News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

BLKK DIY Ingatkan Masyarakat Jaga Pola Makan Saat Momen Lebaran

BLKK DIY Ingatkan Masyarakat Jaga Pola Makan Saat Momen Lebaran

WARTAJOGJA.ID : Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Forum Konsultasi Publik pada Rabu, 3 April 2024 bertempat di Aula Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Ngadinegaran MJ III/ 62 Mantrijeron Yogyakarta.

Hadir sejumlah narasumber dan undangan dari berbagai instansi kesehatan dalam forum tersebut.

Salah satu yang disoroti terkait persoalan kesehatan justru setelah momen hari raya Idul Fitri.

Lebaran menjadi momen yang identik dengan suguhan makanan lezat. Kendati demikian, penting bagi setiap individu untuk berhati-hati dalam memilih asupan makanannya selama lebaran.

Pasalnya, terdapat sejumlah penyakit setelah lebaran yang rentan terjadi jika tidak menjaga pola makan, seperti diare, sindrom dispepsia, radang tenggorokan, hingga diabetes.

Kepala BLKK DIY dr Woro Umi Ratih mengatakan konsumsi makanan berlebihan saat momen Lebaran bisa menjadi penyebab munculnya beberapa penyakit yang bersifat degeneratif.

"Paling banyak yang kami cek itu Diabetes, Hipertensi, Asam Urat dan Kolesterol. Seminggu setelah Lebaran akan muncul biasanya dan banyak yang mengecek dan ditemukan," ungkapnya pada wartawan usai Forum Konsultasi Publik.

dr Woro menghimbau masyarakat DIY untuk memperhatikan asupan dan pola makan pada masa libur Lebaran nanti. Selain itu harus pula diimbangi dengan olahraga.

"Ini memang menjadi penyakit yang rutin muncul setiap tahun setelah Lebaran. Di sisi lain kami juga berharap masyarakat untuk tidak takut cek kesehatan, agar penyakit bisa terdeteksi sejak awal, jangan menunggu ada gejala," katanya.

BLKK DIY sendiri mengungkap penyakit degeneratif di DIY masih mendominasi dari tahun ke tahun. Rentang usia penderita pun semakin muda, misalnya Diabetes yang kini ditemukan pada warga berusia 20-an tahun.

"Diabetes, biasanya terkait pola makan. Dari yang cek up, kami tangani masih muda tapi punya gejala," 

"Tren usia 30-an sudah kena bahkan ada yang 20 tahun. Kalau tak diterapi tepat maka bisa dampak komplikasi nantinya lebih buruk. Kami edukasi cek up jangan tunggu tua tapi sejak muda, agar ketahuan lebih dini bisa ditangani dengan baik," katanya.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment