News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Bagaimana Klaster Covid-19 Indogrosir Sleman Terbentuk?

Bagaimana Klaster Covid-19 Indogrosir Sleman Terbentuk?




WARTAJOGJA.ID : Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah DIY, sepekan terakhir memusatkan perhatiannya pada kasus penularan virus yang terjadi di swalayan Indogrosir Sleman.

Hingga Rabu 13 Mei 2020, tercatat 16 karyawan swalayan itu positif dan ribuan pengunjung harus menjalani rapid test massal yang digelar Pemda Sleman 12-14 Mei 2020.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, pemerintah Kabupaten Sleman kini dalam kondisi waspada karena khawatir terjadi ledakan besar kasus paparan dari Indogrosir yang kini menjadi satu klaster penularan skala besar.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan sampai saat ini, gugus tugas belum berhasil merunut bagaimana awal mula seorang karyawan Indogrosir tertular virus itu.

Yang kemudian menulari karyawan lain dan membuat ribuan pengunjung harus menjalani rapid test massal pada 12-14 Mei 2020 ini.

“Belum ditemukan, bagaimana awal mula kasus pertama Indogrosir itu tertular,” ujar Sri Muslimatun Rabu 13 Mei 2020.

Sri menilai sulitnya melacak kasus Indogrosir karena kasus pertama yang menimpa karyawan swalayan itu, tidak mau terbuka. 

Kasus pertama Indogrosir yang disebut sebagai kasus 79 dinilai tak terbuka soal riwayat kontaknya. Ketika karyawan itu mengetehui dirinya positif ia memilih bungkam karena khawatir dikucilkan lingkungannya.

“Kami sudah berupaya menggali informasi darei pasien pertama Indogrosir itu, belum mendapatkan informasi dia tertular dari mana,” ujar Sri.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengakui sudah cukup sulit saat ini melacak asal muasal kasus Indogrosir Sleman itu.

“Kasus 79 (karyawan Indogrosir pertama yang tertular) ternyata tidak punya riwayat bepergian, dan juga tidak punya riwayat kontak dengan kasus terkonfirmasi positif,” ujar Joko.

Dengan dua temuan itu, ujar Joko, analisis pihaknya kasus 79 paling besar kemungkinannya tertular di tempat kerjanya yakni Indogrosir.


Entah dari teman kerja atau bahkan dari pengunjung. Sehingga Pemda Sleman memutuskan melakukan rapid test untuk seluruh karyawan yang kemudian disusul dengan rapid test untuk pengunjung swalayan itu periode 19 April-4 Mei 2020.

Namun Joko tak mau berspekulasi. Apakah kasus Indogrosir memiliki benang merah dengan tiga klaster besar di DIY sebelumnya. 

Yakni klaster Jemaah Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Bogor Jawa Barat, klaster Jamaah Tabligh Gunungkidul dan Jamaah Tabligh Sleman.

“Informasi yang kami peroleh, salah satu karyawan yang membantu mengangkat kasus 79 saat pingsan di tempat kerjanya merupakan kasus yang terkonfirmasi dari klaster gereja. Namun belum jelas, siapa menulari siapa dalam hal ini,” ujar Joko.

Joko tak menampik kronologis kasus Indogrosir yang dilaporkan Kepolisian Sektor Mlati Sleman medio akhri April lalu.

Dalam laporan kronologis kepolisian itu, menyebut pada hari Sabtu tanggal 25 April 2020 sekitar pukul 14.15 WIB, ada salah satu karyawan Indogrosir atas nama YA (bagian pengecekan barang) pingsan di dalam area Indogrosir (di bagian kasir). 

Belakangan Joko mengkoreksi, kejadian pingsan karyawan Indogrosir yang diketahui sebagai kasus 79 itu tanggal 18 April 2020, bukan 25 April dan yang bersangkutan diumumkan positif terpapar virus tanggal 24 April 2020.

Saat karyawan Indogrosir itu pingsan, ada tiga karyawan lain yang melihat kejadian itu dari bagian keamanan dan pengecekan barang berusaha membantu dengan membopongnya keluar area Indogrosir. 

Karyawan yang pingsan itu lantas di masukkan ke dalam mobil untuk dibawa ke Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Saat itu ikut berada di dalam mobil karyawan yang pingsan itu empat karyawan lain, termasuk seorang manager training. 

Pada pukul 20.00 WIB karyawan yang pingsan itu diperbolehkan pulang oleh pihak RSA UGM dan disarankan untuk istirahat dan mengisolasi diri di rumahnya.

Empat karyawan yang mengantar pingsan ke rumah sakit itu lantas mengantar karyawan yang pingsan itu pulang ke rumahnya di daerah Janti Depok Barat.

Keesokan harinya, tujuh karyawan Indogrosir Sleman yang kontak langsung dengan karyawan yang pingsan itu oleh pihak management diinstruksikan cek darah di Puskesmas Mlati I Sleman.

Pada hari Sabtu tanggal 2 Mei 2020 dan hasil cek laboratorium diketahui tiga karyawan yang mengantar hasilnya non reaktif dan lima orang reaktif. 

Sehingga keseluruhan karyawan yang menolong karyawan pingsan itu melaksanakan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Dari total 338 karyawan Indogrosir yang menjalani rapid test pada tanggal 2,4, dan 5 Mei 2020, sebanyak 57 karyawan hasilnya reaktif. 

Sedang rapid test tahap pertama untuk pengunjung Indogrosir pad atanggal 12 Mei 2020, dari 467 peserta sebantak 20 orang reaktif. Mereka yang reaktif sebagian besar langsung menjalani karantina di Asrama Haji Sleman.

(Jat/Bun)


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a comment