News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Refleksi 200 Tahun Perang Jawa: Wayang Kulit Meriahkan Milad ke-240 Pangeran Diponegoro di Yogyakarta

Refleksi 200 Tahun Perang Jawa: Wayang Kulit Meriahkan Milad ke-240 Pangeran Diponegoro di Yogyakarta


WARTAJOGJA.ID – Pagelaran wayang kulit dengan lakon bertema Perang Jawa menjadi puncak peringatan Milad ke-240 tahun Pangeran Diponegoro yang jatuh pada hari Selasa, 11 November 2025, yang diselenggarakan secara istimewa oleh Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro atau Patra Padi di Ndalem Yudanegaran, Jalan Ibu Ruswo, Yogyakarta. 

Acara ini menjadi sangat spesial karena bertepatan dengan momen refleksi 200 tahun terjadinya Perang Jawa, serta Hari Pahlawan Nasional. Ketua Umum Patra Padi, Rahadi Sapta Abra, menjelaskan bahwa, “Tahun ini merupakan tahun spesial, karena Milad tahun ini bertepatan dengan 200 tahun perang Jawa,” disela-sela pagelaran wayang kulit yang menampilkan aksi Dalang Muda Ki Harlindar Mukti Prakoso. 

Melalui pertunjukan seni tradisional ini, Abra juga menyampaikan bahwa tujuannya adalah untuk, “sekaligus mensyiarkan perjuangan yang dilakukan Pangeran Diponegoro.”

Lebih dari 200 anggota keluarga keturunan, atau trah Pangeran Diponegoro, berkumpul di lokasi acara pada malam tersebut, datang dari berbagai penjuru Nusantara seperti Ambon, Makasar, Bengkulu, Jakarta, Bogor, Magetan, Purwokerto, Solo, hingga Banyumas dan Kebumen, menunjukkan kuatnya ikatan kekeluargaan dalam Patra Padi. 

Rahadi Sapta Abra mengungkapkan, mengumpulkan keturunan Diponegoro dari berbagai daerah bukanlah hal yang mudah. Beliau menambahkan bahwa generasi keturunan tertua saat ini, yang diperkirakan masuk generasi kelima atau buyut (anak dari cicit Diponegoro), jumlahnya, “tak sampai 10 orang,” 


Kegiatan peringatan yang penuh makna sejarah ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, yang menyampaikan bahwa acara ini merupakan momen penting karena bertepatan dengan hari pahlawan. Beliau menekankan perlunya, “suatu hubungan antara generasi saat ini dengan para leluhur, karena hubungan tersebut yang biasanya terputus,” sebagai upaya, “Supaya kehidupan kita dimasa depan menjadi kehidupan yang gemilang.” Selanjutnya, Agus Jabo Priyono menghubungkan perjuangan masa lalu dengan tantangan masa kini, dengan menyatakan bahwa ancaman yang muncul di era sekarang adalah serakahnomik, yang didalamnya meliputi kekuatan imperislisme, oligarki, dan birokrat korup. Ia menyamakan perjuangan saat ini dengan perjuangan Pangeran Diponegoro dengan mengatakan, “Dalam kita melawan saat ini sama seperti Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda.” Ia juga menegaskan bahwa Perang Jawa merupakan, “perang identitas,” antara Pangeran Diponegoro dan pihak Belanda, “Dimana saat itu Pangeran Diponegoro mengingkan Belanda pergi dari Indonesia, dengan kemerdekaan,” dan di akhir sambutannya, beliau mengajak seluruh masyarakat untuk dapat merefleksikan perjuangan Pangeran Diponegoro tersebut.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment