News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Pakar Epidemologi UGM : Yogya Masih Zona Kuning Covid-19

Pakar Epidemologi UGM : Yogya Masih Zona Kuning Covid-19



WARTAJOGJA.ID : Pakar Epidemologi yang juga Koordinator Tim Respons COVID-19 Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad menuturkan secara global kondisi pandemi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini masuk kategori zona kuning.

Zonasi Covid-19 di Indonesia terbagi menjadi empat tingkatan yakni merah, orange, kuning, dan hijau.

“Untuk DIY secara keseluruhan (tingkat provinsi) termasuk ke dalam zona kuning atau resiko rendah (penularan),” ujar Riris Jumat 19 Juni 2020.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 DIY tengah membahas pemetaan zonasi itu untuk kebijakan penanganan pencegahan dan pedoman masyarakat berperilaku. Mana hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Zonasi untuk DIY ini dinilai perlu dipetakan jelas jelang berakhirnya masa tanggap darurat Covid-19 DIY akhir Juni ini.


Riris menuturkan, zona kuning untuk DIY itu mengekerucut setelah pihaknya mengimplementasikan 14 indikator kesehatan yang dirumuskan Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19.

Belasan indikator itu digunakan untuk memetakan zonasi kasus Covid-19 suatu wilayah, termasuk kesiapannya menyambut normal baru.

Riris menuturkan, untuk DIY pihaknya juga telah mencermati granulality atau pertumbuhan detil kasus yang terjadi di lima kabupaten/kota di DIY sejak wabah merebak akhir Maret lalu. Yang kemudian mengantar pada kesimpulan zonasi.

Namun Riris mengaku belum bisa merinci mana kabupaten/kota di DIY yang masuk zona merah, orange, kuning, dan hijau.

Hanya saja, jika berkaca dari penelurusan granulality yang dilakukan, ujar dia, zona hijau Covid-19 di DIY mungkin bisa mengambil contoh pada pertumbuhan kasus kualitatif di Kabupaten Kulon Progo. Sedangkan zona merah bisa melihat pergerakan kasus di Kabupaten Sleman.

Riris mengingatkan, untuk penentuan zonasi menggunakan indikator kesehatan yang ada itu, lebih aplicable diterapkan di tingkat provinsi. Bukan zonasi per kabupaten/kota.

Sebab karakter DIY berbeda dengan Jawa Tengah. Yang mana masyarakat di tiap kabupaten tidak terlalu intens melakukan pergerakan antar wilayah.  

Riris menyebut karakater untuk DIY lebih mirip DKI Jakarta yang masyarakat antar kabupaten/kotanya lebih intens melakukan mobilitas antar wilayah.

Sehingga, ujar Riris, menjadi sulit ketika indikator itu diaplikasikan mengukur zona di tingkat kabupaten.

Misalnya di Kabupaten Kulon Progo yang kasus positifnya sedikit. Tidak bisa diukur dengan indikator yang mengatur soal penurunan jumlah kasus positif selama dua minggu sejak puncak pandemi harus 50% dan bahkan lebih.

“(Provinsi) DIY itu bisa dianggap sebagai satuan epidomologi yang di dalamnya terdapat sub-sub populasi (kabupaten/kota),” ujarnya.

(Nes/Lip)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a comment