News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Tingkatkan Ekonomi dari Sektor Perikanan, perlu Sistem Digitalisasi

Tingkatkan Ekonomi dari Sektor Perikanan, perlu Sistem Digitalisasi




Rembang - Kabupaten Rembang memiliki ekspansi kredit perbankan untuk sektor perikanan mencapai 1,8 Triliun Rupiah pada 2020. Ekspansi usaha perikanan yang didukung perbankan terbuka lebar dengan dukungan sumber daya alam berupa garis pantai rembang sepanjang 62 km. 

Hal tersebut dikatakan oleh Wakil Ketua Dewan DPRD Kabupaten Rembang, Ridwan dalam webinar literasi digital dengan tema “Teknologi Digital untuk Budidaya Perikanan Rembang” yang digelar Kementerian Kominfo dan Debindo bagi warga Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada 22 Juli 2021.

Ridwan menyatakan, sektor pertanian, kehutanan, perikanan menyumbang 26 persen dari Total PDRB (4,9 Triliun Rupiah). Hasil produksi perikanan tangkap mendominasi dengan nilai lebih dari 800 miliar rupiah. Sedangkan hasil produksi perikanan budidaya (tambak, kolam, keramba) tumbuh berkembang dengan nilai lebih dari 300 miliar rupiah.

Kabupaten Rembang kini juga sedang mengambangkan kawasan industri Rembang yang mendukung sektor perikanan yaitu industri menengah kawasan peruntukan industri, di sepanjang koridor Jalan Pantura Kabupaten Rembang seluas kurang lebih 8.864 Ha. 

Kawasan peruntukan industri pengolahan perikanan kelautan di wilayah pesisir Kabupaten Rembang meliputi Kecamatan Kaliori, Rembang, Lasem, Kragan dan Sarang. Kawasan peruntukan industri pengolahan perikanan kelautan di wilayah pesisir Kabupaten Rembang meliputi: Kecamatan Gunem, Sale, Pamotan, Sedan, Kragan, Sarang , Sluke, Pancur, Rembang, Lasem, Sumber, Kaliori, Sulang dan Bulu.

Sedangkan Industri Kecil dan Mikro, peruntukan klaster olahan perikanan meliputi : Kecamatan Kaliori, Rembang, Lasem, Sluke, Kragan dan Sarang.

“Kendala perikanan tangkap yakni produktivitas tangkapan ikan di dunia semakin menurun sekitar 0,1 persen per tahun,” katanya. 

Daerah penangkapan ikan serta infrastruktur yang terbatas menghambat optimalisasi hasil perikanan di Rembang. Biaya operasional (tenaga, perbekalan, bbm, es pendingin, dan lainnya) tangkap ikan yang tinggi.
Perikanan budidaya sebagai dinamisator, lantaran produktivitas budidaya ikan di dunia mengalami kenaikan tiap tahunnya atau 5,4 persen per tahun.

Adapun kendala yang dihadapi yakni biaya operasional, waktu, dan resiko budidaya ikan yang lebih rendah. “Budidaya ikan merupakan kunci stabilitas dan dinamisator perikanan Rembang. Komplemen budidaya ikan juga merupakan pendukung dari aktivitas perikanan tangkap,” kata dia.

Menurutnya, digitalisasi adalah usaha transformasi sistem dari yang sifatnya non-digital ke digital. Semua hal dengan ukuran nominal tertentu (sumber daya, jarak, ruang, waktu) diubah dan disusun dalam angka dan disajikan kepada semua yang berkepentingan.

“Digitalisasi berperan penting dalam menghubungkan ruang tata produksi, tata niaga, dan akses dalam sektor perikanan, yang selama ini “berjarak”, dan menjadi kendala bagi optimalisasi sistem perikanan di Kabupaten Rembang,” tuturnya. 

Narasumber lainnya, Dosen Institute Pesantren Mathali'ul Falah, Isyrokh Fuaidi mengatakan pengguna platform digital harus mempunyai keamanan digital untuk melindungi data digital. Sebab penjahat bisa mengajukan pinjaman online dengan data-data yang sudah bocor.

Data telepon juga bisa digunakan untuk membobol akun medsos atau aplikasi lain seperti Gopay atau Ovo. “Kita butuh wawasan digital, tidak cukup hanya cakap mengoperasikan alat dan gadget, tetapi juga harus mampu memanfaatkan teknologi digital dengan aman, sehat dan positif,” katanya. 

Literasi digital menjadi kebutuhan setiap orang, dimulai dari diri sendiri dan masyarakat sekitar. Era digital, mau tidak mau harus bersikap adaptif dengan perkembangan teknologi. “Manfaatkan teknologi untuk kemajuan usaha: budidaya ikan, siapkan diri menyambut Society 5.0,” ucapnya. 

Dipandu moderator Fernand Tampubolon, webinar kali ini juga menghadirkan narasumber I Gusti Putu Agung Widya Goca (Dosen FEB UNR Bali), Muhammat Taufik Saputra, dan Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Rosaliana Intan Pitaloka, selaku key opinion leader. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment