasi yang benar dari yang salah. 

Dengan data dan hasil penelitian yang dipaparkan, konsumen dapat membuat keputusan yang tepat. 

"Kami yakin konsumen kami orang pintar semua, yang tentu saja bisa memilah informasi mana yang benar dan tidak, lalu memilih produk yang baik," tegasnya. 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment