News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Personal Selling dengan Digitalisasi Diri di Ruang Digital

Personal Selling dengan Digitalisasi Diri di Ruang Digital




Sukoharjo - Generasi milenial menjadi salah satu kelompok yang berpengaruh di dunia digital. Mereka adalah generasi yang sudah berkenalan dengan teknologi sejak dini dan diprediksi dapat menjadi pemimpin dalam perubahan. 

Hal tersebut menjadi tema diskusi webinar literasi digital yang dihelat Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (9/7/2021). Literasi digital merupakan program pemerintah Indonesia dalam mendukung percepatan transformasi digital untuk menciptakan sumber daya manusia yang cakap digital.

Diskusi virtual kali ini dipandu oleh Mafin Rizqi serta pemateri dari berbagai bidang. Mereka adalah Femikhirana Widjaja (digital marketing strategist), Khelmy K. Pribady (project coordination Indonesia Knowledge Hub), Gilang Jiwana Adikara (dosen Universitas Negeri Yogyakarta), Muhammat Taufik Saputra (fasilitator nasional), serta key opinion leader Nadia Venerabella Arin (TV presenter). 

Para narasumber masing-masing juga membawakan materi dalam pilar literasi digital yang meliputi digital culture, digital skill, digital ethics, dan digital safety.

Bicara mengenai digital skill pada transformasi digital, Femikhirana Widjaja berpendapat, digitalisasi diri wajib ditumbuhkan kepada generasi milenial. Karena digital movement ini pelakunya milenial, dengan market behavior atau perilaku yang berorientasi pada penjualan dan selling point-nya adalah diri mereka sendiri. 

"Maksudnya, individu didorong memiliki nilai jual, dalam hal ini adalah kemampuan yang mereka miliki. Kalau dalam bisnis itu kita amati produk yang ada di pasar mirip-mirip, baik dari harga maupun manfaatnya, nyaris tidak ada yang baru, lalu apa yang menjadi pembeda? Sudah jelas penjual yang berbeda. Konsumen yang memilih dan mencari penjual, dan itu didasari alasan personal pembeli untuk mengambil keputusan mau beli kepada siapa. Dengan kata lain, kitalah yang dijual, maka kitalah yang harus berbeda," jelas Femikhirana.

Poinnya, terang Femikhirana, digitalisasi adalah usaha mempromosikan diri atau personal selling sebagai pribadi yang unik, berbeda, dan menginspirasi di media digital. Sebab digitalisasi diri yang tepat akan membawa individu sebagai pemimpin. 

"Tipsnya untuk personal selling adalah dengan 'smooth' marketing. Show yourself, menunjukkan diri dengan berani tampil jadi langkah awalnya. Make your online and offline community, artinya kita harus terlibat dalam komunitas baik luring dan daring karena kelompok atau komunitas dapat menjadi wadah personal selling dan wadah usaha. Organize your programmes and content yaitu aktif posting dan memproduksi konten yang variatif," jelasnya. 

Poin selanjutnya adalah observe and maintain your community, menjaga relasi dan interaksi di dalam komunitas dan mengevaluasinya. Time tabling your evaluation atau mengevaluasi kegiatan yang dilakukan di media digital baik dalam penyampaian pesan, posting, dan promosi. Dan terakhir, have to be informative and creative consistently, selalu kreatif dalam membuat konten yang menarik dan konsisten dalam memposting informasi. 

"Ada beberapa keterampilan digital untuk digitalisasi diri. Yaitu keterampilan digital writing, mampu menguasai karakteristik platform digital, tahu keterampilan editing sederhana, tahu dasar search engine optimization, dan penjadwalan posting," imbuhnya.

Di sisi lain, dari sisi digital culture, Muhammat Taufik Saputra mengatakan di era digital setiap pengguna platform digital dapat menjadi pemimpin dengan menjunjung dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. 

"Digital culture menjadi prasyarat transformasi digital di mana budaya berdigital bukan sebatas mampu mengakses teknologi tetapi lebih kepada mengubah pola pikir dan bagaimana beradaptasi," jelas Taufik.

Interaksi di dunia digital, kata Taufik, tidak berbeda dengan interaksi saat di dunia nyata. Indonesia yang terdiri masyarakat multikultural tentu mengandung perbedaan di dalamnya, dan untuk melebur dalam kesatuan nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika menjadi kuncinya. Di sana sudah terangkum apa dan bagaimana budaya dan identitas negara dibentuk, dan sebagai generasi penerus tentu harus mewarisinya. 

"Pancasila mengajarkan kita pada cinta kasih, yang menjadi nilai utama untuk menghargai perbedaan. Selain itu nilai kesetaraan, memperlakukan sesama manusia dengan sama baiknya berperilaku pada diri sendiri. Harmoni, mengutamakan kepentingan bersama. Kemudian demokratis, dengan memberi kesempatan orang lain untuk berekspresi. Terakhir adalah gotong royong yang menjadi ciri masyarakat kita. Bagaimana membangun ruang digital yang aman dan etis bagi setiap pengguna," papar Taufik.(*)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment