News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dies Natalis ke-40 ISI Yogyakarta Wujudkan Indonesia Unggul Melalui Transformasi Daya Seni

Dies Natalis ke-40 ISI Yogyakarta Wujudkan Indonesia Unggul Melalui Transformasi Daya Seni

WARTAJOGJA.ID - Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menggelar Lustrum ke 8 atau Dies Natalis ke-40 ISI Yogyakarta di Concert hall ISI Yogyakarta Kamis (30/5/2024).

Plt. Direktur Kelembagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Dr. Bhimo Widyo Andoko, S.H, M.H dalam Orasi Ilmiah bertajuk 
 “Transformasi Daya Seni untuk Indonesia Unggul” mengungkap
ISI Yogyakarta telah menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan transformasi daya seni ini. 

"Dengan berbagai program pendidikan yang inovatif, kolaborasi lintas disiplin, dan eksplorasi yang mendalam terhadap warisan budaya lokal, institusi ini telah menjadi tempat di mana para seniman dan budayawan muda berkembang dan menemukan panggung untuk berekspresi," kata Bhimo.
 
Namun, lanjut Bhimo, transformasi tidak pernah berhenti di satu titik. Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat yang semakin kompleks, kita perlu terus mengkaji ulang peran dan makna seni dalam konteks kehidupan modern. Seni harus menjadi pendorong utama perubahan positif dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, hingga lingkungan. 
 
"Oleh karena itu, mari bersama-sama merenungkan bagaimana kita dapat memperkuat peran seni dalam membangun Indonesia yang unggul. Pertama-tama, kita perlu terus mendorong integrasi antara seni dan teknologi. Era digital membuka peluang baru bagi para seniman untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk baru dalam karya mereka. Dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk mengungkapkan ide dan visi mereka, para seniman dapat menciptakan karya yang lebih relevan dan dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas," tandas Bhimo.

Rektor ISI Yogyakarta Dr. Irwandi, M.Sn  dalam pidatonya menyatakan ISI Yogyakarta menapaki usia 40 tahun atau lustrum ke-8 merupakan usia yang cukup untuk melakukan refleksi diri, bercermin pada perjalanan dan pencapaian yang kami lakukan. 

"Usia 40 tahun ini dihitung dari sejak diresmikan kelahirannya ISI Yogyakarta oleh Presiden Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden RI No. 39/1984 tanggal 30 Mei 1984. Namun sesungguhnya usia ISI Yogyakarta lebih dari itu, sebutlah, 74 tahun, jika dihitung dari kelahiran akademi seni pertama di Indonesia, yakni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada 15 Januari 1950," kata Irwandi.

Hal itu terjadi karena ASRI yang kemudian beralih status menjadi Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) “ASRI” Yogyakarta, bersama Akademi Musik Indonesia (AMI), dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) sepakat berfusi di bawah payung satu institusi bernama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. 

Ketika itu, STSRI “ASRI” Yogyakarta sudah memiliki kewenangan meluluskan sarjana seni dengan sebutan doktorandus (Drs), kemudian bermetamorfosa menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). 

AMI serta ASTI sebagai akademi yang memiliki kewenangan meluluskan seniman seni (Seniman Seni Musik/SSM, dan Seniman Seni Tari/SST) menjadi satu bernama Fakultas Seni Pertunjukan. 

Fakultas Seni Media Rekam merupakan fakultas selanjutnya didirikan di ISI Yogyakarta yang diresmikan pada tahun 1993. 

"Dengan kisah ringkas ini, saya ingin mengatakan bahwa modal dan akar kehadiran ISI Yogyakarta demikian kokoh, memiliki sejarah panjang, dengan tenaga pengajar dan para alumni tersebar di seluruh penjuru mata angin, yang berkontribusi mengharumkan jagad praktik dan pemikiran , kesenian Indonesia maupun dunia," kata Rektor. 
  
Rektor menambahkan, modal sejarah panjang bila tidak disadari dengan baik, seringkali justru menjadi jebakan yang tidak produktif, terlebih jika tidak hati-hati menyikapi dan mengelolanya. 

"Kami sadar, bahwa tantangan hari ini dan di masa depan semakin tidak mudah, jauh dari sederhana. Karena itulah, maka dalam kesempatan ulang tahun kali ini, dengan sejumlah agenda yang dirancang, kami ingin lebih dapat bersikap reflektif, dibingkai oleh tema “Transformasi Daya Seni Untuk Indonesia Unggul”," ujar Rektor.

Pilihan diksi “untuk Indonesia unggul” didorong oleh kesadaran dan motivasi agar ISI Yogyakarta secara internal sungguh-sungguh memiliki kemampuan melakukan “transformasi”, melakukan perubahan demi perubahan terkait tugas dan fungsi utama yakni Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat), ihwal tata kelola yang sistemik, efektif, efisien, dan produktif, sesuai dengan arah Indonesia.

Juga berupaya maksimal menciptakan atmosfir akademik yang ideal, yang dapat menjadi pemicu lahirnya karya-karya artistik, kreatif, inovatif, dan menantang pemaknaan.

Kemudian melahirkan pemikiran, wacana, diskusi, yang mendorong tumbuhnya diskusi, serta dialektika. Dunia akademik tanpa kehidupan berdialektika, dapat dipastikan mengalami kemunduran, dan bahkan mandul kreativitas serta peran-perannya. 

"Seni dengan ragam varian bentuk, ekspresi, dan fungsinya, kami percaya memiliki daya dan memang berdaya untuk menggerakkan hidup dan kehidupan melalui dunia akademik. Jika hal-hal itu dapat kami wujudkan, dapat kami transformasikan, maka kami meyakini memiliki kemampuan pula berkontribusi pada Indonesia unggul, pada Indonesia masa depan yang lebih demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan," tegas Rektor.

''Dengan kemampuan dan kontribusi semacam itu, kami percaya ISI Yogyakarta dapat menciptakan taman indah di bidang kebudayaan khususnya kesenian," tambah Rektor.
  
Rektor mengingatkan zaman yang bergerak cepat; disrupsi di segala sektor, situasi sosial-politik-ekonomi yang penuh turbulensi, krisis iklim, krisis ekologi, kecamuk salah paham dan perang, kecenderungan kiri atau kanan yang mengeras, kemudian praktik seni dan pemikiran seni yang demikian dinamis, merupakan tanda-tanda zaman yang nyata di sekitar kita. 

"Di ranah inilah kami merenung dan bertanya, apa yang dapat dilakukan oleh institusi pendidikan tinggi seni untuk  berkontribusi menghadapi itu semua? "

Pertanyaan ini relevan, karena institusi pendidikan tinggi idealnya berfungsi sebagai pemikir, perumus, dan agen perubahan. Namun demikian, situasi pendidikan tinggi pada umumnya, meminjam pendapat Saifur Rohman, berada dalam situasi krisis. 

"Saya kutip satu paragraf pendapat Rohman bahwa idealnya perguruan tinggi merupakan benteng terakhir untuk kognisi, moralitas, serta kompetensi publik,"

Dalam perspektif sosiologis, masyarakat membutuhkan produk-produk perguruan tinggi berupa temuan dari hasil penelitian, kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta sikap yang proaktif terhadap kemanusiaan”.

Seturut dengan pendapat itu, maka seharusnyalah seni/karya seni melalui dayanya juga memiliki peluang demikian besar dan luas untuk berkontribusi solusi pada berbagai problem kemanusiaan tadi. 
Negeri ini, dihadapkan dengan sebuah tantangan serius, yaitu bonus demografi yang akan segera menghampiri. 

"Tentunya ISI Yogyakarta sebagai kampus seni harus bersiap. Bonus demografi terjadi ketika proporsi penduduk usia kerja dalam suatu negara meningkat secara signifikan. Di satu sisi, bonus demografi dapat memberikan dorongan ekonomi karena lebih banyak SDM yang berpotensi aktif dalam pertumbuhan ekonomi,"

"Namun, ini juga membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang tepat dari pemerintah, termasuk dari kampus seni  untuk menangkap kesempatan ini, serta menjamin kebebasan dari risiko kegagalan memanfaatkan bonus demografi," kata dia.

Berdasarkan ilustrasi situasi terkini dan tantangan masa depan yang  diuraikan ISI Yogyakarta memandang perlu adanya sebuah komitmen dan gerakan bersama menyongsong dan memastikan tercapainya Indonesia Unggul. Atas pertimbangan itu pula, “Transformasi Daya Seni Untuk Indonesia Unggul” menjadi tema Dies Natalis ke-40/ Lustrum VIII ISI Yogyakarta. ISI Yogyakarta siap mentransformasikan daya seni yang dimilikinya untuk menyongsong dan berkontribusi dalam menyukseskan Indonesia Unggul. 

"Daya seni merupakan kekuatan unik yang dimiliki seni untuk memengaruhi, menggugah, dan menginspirasi pikiran, perasaan, dan jiwa manusia. Kekuatan itulah yang perlu ditransformasi, baik secara fisik dan nonfisik. Transformasi daya seni dapat dilakukan dalam bentuk  pengembangan, optimalisasi, reorientasi dan pendayagunaan yang relevan dengan kebutuhan dan tantangan zaman, tentu dalam rangka mewujudkan Indonesia Unggul," pungkasnya.


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment