News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Minat Baca Rendah, Ini yang Perlu Dilakukan Pemerintah dan Sekolah

Minat Baca Rendah, Ini yang Perlu Dilakukan Pemerintah dan Sekolah




Kota Semarang - Unesco pada 2016 lalu, melakukan survey terhadap 61 negara di seluruh dunia. Hasilnya minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen dan menempati peringkat 60. Artinya dari 1.000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca. 

Hal tersebut dikatakan oleh Dosen Ilmu Administrasi FISIP Unhas Makassar, Hasniati dalam webinar literasi digital dengan tema “Bangkitkan Budaya Membaca Generasi Muda di Era Digital” yang digelar Kementerian Kominfo dan Debindo bagi warga Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa (5/10/2021).

Selain itu, lanjut Hasniati, dari Perpusnas 16 Januari 2021 silam diketahui aktivitas baca masyarakat Indonesia rata-rata hanya 9 jam 52 menit per pekan. 

Hasniati menyebut ada beberapa penyebab kenapa minat baca masyarakat Indonesia itu rendah. Di antaranya karena kurang dibiasakan sejak kecil, kurang akses untuk membaca terutama di daerah terpencil. 

“Buku yang tersedia di perpustakaan kurang menarik, maupun masyarakat kurang peduli untuk mendirikan taman bacaan,” kata dia. 

Untuk meningkatkan minat baca masyarakat, menurut Hasniati, perlu adanya perhatian dari berbagai pihak. Salah satunya adalah upaya orang tua untuk menumbuhkan minat kepada baca anak. Orang tua bisa memberikan pemahaman pentingnya membaca bagi anak sejak kecil dengan membiasakan membacakan buku cerita. Kemudian membelikan buku-buku yang menarik, membiarkan anak memilih buku yang ia sukai. 

“Bisa juga dengan sering mengajak ke perpustakaan atau toko buku. Kemudian meminta anak menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya. Lalu membuat aktivitas membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan, dan memberikan pujian ketika selesai membaca,” ujarnya. 

Selain itu juga perlu peran dari pemerintah, dengan memberikan pembinaan kepada semua jenis perpustakaan, memberi bantuan koleksi perpustakaan. Membuat layanan perpustakaan keliling, memfasilitas gerakan-gerakan peningkatan minat baca. “Lalu memberikan penghargaan kepada penggerak minat baca masyarakat,” jelasnya. 

Menurut Hasniati, peran sekolah juga sangat penting untuk meningkatkan minat baca. Sekolah bisa memulainya dengan cara menambah koleksi buku yang menarik bagi anak, mengundang pustakwan untuk promosi minat baca, maupun mengadakan lomba minat baca. 

“Bisa juga dengan menjalin kerjasama perpustakaan antar sekolah. Kepada siswa juga bisa diceritakan banyaknya orang sukses sebagai hasil dari banyak membaca,” kata dia.

Sekolah juga bisa memberikan waktu khusus untuk membaca di perpustakaan, bekerjasama dengan penerbit untuk menyelenggakaran pameran buku. 

Narasumber lainnya, Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Farid Fitriyadi mengatakan transformasi digital yang terjadi saat ini membuat akses informasi bisa lebih mudah. 

Hal itu berdampak pada keterbiasaan membaca cepat tidak mendalam, dan cepat membagikan bacaan atau informasi tanpa dicari tahu terlebih dahulu kebenarannya. 

Fitriyadi mengatakan, cakap bermedia digital pun cukup penting untuk dimiliki para penggunannya. “Kita tidak cukup hanya mampu mengoperasikan berbagai perangkat teknologi informasi komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi juga harus bisa mengoptimalkan penggunaannya untuk sebesar-besar manfaat bagi diri sendiri dan orang lain,” ucapnya. 

Dipandu moderator Bobby Aulia, webinar kali ini juga menghadirkan narasumber I G Ananta Wijaya Putra (Ketua Persatuan Alumni GMNI Kota Semarang), Arif Hidayat (Dosen Universitas Negeri Semarang), Stephanie Cecillia, selaku key opinion leader. (*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment