News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Menbud Fadli Zon Sebut Diplomasi Budaya Jadi Jembatan Perdamaian dan Perkuat Kerja Sama Indonesia-Pasifik

Menbud Fadli Zon Sebut Diplomasi Budaya Jadi Jembatan Perdamaian dan Perkuat Kerja Sama Indonesia-Pasifik

                  Dok. X @fadlizon

WARTAJOGJA.ID : ​Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa diplomasi budaya merupakan kekuatan lunak (soft power) yang sangat efektif untuk menjembatani hubungan, menjaga perdamaian, serta memperkuat kerja sama strategis antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Pasifik. 

Hal tersebut disampaikannya dalam seminar internasional Indonesia-Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026 yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Rabu (15/10/2026). Fadli menilai bahwa kedekatan sejarah, identitas masyarakat kepulauan, dan kesamaan tradisi menjadi modal sosial yang kuat untuk merajut persaudaraan di kawasan tersebut.

​"Budaya ini adalah soft power, bukan hard power. Kalau hard power itu militer. Tapi kalau soft power ini budaya juga, seperti dikatakan oleh Joseph Nye sejak tahun 1990-an, justru bisa menjadi jembatan untuk perdamaian, untuk keamanan, untuk kerja sama di bidang apa pun, baik ekonomi, politik, sosial budaya, dan sebagainya," ujar Fadli saat ditemui di sela acara seminar internasional tersebut.

​Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Indonesia dan negara-negara Pasifik memiliki akar sejarah serta kedekatan budaya yang mendalam, seperti tradisi bakar batu di Papua hingga keberadaan diaspora Jawa yang cukup besar di Kaledonia Baru dan Fiji. Menurut Fadli, perjumpaan langsung melalui dialog budaya sangat penting untuk meredam kesalahpahaman yang kerap timbul akibat minimnya komunikasi. Melalui program residensi tahun ini, Kementerian Kebudayaan berupaya mengambil inisiatif strategis untuk mempererat silaturahim antarbangsa.

​Program IPCC 2026 sendiri merupakan kelanjutan dari inisiatif diplomasi tahun sebelumnya yang berfokus pada sinergi kebudayaan. Jika tahun lalu kegiatan banyak melibatkan para menteri dan seniman, kali ini fokus diarahkan pada program residensi yang menghadirkan sebanyak 47 seniman dan praktisi budaya dari delapan negara Pasifik serta sembilan provinsi di Indonesia—meliputi Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi, dengan Yogyakarta sebagai tuan rumah. Selama sepuluh hari, para peserta berbaur langsung dengan lingkungan kampus dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam bidang seni musik dan kriya.

​"Kita harapkan ini menjadi bagian yang penting dalam merajut hubungan kerja sama Indonesia dengan negara-negara Pasifik. Sering kali kita lupa bahwa kita ini juga merupakan bagian dari Pasifik," ungkap Fadli. Ia menambahkan, kolaborasi musik yang ditampilkan para peserta membuktikan bahwa keberagaman tradisi dapat melebur menjadi harmoni yang indah. Melalui program ini, para peserta dari kawasan Pasifik diharapkan tidak hanya mengenal kebudayaan Indonesia lebih dekat, tetapi juga bertindak sebagai duta budaya sekembalinya ke negara asal mereka.

​Selain mempererat hubungan antarmasyarakat, Menteri Kebudayaan juga menyoroti pentingnya orientasi ekonomi dalam sektor kebudayaan. Berdasarkan data nasional, industri budaya dan kreatif Indonesia pada tahun 2024 menyumbang sekitar Rp1.611 triliun atau setara dengan 7,28 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, serta menyerap 27,4 juta tenaga kerja pada 2025. Oleh karena itu, Fadli mendorong agar kolaborasi ini turut memperluas jaringan profesional dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi para pelaku seni, sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pemilik tradisi.

​Dalam kesempatan yang sama, Fadli turut mengingatkan adanya ancaman nyata perubahan iklim terhadap kelestarian warisan budaya di wilayah kepulauan Pasifik, seperti kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem. Kendati demikian, ia optimis bahwa kearifan lokal masyarakat kepulauan—baik dalam hal navigasi maritim, pengelolaan ekosistem pesisir, maupun arsitektur berkelanjutan—dapat menjadi solusi penting dalam menghadapi krisis lingkungan. Dengan memperkuat kerja sama riset dan dokumentasi antar-generasi, pelestarian warisan budaya diharapkan dapat berjalan selaras dengan upaya mitigasi lingkungan demi memperkuat ketahanan masyarakat di kawasan Asia-Pasifik.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Post a Comment